Pancaran ceria terlihat dari raut wajah 332 orang pengungsi Rohingya di Aceh Utara, saat mereka dikabarkan menempati bangunan rumah tampungan atau selter baru. Rumah untuk mereka telah dibangun dengan uang dari sumbangan dan zakat organisasi muslim nasional dan internasoinal yang diserahkan ACT, kemudian ditender.

Sejak tiba di Aceh karena diselamatkan nelayan, mereka dihargai sebagaimana layaknya manusia. Apalagi kini mereka sudah punya tempat khusus layak huni, sebuah perlakuan manusiawi yang biasanya hanya dilakukan oleh pemerintah untuk rakyatnya sendiri. Merasa merdeka, tepatnya.

Begitu petugas Komite Nasional Solidaritas untuk Rohingya (KNSR) selesai memberi pengarahan menyangkut pemindahan tempat, ratusan pengungsi itu bergegas mengangkat berbagai barang milik mereka masing-masing.

Seketika suasana gaduh karena eforia para pengungsi Rohingya dari segala usia pun seperti tak bisa dikendali. Anak-anak, wanita dan pria bersemangat mengangkut tas mereka dari penampungan sementara di gedung BLK, Blang Ado, Aceh Utara, ke seberang gedung itu.

Di atas tanah yang tadinya kosong kini sudah berdiri selter yang didirikan dengan bantuan kaum dermawan dari berbagai tempat. Itulah selter bagi pengungsi Rohingya di Aceh. Di tempat baru itu telah dibangun berbagai fasilitas.

Pengungsi Rohingya di depan selter atau rumah tampungan yang dibangun pemerintah Aceh Utara, Agustus 2015. FOto: F Salim.
Pengungsi Rohingya di depan selter atau rumah tampungan yang dibangun pemerintah Aceh Utara, Agustus 2015. Foto: F Salim.

Selain rumah tinggal, ada sebuah mesjid, ruang belajar, dan taman bermain untuk anak-anak. Mereka yang sudah menikah menempati satu rumah. Sementara yang belum menikah diberikan tempat di sal perempuan dan sal laki-laki.

Kebahagiaan mereka digambarkan seorang pengungsi Rohingya, Muhammad Rasyid. Dengan logat Arakhan yang kental dan terbata-bata, Rasyid mengatakan bahwa hari ini ia dan semua pengungsi merasa cukup bahagia tinggal di Aceh.

Rasyid tidak ingin kembali lagi ke negara asalnya ataupun dipindahkan ke negara ketiga. Bahkan ia ingin hidup di Aceh yang berpenduduk muslim sampai akhir hayatnya. Kecerian itu tidak saja dimiliki Rasyid, wanita dan anak-anak Rohingya pun seperti mendapatkan harapan hidup baru.

Anak-anak Rohingya berlari ke sana kemari di taman bermain yang disediakan di komplek selter itu. Mereka tak memperdulikan orang-orang dewasa sedang bergegas mengangkut barang-barang ke rumah baru.
Para relawan yang tergabung dalam KNSR pun tak kalah sibuknya mengurusi  pengungsi, mulai dari administrasi sampai pengawalan menunjuk tempat masing-masing pengungsi Rohingya.

20150806_110416
Wajah Pengungsi Rohingya di rumah yang dibangun Pemerintah Aceh Utara, Agustus 2015. Foto: F Salim.

Dengan kerja tulus para relawan, baik dari KNSR maupun banyak suka relawan lainnya sejak nelayan Aceh membawa mereka ke darat, kini pengungsi Rohingya kembali memiliki nuansa hidup sebagai manusia layaknya kita.

Ketua KNSR, Diky, yang turut bekerja membantu kepindahan pengungsi berujar, “Kita mohon doa masyarakat Aceh, supaya kita dapat melayani pengungsi Rohingya dengan maksimal sebelum mereka kembali atau ditampung oleh negara ketiga, insyaallah.”. F. Salim

(PM 005)

Komentar