SAVE 20210115 114446

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan tahun kedua pandemi virus corona kemungkinan akan lebih parah dibandingkan pada tahun pertama. Hal itu terjadi setidaknya dalam beberapa bulan pertama di tahun 2021.

Direkrut kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan jika dinamika penularan virus corona dan masalah lain yang tengah terjadi di tahun 2021 tampak lebih sulit, terutama di Bumi belahan utara.

Pernyataan Ryan ini merujuk pada mutasi virus corona yang diidentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan dan telah menyebar ke sejumlah negara di dunia.

“Memasuki tahun kedua pandemi bisa jadi lebih parah dan berat karena adanya dinamika penularan virus,” kata Ryan dalam sebuah acara yang disiarkan melalui media sosial.

Pernyataan Ryan merujuk pada laporan 5 juta kasus baru pada pekan lalu setelah dua pekan sebelum mengalami penurunan kasus.

Menurutnya penurunan kasus pada akhir tahun lalu menipu sehingga menimbulkan kesan bahwa pandemi sudah terkendali.

“Setelah liburan [akhir tahun], di beberapa negara situasinya justru semakin parah sebelum berangsur-angsur membaik,” ungkap kepala teknis WHO, Maria Van Kerkhove.

Dilansir VOA, Ryan mengatakan jika kecuali Asia Tenggara, semua wilayah di dunia tengah mengalami peningkatan infeksi corona selama sepekan terakhir.

Data statistik John Hopkins University mencatat hingga saat ini kasus corona global telah mencapai 93.044.567 dengan 1.991.997 kematian.

AS masih menjadi negara dengan infeksi dan kematian tertinggi yakni sebanyak setengah dari kasus global. Sementara Eropa menyumbang sepertiga dari total kasus baru, menurun 10 persen dari sepekan sebelumnya.

Mengutip RTE, pernyataan WHO itu merujuk pada memburuknya penyebaran Covid-19 di AS yang melaporkan setidaknya tiga kematian setiap menit atau sebanyak 4.470 korban jiwa dalam 24 jam pada Kamis (14/1).

Negara-negara di dunia juga kembali melakukan pengetatan pembatasan skala nasional untuk menekan penyebaran virus corona seperti negara-negara Eropa, Jepang dan China memasuki musim dingin.

Sumber: CNN Indonesia

Komentar