Cari Benur Bandeng

Banda Aceh—Sebuah lembaga swadaya masyarakat di Aceh, Jaringan KUALA menyatakan kondisi kehidupan nelayan di provinsi itu saat ini sedang mengalami masa sulit karena beberapa faktor sebagai dampak perubahan iklim.

“Kehidupan nelayan Aceh sekarang sangat sulit, karena sulitnya akses BBM dengan harga terjangkau, selain kondisi cuaca saat melaut yang berubah-rubah akibat dari perubahan iklim,” kata program officer Jaringan KUALA Marzuki di Banda Aceh, Senin (30/4).

Dampak perubahan iklim itu telah mengakibatkan jumlah tangkapan ikan semakin sulit diprediksi, wilayah penangkapan yang semakin tidak jelas atau bahkan semakin jauh dan sempit, kata dia menambahkan.

Di pihak lain, Marzuki juga menyesalkan tindakan kekerasan yang dilakukan oknum TNI AL terhadap nelayan di kawasan Peudada, Kabupaten Bireuen Provinsi Aceh.

Disebutkan, seorang nelayan tradisional di PPI Peudada Kabupaten Bireuen dipukul oknum Marinir TNI AL pada 29 April 2012. Kemudian terjadi aksi massa yang membakar speedboat serta pelemparan pos TNI AL di kawasan Peudada tersebut.

“Kami menyesalkan insiden itu. Kesulitan dialami nelayan itu ditambah lagi dengan pemerasan dan kekerasan terhadap mereka yang dilakukan oknum Marinir TNI AL,” kata dia menjelaskan.

Seharusnya, ia mengatakan oknum TNI AL sebagai alat negara tidak melakukan kekerasan karena fungsinya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Tapi, sebaliknya masih ada diantara oknum tersebut yang memeras dan melakukan kekerasan terhadap warga.

“Insiden pemukulan terhadap nelayan itu harus di evaluasi dan ditindaklanjuti pihak berwajib, sehingga penegakan hukum benar-benar dilaksanakan oleh negara tanpa pandang bulu,” kata Sekjen Jaringan KUALA Afijal menambahkan.

Panglima laot lhok/lembaga adat laut Peudada Aiyub Alibasyah mengharapkan kepada pihak berwenang agar apabila Pos Lanal di PPI Peudada tidak berfungsi maka sebaiknya dipindahkan sehingga tidak menimbulkan masalah baru dimasa mendatang.[ant]

Komentar