Oleh: Putra Hidayatullah
Setelah tiba di Kota Banda Aceh pada 2 Juli 2025, perjalanan Tim Gampong Film ke Lamsujen, Aceh Besar, tidak memakan waktu lama.
Melewati Lhoknga, terlihat pemandangan laut yang kemudian diikuti dengan lekuk jalan yang diapit hutan hijau yang menyejukkan mata.
Ini adalah titik akhir dari serangkaian perjalanan Gampong Film yang telah berlangsung hampir seminggu sambung menyambung berpindah dari satu titik ke titik lain di masing-masing kabupaten berbeda.
Memasuki Lamsujen terlihat bukit-bukit tinggi yang ada di hampir setiap sisi seperti memagari kampung dengan sawah-sawah yang hijau luas membentang.
Di sisi jalan terlihat air sungai mengalir tipis di sela-sela bebatuan dengan tanah di beberapa sisi terlihat kering.
Mobil berhenti tepat di depan meunasah. Kampung terlihat lengang. Hanya ada satu dua pria yang lalu lalang. Selebihnya adalah pekerja warung yang terlihat sepi.
Tidak lama kemudian bermunculan anak-anak kuliah yang sedang melakukan praktik kuliah pengabdian masyarakat di sana.
Dibantu mereka, bendera-bendera bertuliskan Aceh Film Festival terpasang. Jelang sore perangkat besi untuk layar utama juga dikeluarkan dari mobil barang.
Satu persatu besi itu dirakit. Karena sudah berkali-kali bongkar pasang, perakitan berjalan dengan mudah.
Tali-tali diikat menarik layar dari depan dan belakang biar kokoh melawan terpaan angin yang berembus dari arah sawah yang menguning.
Jelang magrib, orang-orang, terutama lelaki mulai terlihat. Mereka ternyata sebelumnya pergi ke kebun dan ke sawah.
“Setiap pagi dan sore harus ke sawah untuk mengusir burung pipit yang makin ganas melahap bulir padi. Kalau tidak dijaga bisa habis semua.” kata seorang warga.
Usai Salat Isya orang-orang mulai ramai. Ada ibu-ibu membuka lapak untuk berjualan gorengan. Warga terlihat berkerumun di sana sebelum kemudian duduk rapi terpisah laki-laki dan perempuan di atas terpal yang digelar di atas tanah berkerikil di hadapan layar.
Ada dua film saja yang diputar malam itu. Pertama adalah film Sandal Bupati yang bernuansa kocak dan mengundang tawa warga. Film ini berkisah tentang praktik korupsi yang dilakukan seorang bupati dengan menyalahgunakan kekuasaannya.
Usai film ini ada diskusi bersama pegiat budaya dan warga diiringi dengan tanya jawab terkait dengan isu korupsi.
Film lainnya adalah Senja Geunaseh Sayang yang diproduksi oleh Aceh Documentary dan berkisah tentang seorang ibu yang hidup di panti jompo tanpa ada yang menjenguk.
Beberapa penonton terlihat meneteskan air mata. Suasana semakin sendu ketika MC menyanyikan lagu Aceh tentang pengorbanan seorang ibu.
Jam menunjukkan pukul 11 malam. Setelah serangkaian kuis berhadiah, acara pemutaran diakhiri dengan foto bersama warga.
Ada percakapan sejenak dengan mereka yang berkenalan dan mengucapkan rasa terima kasih. Seorang bapak paruh baya berkata pelan,
“Jarang-jarang ada acara begini di kampung kami. Semoga lain kali bisa datang lagi.”
Tidak lama berselang, tim kembali bergerak ke arah layar untuk pembongkaran yang dibantu oleh pemuda-pemuda kampung yang terlihat lebih ramai di malam hari.
Acara di Lamsujen berlangsung dengan lancar dan menjadi titik penutup dari serangkaian perjalanan Gampong Film yang telah dimulai sejak tanggal 27 Juni 2025, menempuh lima kampung di lima kabupaten berbeda: Bireuen, Lhokseumawe, Takengon, Pidie, dan Aceh Besar.
Dari setiap kampung yang disinggahi, ada harapan dari warga agar program layar tancap seperti ini dapat kembali hadir, bahkan di titik-titik yang lebih luas, menjangkau lebih banyak kampung, lebih banyak mata yang menonton, dan lebih banyak hati yang disentuh oleh cerita-cerita yang memantik pengetahuan dan harapan. []
Belum ada komentar