Ornament yang diproduksi Guntomara Group Banda Aceh menghiasi masjid-masjid di tanah air. Usaha seni dan kaligrafi ini menghasilkan pundi rupiah melimpah.

Di lahan seluas satu hektare di Jalan T Nyak Arief, Lamgugop, Banda Aceh, berdiri sebuah tenda dan rumah teduh bagi pekerja pabrik pembuatan ornamentasi GRC milik Guntomara Group. Siang itu, beberapa pekerja terlihat sibuk mencetak adonan semen yang telah dicampurkan serbuk fiber untuk kemudian dijadikan ornament pendukung ukiran-ukiran masjid.

Dalam proses pembuatan, pekerja terlebih dulu mengaduk semen yang kemudian menuangkan ke cetakan. Terdapat tiga lapisan semen pada setiap cetakan. Lapisan pertama diisi dengan lapisan halus, lapisan kedua juga diisi dengan semen, lalu pada lapisan ketiga pekerja menambahkan serbuk fiber untuk memperkuat konstruksi bahan.

Setiap cetakan yang sudah jadi, dijemur dalam waktu satu hari. Pada esoknya diamplas dan kemudian dikirimkan pada masjid yang sedang dikerjakan oleh Guntomara Group.

Awalnya, Guntomara hanya merupakan sebuah lembaga seni kaligrafi yang didirikan oleh Allahyarham Said Abdullah, seorang seniman Islam di Aceh pada tahun 1948. “Guntomara ini sebenarnya lembaga keluarga yang bergerak di bidang seni dan kaligrafi. Guntomara itu didirikan sama orang tua kami almarhum Said Ali Abdullah. Beliau punya anak, 5 putra dan 5 putri, tapi yang aktif mengembangkan lembaga Guntomara Group ini 4 orang,” jelas Said Husain, putra bungsu Said Ali Abdullah kepada Pikiran Merdeka, Jumat (27/10).

Kemudian, pada awal 2010 muncul sebuah ide dari putra bungsunya, Said Husein untuk mengembangkan Guntomara Group dalam produksi desain ornamental masjid dan kaligrafi pada berbagai media seperti tembaga, kuningan, kayu, GRC, dan lainnya.

Pengembangan Guntomara memproduksi ornament ukiran Islam bermula dari ketertarikan Husain di bidang desain dan dipadukan dengan pengalamannya mengembangkan lembaga tersebut bersama keluarganya. “Karena orang tua dan abang-abang dulu sering membuat kaligrafi, saya ikut tertarik. Jadi dengan basic saya arsitek, saya mencoba menggabungkannya. Di sini, dari sebuah lembaga kaligrafi ini saya mencoba mengembangkan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang interior dan eksterior, khususnya di bidang islamic,” cerita pria asal Sigli ini.

Guntomara Ornament mempunyai dua tempat produksi dalam pengembangan bisnisnya. “Kita punya dua pabrik utama, satu di Lamgugop dan satu lagi di Kajhu,” kata dia.
Bagi Husein, bisnis ini memiliki peluang yang sangat besar untuk berkembang pesat. Terlebih lagi dia melihat kondisi masyarakat Aceh yang sangat kental dengan budaya-budaya Islam pada setiap ukiran-ukiran bangunan tertentu.

“Kita banyak bergerak di bagian disain masjid dan bangunan-bangunan islami, apalagi di Aceh kan banyak bangunan-bangunan yang membutuhkan desain interior yang islami. Saya lihat hal ini punya potensi, karena Aceh punya sejarah Islam yang kuat dengan tingkat kemajuan dan selera masyarakat yang meningkat. Jadi banyak permintaan,” paparnya.

Selain itu, kebanyakan masyarakat Aceh juga punya keinginan yang kuat untuk mengindahkan rumah ibadah. Hal itu memberi peluang lebih bagi usaha semacam ini di Aceh.

Perkembangan seni ukir yang telah ada sejak lama di Aceh menjadi bekal pengetahuan para pekerja di Guntomara Group. “Di sini kita coba mencanangkan hal itu, bahwa kita adalah ahlinya, jangan nanti salah arah. Karena ornament itu kan banyak, jangan sampai nanti masjid dibubuhi oleh ornament-ornament non-Islam. Bisa saja nanti ornament gereja masuk ke mesjid. Walaupun cantik misalnya, tapi itu bukan punya kita. Kita punya sejarahnya, kita juga punya referensi sendiri untuk hal itu,” ujar Husein.

Dalam perjalanannya, CV Guntomara Group juga berperan dalam beberapa pembangunan ornament penting di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Salah satunya adalah ukiran pintu Ka’bah yang ada pada bagian depan mimbar masjid kebanggan masyarakat Aceh itu. “Almarhum abang saya pada tahun 2015 diminta untuk mengganti ukiran pintu ka’bah yang ada di masjid raya,” katanya.

Tak hanya itu, karya-karya Guntomara Ornament juga menghiasi beberapa Masjid Agung yang ada di Aceh, seperti Masjid Oman, Mesjid Agung Ulee Glee, Masjid Agung Jantho, dan Mesjid Agung Sabang yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan.

Dia berujar, “Kita ambil proyek masjid-masjid besar dulu, bukan berarti tidak menghiraukan masjid-masjid kecil. Namun kan masjid besar ini banyak menguras tenaga, kita butuh waktu lama sehingga kita harus menyiapkan itu dulu.”

Untuk mengembangkan bisnisnya, Guntomara juga bekerja sama dengan pihak pemerintah. “Kita dipanggil oleh pemerintah untuk bekerja memperindah ornament-ornamen masjid. Biasanya, ini hanya masjid-masjid yang mendapat kucuran dana Otsus. Kita juga sering dipanggil oleh pengurus masjid sebagai konsultan untuk mendesain dan membangun ornament ukiran masjid,” terang Husein.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar, Guntomara memperkerjakan ratusan pekerja dari Aceh dan luar Aceh. “Pekerjanya dari seluruh Aceh ada. Banyak seniman ukir yang ingin bekerja bersama kita, cuma sekarang kita sudah terlalu banyak yang kita tampung di sini,” tambahnya.

Husein menjelaskan, untuk pembuatan satu proyek ornament masjid membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan sampai bertahun-tahun. “Lama, itu tergantung dari masjidnya sendiri. Misalnya mereka mempercayakan pembangunan kubah saja, itu butuh waktu 3 sampai 6 bulan.”

Bisnis seni ukir ornament masjid ini memang menguntungkan. Dalam satu proyek saja, pihaknya dapat meraup penghasilan jutaan bahkan milliaran rupiah. “Pendapatannya relatif, biasanya untuk pembangunan satu proyek itu biayanya Rp30 juta hingga Rp300 juta, bahkan ada yang sampai Rp3 milliar. Tergantung kesangupan masjid. Tapi, biasanya kita bekerja berkelanjutan. Dari tiangnya, mihrabnya hingga kubahnya,” ungkap dia.

Saat ini, ornament yang diproduksi Guntomara Group tidak saja menghiasi masjid-masjid di Aceh, tapi juga tersebar di berbagai pelosok negeri. Tidak saja bernilai seni, tapi kental dengan nuansa islami.[]

Komentar