Murid-murid di Tahfidz Anak Usia Dini (TAUD) Sahabat Quran Ayah Bunda Kita. (Foto/Ist)

Syafira bergegas mengambil HP Ibunya setelah ia usai menunaikan salat Magrib. Gadis kecil berusia tiga tahun itu masih mengenakan kerudung. Jemarinya cermat mencari-cari nomor gurunya di barisan kontak Whatsapp.

Begitu terhubung, Syafira langsung ceria karena melihat wajah gurunya yang mengucap salam di  layar HP. Malam itu, adalah jadwal Syafira untuk menyetorkan hafalan surat Al Kafirun. Sementara di ujung sana gurunya sabar menyimak. Sesekali membetulkan bacaannya yang keliru.

Inilah rutinitas Syafira setiap harinya selama pandemi. Syafira adalah salah satu murid dari Tahfidz Anak Usia Dini (TAUD) Sahabat Quran Ayah Bunda Kita, atau disingkat TAUD SaQu Ayahbundakita. Semenjak virus Corona merebak, sekolah untuk anak-anak usia dini ini mulai memberlakukan Belajar Dari Rumah (BDR).

“Dalam sehari kita tiga kali menghubungi siswa via video call Whatsapp. Waktunya terserah, karena kita tahu orang tua kan juga sibuk bekerja,” ucap Pengelola TAUD SaQu Ayahbundakita, Siti Hawa Teuku Harun.

Rutinitas zikir pagi. (Foto/Ist)

Meskipun waktunya bebas, namun pihak sekolah memberi rentang waktu bagi orang tua untuk melaporkan kegiatan anak-anaknya. Waktunya mulai dari pukul 8 pagi sampai 9 malam.

Dalam rentang itu, ada tiga kewajiban yang harus dilaporkan orang tua. Pertama, waktu pagi yaitu video salat dhuha anak lengkap dengan bacaannya yang keras. Kedua, selepas Zuhur yaitu ziyadah Alquran atau mengulang hafalan quran. Pada saat ini pula guru memberikan hafalan baru bagi anak-anaknya.

Lalu selepas Ashar, siswa harus menyetorkan kembali ayat yang telah dihafalnya tadi. Sekaligus mengenalkan huruf hijaiyah dengan metode At-Tibyan yaitu mengeja dari huruf ke huruf.

“Semua kegiatan itu nanti kita absen via grup Whatsapp, kita beri nilai misalnya dengan memberi icon Kabah atau bintang,” terang Siti Hawa.

Praktik Shalat Dhuha. (Foto/Ist)

Siti Hawa menilai, sejauh ini belum ada kendala yang berarti dengan metode pembelajaran seperti itu. Hanya saja, jika hari biasa mereka melakukan zikir dan halaqoh pada waktu pagi. Maka kegiatan itu tersebut sulit dilaksanakan saat pandemi ini.

Untuk itulah, pihak sekolah mensiasatinya, dalam seminggu siswa diminta untuk mengulang kembali bacaan zikir dan doanya sebanyak dua kali.

Alhamdulillah, selama ini semua berjalan lancar. Dalam dua bulan, anak-anak kita sudah tuntas gerakan salat lengkap dengan bacaannya,” ungkap Siti Hawa.

Menariknya, saat wisuda angkatan pertama tempo hari, salah satu siswa TAUQ ini mampu menghafal 24 surat dalam waktu 8 bulan. Bahkan ada satu siswa, yang mampu menuntaskan juz 30 nya plus surat Al Mulk.

“Kita bersyukur, kedua siswa ini bisa lulus dengan Mumtaz,” ucapnya.

Semua yang dilakukan TAUQ SaQu Ayahbundakita ini adalah demi mewujudkan salah satu visi mereka, yaitu membentuk generasi qurani. Maka sekalipun kondisinya di tengah pandemi, mereka tidak kehilangan cara untuk tetap menjalankan semua kurikulum pembelajarannya kepada siswa.

“Tentu hal ini tidak lepas dari dukungan pihak orang tua. Karena bimbingan orang tua di rumah juga sangat penting,” ucap Siti Hawa.

TAUD SaQu Ayahbundakita berada di Jalan Jeumpa, Gampong Meunasah Baet, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Taman Pendidikan ini berada di bawah koordinasi Yayasan Sahabat Quran, yang telah tersebar 176 cabang di seluruh Indonesia. Untuk Aceh, sudah ada 11 cabang yang tersebar di berbagai Kabupaten/Kota.

Siti Hawa menjelaskan, dalam menjalankan kegiatan pendidikannya, setidaknya ada tiga target penting dari TAUQ ini. Pertama,  bagaimana anak usia dini ini bisa membaca alquran dengan mushab Madinah.

“Ketika masuk SD, mereka diharapkan sudah mampu baca alquran,” ucapnya.

Kegiatan mewarnai sambil mendengarkan Murrotal Alquran. (Foto/Ist)

Selanjutnya, bagaimana dalam tiga tahun pendidikannya setiap anak bisa menghafal 3 juz Alquran. Terakhir, setiap siswa memiliki akhlak yang baik. Untuk itulah, mereka diajarkan adab selama pendidikannya. Misalnya, bagaimana sopan santun dengan orang tua, teman, dan guru.

“Initinya, kita ingin mereka lebih peduli sama sosial dan lingkungan. Karena selama ini  kita lihat, anak-anak sama temannya agak kurang mau peduli dan berbagi,” ucapnya.

Untuk itulah, bagaimana membentuk karakter yang qurani menjadi salah satu poin penting dalam pendidikan di TAUQ SaQu Ayahbundakita ini. Sementara kegiatan menghitung, menulis dan membaca hanya mereka ajarkan saat semester akhir.

“Enam bulan lagi anak-anak mau masuk sekolah, barulah kita ajarkan membaca, menulis dan berhitung,” ucap Siti Hawa.

Adapun materi yang diajarkan pada sekolah ini, di antaranya adalah hadits, adab, shirah nabawi, praktik salat dan wudhu.  Agar proses pembelajarannya efektif, dalam satu kelompok siswa yang berjumlah 15 orang didampingi dua guru. Di mana seorang sebagai pemateri, dan seorang lainnya sebagai pendamping, termasuk mendampingi siswa untuk toilet training.

Belajar menanam dan merawat tanaman. (Foto/Ist)

Pandemi memang telah memberikan banyak keterbatasan. Namun hal tersebut diharapkan tidak menyurutkan semangat kita, untuk terus memberikan bekal pendidikan bagi anak-anak. Seperti yang dilakukan TAUQ SaQu Ayahbundakita ini, yang tidak kehilangan cara untuk terus mengenalkan alquran kepada anak didiknya. ()

Komentar