PM, Bireuen—Pemilik toko ponsel Mitra di jalan Ramai Kota Bireuen, Rikky, 42, merasa kecewa terhadap oknum polisi Wilayatul Hisabah (WH) setempat saat melakukan razia,  Rabu (17/5) sore kemarin.

Saat itu, menurut Rikky, toko ponselnya itu dijaga oleh isterinya, Mirna, 36, dan karyawannya, Ayu, 24, tiba-tiba datang sejumlah personil Wilyatul Hisbah sambil meminta isterinya dan keryawannya itu keluar dari toko.

Namun isteri dan karyawannya tak mau keluar, karena keduanya berpakaian sopan, terlebih tokonya itu merupakan tempat tinggalkan mereka. “Saat kejadian pertama, mereka datang ke toko tampa basa-basi, lalu menyuruh saya berdiri sambil meminta saya keluar dari toko. Tapi saya tak mau keluar, kerena saya anggap, pakaian yang saya kenakan itu masih dianggap wajar,” kata Mirna kepada Pikiran Merdeka, Kamis (17/5).

Satu anggota WH Bireuen langsung masuk ke dalam toko, meski sudah dilarang pemiliknya, bahkan mereka marah-marah sambil menujukan tangannya kearah Mirna. “Peristiwa itu terekam dalam CCTV, Anda bisa lihat di monitor,” lanjutnya.

Rikky, suami Mirna mengatakan, dirinya bukan tidak mendukung apa yang telah dilakukan oleh WH terkait razia yang dilakukan selama ini, bahkan dirinya sangat setuju apa yang telah dilakukan WH Bireuen selama ini.    “Saya sangat mendukung razia dan program WH Bireuen dengan menggelar razia selama ini, namun saya merasa kecewa, bila ada oknum-oknum WH yang tidak tahu prosudur dalam menjalankan tugasanya, apalagi mereka indentik dengan polisi Syariat Islam,” katanya.

Kadis Syariat Islam Bireuen, DR Saifullah S.Ag, M.Pd yang dihubungi Pikiran Merdeka, Kamis (17/5) melalui telepon salulernya, mengatakan, sejauh ini pihaknya sudah melakukan  himbauan baik malalui surat edaran, radio maupun pengemuman menual.

“Kami sudah pernah menghimbau, bahwa tidak boleh ada yang melanggar syariat Islam, bila ada yang melanggar langsung diambil, termasuk dalam keude maupun dalam toko, sebab toko itu tempat umum,” katanya.

Disinggung  adanya anggota WH Bireuen yang arogan dalam menjalankan tugasnya, Saifullah mengatakan, bukan arogam tapi menjalankan tugas. ”WH Bireuen ada prosudur. Bila duluan diberikan salam kepada pelanggar Syariat, nantinya para pelanggar Syariat Islam itu lari, tapi ini sudah sesuai prosudur,” pungkasnya.[jon]

Komentar