Hermes Palace Hotel Banda Aceh. [http://freebiespic.com]
Hermes Palace Hotel Banda Aceh. [http://freebiespic.com]

Destinasi wisata halal yang dipromosikan Aceh masih sebatas label. Banyak fasilitas belum memenuhi kriteria halal. 

Ruang berukuran seluas lapangan tenis dibangun tepat di sudut kiri Hermes Palace Hotel. Tidak jauh dari basement. Sekilas, hanya ruangan biasa saja. Di atas pintu ruangan tertempel huruf bertuliskan Musala Al-Muhajirin.

Siang itu, beberapa pria berkemeja sibuk membetulkan kaus kakinya di bangku petak memanjang—seukuran dua depa—yang berada depan ruangan. Mereka baru saja keluar dari ruangan itu.  Pikiran Merdeka sempat masuk ke dalamnya. Meski dilengkapi AC, hawa pengap tetap terasa saat memasuki pintu bercat hitam dengan gagang almunium putih. Tiga helai musala bermotif mesjid dibentangkan memanjang. Posisinya miring menghadap kiblat.

Banyak yang tidak menduga jika ruangan seluas lapangan tenis tersebut merupakan mushala. Bahkan, beberapa pengunjung yang pernah bertandang ke hotel berkelas itu mengaku kerap kewalahan dengan fasilatas ibadah yang ditawarkan di sana.

“Masak seperti itu ruangnya. Di saat waktu salat tiba, saya harus menuruni beberapa lantai hotel untuk menuju ke sana,” tutur FZ (32), saat dijumpai Pikiran Merdeka, Sabtu (5/11/2016).

Dia menilai, musala seperti itu belum pantas untuk hotel bintang empat tersebut. Pasalnya, selain jauh untuk dijangkau, tempatnya juga diletakkan di dekat basement bawah. “Ini kesannya mushala tersebut hanya dibuat seadanya. Maunya kan harus mudah diakses, terus jangan berdekatan dengan basement. Kan ini tempat beribadah, masa di bawah,” tutur pria yang mengaku acap chek-in di sana.

Selain Hermes Palace Hotel, pemandangan serupa juga terjadi di Hotel Grand Nangro. Hotel yang berada di Jalan Panglima Nyak Makam, Banda Aceh, tersebut juga masuk dalam list hotel megah. Namun sayang, pelayanan yang diberikan untuk muslim yang ingin menunaikan ibadah salat juga masih mengenyampingkan kenyamanan. Pasalnya, akses menuju ruang untuk beribadat juga sulit dijangkau.

Pikiran Merdeka sempat menunaikan salat fardhu zuhur di sana. Beranjak dari depan hotel ke mushala yang dibangun sekitar 4×4 meter tersebut harus melewati lorong seluas dua depa di samping mesin generator listrik dan gudang penyimpanan. Belasan kaleng cat dinding yang disusun tak beraturan, semakin membuat sempit akses ke mushala.

Tak ketinggalan, sebuah tangga kayu juga disenderkan ke dinding lorong yang hanya diberikan lampu penerang seadanya. Tempat wudhuk pria dan wanita—tepat di depan mushala—terletak saling berdekatan. Di dalamnya,  hanya ada beberapa kran air.

Dua sample hotel yang berada di Banda Aceh tentunya berbanding terbalik dengan promosi Destinasi Wisata Halal dan penghargaan yang didapatkan Aceh melalui Kompetisi Wisata Halal Nasional (KPHN) yang diumumkan, Rabu (21/9/2016) lalu. Selain itu, salah satu syarat wisata halal ialah mengedepankan pelayanan berbasis islami di segala bidang, termasuk perhotelan.

Ironisnya lagi, Hermes Palace Hotel yang menyandang level bintang empat tersebut sempat mengikuti ajang yang digelar oleh Tim Percepatan Perkembangan Wisata Halal Kementrian Pariwisata, tahun ini.

Terkesan sekali, hotel-hotel di Banda Aceh belum siap menyambut tamu yang ingin menikmati destinasi wisata halal di Aceh. Padahal, kunjungan wisatawan ke Aceh juga terus melonjak.

Data yang dihimpun Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus naik tajam mencapai 177 persen dibanding Juli 2016 yakni dari 2.363 orang menjadi 6.552 orang.

Dalam laman web milik Disbudpar Aceh, Kepala BPS Aceh Wahyuddin menuturkan, peningkataan jumlah kunjungan ini tidak terlepas dari meningkatnya promosi dan beragam kegiatan yang diselenggarakan di Aceh.

Ia menjelaskan, jumlah kunjungan tersebut juga naik signifikan jika dibanding dengan periode yang sama pada tahun 2015 dengan kenaikannya mencapai 216 persen. “Secara kumulatif, Januari-Agustus 2016 jumlah tamu asing yang melancong ke Aceh mencapai 28.760 orang atau meningkat 66,41 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya,” katanya.

SUDAH MENGIMBAU

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi tidak menapik adanya beberapa fasilitas dan pelayanan wisata yang belum mencerminkan nilai-nilai islami, termasuk belum terpenuhinya sarana ibadah di hotel-hotel. Kenyataan tersebut dikarenakan pihak pengelola hotel belum sepenuhnya menyahuti program distinasi wisata halal.

Menurut Reza Fahlevi, sejak awal promosi wisata halal, pihaknya telah berupaya mensosialisasi dan menghimbau agar sejumlah hotel, rumah makan, dan cafe untuk segera memperbaiki fasilitas dan pelayanan yang lebih islami untuk menuju wisata halal yang bakal dipromosikan.

“Mudah-mudahan dengan momentum adanya lebelisasi dan sertifikasi wisata halal ini dapat mendorong mereka untuk memperbaiki. Sebuah restoran ataupun hotel itu, ketika mau lebel halal mereka sudah harus memperbaiki segala kualitasnya, baik dari segi makanan maupun kenyamanan,” tuturnya saat dihubungi Pikiran Merdeka, Sabtu (5/11/2016).

Sementara itu, terkait fasilitas musala yang erat kaitannya dengan wisata halal Aceh tersebut, Pikiran Merdeka juga mengkonfirmasikan kepada Ketua Permusyawaratan Ulama (MPU) Banda Aceh Karim Syeh. Sayangnya, saat dihubungi ke nomor ponsel yang biasa digunakannya, dia mengaku bukan ketua MPU.[]

Komentar

AdvertisementIklan Selamat Hari Raya Idul Adha BPKA