WhatsApp Image 2021 03 02 at 10 01 56 1
Stan Teman Tuli Kopi di Festival Kopi Kutaraja. [Foto/Mufti Tamren]

Penulis: Cut Salma

PM, Banda Aceh – Aroma kopi tercium ketika kaki mulai melangkah memasuki pintu besar di gedung Amel Convention Hall, Kota Banda Aceh. Puluhan stan berjejer mengelilingi gedung. Di antaranya, ada stan Kala Berdua, Bilik Imaji dan puluhan stan lainnya.

Salah satu stan kemudian menarik perhatian penulis. ‘Teman Tuli Kopi’ begitu nama stannya. Ketika penulis berkunjung, ada sekitar empat orang di dalam stan berukuran kira-kira 3×3 meter itu.

Berbeda dengan stan yang lain, percakapan di stan Teman Tuli Kopi tidak dapat dipahami oleh siapa saja. Mereka bertutur menggunakan bahasa isyarat dengan gerakan tangan.

Nanda, Reza, Tari, bersama 13 orang barista lainnya yang mengelola stan itu tergabung dalam komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Aceh.

“Tujuan awal teman-teman ini belajar menjadi barista karena ingin mengenalkan bahasa isyarat kepada orang-orang. Kenapa dipilih kopi, karena menurut kami kopi sedang tren saat ini. Kita berpikir kopi menjadi salah satu jalan masuknya untuk mempromosikan bahasa isyarat,” kata Nanda yang kemudian diterjemahkan oleh Febby, Senin (1/3/2021).

Febby sendiri sudah bergabung di komunitas Teman Tuli sebagai penerjemah selama 1,5 tahun. Awalnya, ia hanya belajar bahasa isyarat untuk kebutuhannya sendiri sebagai mahasiswa keperawatan.

Febby berharap dengan mempelajari bahasa isyarat, ia dapat melayani selurus lapisan masyarakat bahkan jika pasien yang harus dilayaninya adalah penyandang tuli.

“Saya kebetulan waktu itu mahasiswa keperawatan, jadi saya pikir perlu ni untuk belajar bahasa isyarat, untuk jaga-jaga kalau nanti berhadapan dengan pasien yang kebetulan tuli. Selain itu juga ke depan saya akan lebih siap, ketika saya ditakdirkan memiliki anak yang menyandang tuli,” katanya.

Mereka yang tergabung dalam komunitas Teman Tuli atau Gerkatin sebenarnya mengaku lebih nyaman disebut dengan tuli dari pada sebutan tunarungu. Bukan tanpa alasan, mereka merasa sebutan tunarungu seakan mendiskriminasi.

“Daripada tunarungu, kami lebih senang dipanggil ‘teman tuli’. Menurut kami nggak ada yang salah dari tuli. Tunarungu sendiri artinya kan rusak dengar. Kami merasa nggak ada yang rusak, kalau rusak masih bisa diperbaiki. Tapi kalau tuli memang udah jadi identitas kami,” kata Febby kembali menerjemahkan bahasa isyarat yang disampaikan Nanda.

Sebutan Teman Tuli itu pula kemudian yang mereka sematkan sebagai nama stan di Festival Kopi Koetaraja. Awalnya nama stan mereka adalah ‘Mantul’ atau singkatan dari Teman Tuli.

Komunitas Gerkatin itu sendiri sudah berdiri sejak tahun 2010. Kini mereka memiliki anggota sekitar 2.000 orang yang tersebar di seluruh Aceh. Adapun 16 di antaranya mendapat kesempatan belajar menjadi barista di Balai Latihan Kerja (BLK) Aceh selama 1,5 bulan.

Sebelumnya, mereka juga aktif mengisi kegiatan seminar yang membutuhkan narasumber orang-orang penyandang tuli. Teman Tuli juga aktif mempromosikan bahasa isyarat. Biasanya mereka memanfaatkan Car Free Day (CFD) sebagai ajang mengajarkan bahasa isyarat kepada masyarakat.

Selain itu, Teman Tuli juga belajar menjahit, las, bahkan pernah bergabung di salah satu ojek online. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan skill mereka mengingat masih kurangnya lapangan pekerjaan kelompok penyandang disabilitas di Aceh.

Bertepatan dengan selesainya mereka mengikuti pelatihan di BLK, Pemerintah Aceh menggelar Festival Kopi Kutaraja selama tiga hari, mulai 27 Februari hingga 1 Maret 2021.

Namun, meskipun di bawah binaan pemerintah Aceh. Teman Tuli mengaku, untuk bisa mengikuti festival kopi, mereka bergerak sendiri tanpa ada bantuan apapun dari pemerintah.

“Nggak ada bantuan apa-apa. Kami semua murni pakai dana pribadi. Bahkan untuk masuk dan punya stan di sini kami juga usaha sendiri. Awalnya nggak dikasih. Tapi akhirnya dikasih cuma tidak boleh mengikuti lomba. Alat kopi yang kami pakai juga adalah alat pinjaman dari salah satu anggota Teman Tuli yang kebetulan orang tuanya juga punya usaha kopi, bahan-bahan lainnya kami beli dari hasil patungan anggota,” kata Febby.

Tidak akan berhenti di festival itu saja, Nanda dan teman-temannya akan membuka lapangan pekerjaan untuk penyandang tuli berupa sebuah kafe ‘Teman Tuli Kopi’. Nantinya di kafe tersebut setiap karyawan hingga pengunjung akan dibiasakan menggunakan bahasa isyarat.

Meskipun saat mengikuti festival kopi tidak adanya bantuan dari pemerintah. Menurutnya, pemerintah telah menjanjikan sebuah toko untuk mewujudkan keinginan mereka itu.

“Namun, saat ini tempatnya masih belum dipastikan, dan kesediaan alatnya juga masih kurang,” katanya.[]

Komentar