Jaringan 4G LTE milik Telkomsel tak memuaskan pengguna di Banda Aceh. Sinyalnya kerap hilang, kecepatan akses berbeda di beberapa tempat.

Ali kesal mendapati jaringan 4G Telkomsel di smartphone-nya tiba-tiba hilang dan berganti menjadi 3G, bahkan HSDPA. Di lain hari, kekesalannya bertambah. “Kok, kuotanya habis sebelum batas akhir masa aktif paket. Saya menyesal menggunakan kartu paket internet Telkomsel beberapa bulan terakhir ini,” ujarnya pria 23 tahun ini, Selasa pekan lalu.

Warga Darussalam Banda Aceh itu menuturkan, sebagai pelanggan dia merasa dirugikan oleh promo paket data internet 4G LTE Telkomsel. Ali menilai, pelayanan yang diterimanya tak sesuai dengan isi informasi promo paket internet 4G tersebut.

Ali awalnya tergiur dengan harga promo yang ditawarkan operator jaringan seluler terbesar di Indonesia itu. Hanya dengan Rp35 ribu, pelanggan akan memperoleh paket internet 4G LTE sebesar enam GigaBita atau 6 GB dengan kecepatan lebih tinggi dari 3G. Ali merogoh koceknya dan langsung membeli kartu baru pada salah satu penjual paket internet Telkomsel di Banda Aceh.

Mulanya lancar-lancar saja. Namun, ketika ia browsing atau chatting, seringkali sinyal 4G hilang dan berganti ke 3G atau H di area tertentu. “Inilah yang membuat saya sudah malas pakai 4G,” ketusnya. Ali  berharap Telkomsel tidak menjanjikan pelanggan dengan promo harga paket data besar tapi tak isinya tak sesuai harapan.

Berbeda lagi dengan Habibi. Ia sangat tertarik dengan promo jaringan 4G yang ditawarkan Telkomsel. Namun, setelah memakainya Habibi terpaksa menelan ludah kecewa. Pasalnya, posisi ia tinggal di dekat kampus Unsyiah, susah terjangkau sinyal 4G. “Kami tinggal di Tanjung Selamat, sangat dekat dengan Darussalam, tapi jaringan 4G LTE susah dapat,” ungkap Habibi, Selasa pekan lalu.

Bahkan, tambah dia, jika listrik padam, sudah pasti jaringan 4G tidak bisa digunakan untuk internetan. Jaringan putus tidak dapat digunakan sama sekali.

Jika ia beranjak agak jauh dari rumahnya, jaringan memang terdeteksi tapi terputus-putus. “Saya palak kali kalau lagi main COC (game Clash of Clans) dan buka Instagram itu tiba-tiba jaringan putus sendiri. Jadi kesal dengan jaringan 4G ini tidak memberikan layanan secara konsisten pada pelanggan,” ujarnya.

Seharusnya, kata Habibi, Telkomsel selaku provider terbesar menyosialisasikan batas area yang mampu dijangkau jaringan 4G LTE di Banda Aceh, sehingga pengguna tidak kerepotan menggunakannya. Habibi berharap Telkomsel memberikan perlayanan optimal dan juga bisa melakukan perbaikan jaringan saat mati lampu.

Ghaly, pengguna 4G yang berdomisli di Banda Aceh juga mengeluhkan hal serupa. “Sinyalnya suka rewel, terutama di kawasan Gampong Jawa. Kecepatannya tidak sesuai dan bahkan tidak bisa akses koneksi internet,” ujarnya saat dihubungi lewat Whatsapp, Jumat pekan lalu.

Pekerja bidang Informasi Teknologi ini memakai jaringan 4G Telkomsel sejak bulan lalu. Ghaly pernah mencoba kekuatan sinyal 4G di beberapa tower Telkomsel. “Bila pindah BTS atau tower lain ada yang makin cepat dan ada makin lambat. Misalnya, dari tower Gampong Jawa ke Pocut Baren. Kecepatannya sangat beda. Di Pocut Baren bisa dapat dua hingga lima Mbps (megabit per second), tapi di Gampong Jawa cuma 500 Kbps (kilobit per second) bahkan 92 kbps,” ujarnya. Seharusnya, kata Ghaly, kecepatan 4G minimal 1 Mbps agar nyaman dipakai saat browsing dan unduh.                        

Lewat aplikasi speedtest yang pernah dicoba Ghaly, di Pocut Baren maksimum kualitas kecepatan download mencapai 20Mbps dan upload 5 Mbps. Sementara di Gampong Jawa, kecepatan download dan upload hanya 0,1 Mbps.

Ghaly kerap memprotes hal itu ke akun Twitter resmi Telkomsel. “Setelah dikomplain memang berefek sebentar tapi kemudian jaringan kembali nggak permanen. Cuma hitungan menit saja stabilnya,” ujarnya.

Ia menyarankan Telkomsel menambah perangkat penerima sinyal 4G di setiap tower. “Dengar kabar mereka mau bangun 5G tapi sebaiknya jangan terpaku dengan berlomba teknologi tapi fasilitasnya masih minim. Usahakan dulu 4G ini merata ke seluruh Indonesia,” ujarnya.

Efek dari kurang “mengigitnya” jaringan 4G Telkomsel juga berdampak kepada penjual kartu paket data. Putra, pemilik sebuah gerai penjualan kartu internet di Banda Aceh mengisahkan, ada pembeli yang menukar kembali kartu. “Dalam bulan ini ada satu (pembeli) yang sudah menukar kartu internet 4G LTE, karena jaringannya tidak dapat di HP-nya, ditukar dengan kartu paket data internet reguler,” ujar Putra.

Menurut mahasiswa jurusan ekonomi ini, ia memperoleh kartu internet dari pihak ketiga Telkomsel,  bukan langsung dari provider tersebut. Walhasil, ia tidak bisa menukar lagi kartu itu ke Telkomsel. “Mau tak mau, saya yang harus menanggung beban. Saya berharap pelanggan yang mau menukar kartunya dapat langsung ke Telkomsel, sehingga saya tidak harus merugi,” ujarnya.

***

Ilustrasi handphone lost sinyal. (Foto: http://freebiespic.com)
Ilustrasi handphone lost sinyal. (Foto: http://freebiespic.com)

4G atau fourth-generation technology merupakan pengembangan dari teknologi 3G atau third-generation technology. Jadi, maksud dari 3G adalah generasi ketiga dan 4G adalah generasi keempat.

Sebelum kedua generasi itu, jaringan seluler menggunakan 1G. Fiturnya mengandalkan sistem analog dengan kecepatan rendah dan suara sebagai objek utama. Selanjutnya muncul 2G sebagai standar komersial dengan format digital. Kecepatannya rendah hingga menengah, mulai dari sembilan hingga 14 Kbps.

Perkembangan selanjutnya hadir 2.5G yang bisa melayani paket data lewat fitur General Packet Radio Service atau GPRS dan Enhance Data rate for GSM Evolution  atau EDGE. Kecepatannya 20 hingga 40 Kbps.

Setelah itu muncullah 3G dengan kecepatan 500-700 Kbps yang kini masih digunakan. Melalui 3G, pengguna telepon seluler dapat memiliki akses cepat ke internet dengan bandwidth sampai 384 kilobit. 3G mampu memberikan fasilitas beragam pada pengguna seperti menonton video secara langsung dari internet atau berbicara dengan orang lain menggunakan video.

Adapun 4G nama resminya menurut Institute of Electrical and Electronics Engineers adalah “3G and beyond”.  Sebelum 4G, High-Speed Downlink Packet Access atau HSDPA yang kadangkala disebut sebagai teknologi 3,5G telah dikembangkan oleh WCDMA sama seperti EV-DO mengembangkan CDMA2000. HSDPA adalah sebuah protokol telepon genggam yang memberikan jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile Telecommunications System. Fitur ini dapat memberikan kapasitas data lebih besar hingga 14,4 Mbit per detik ketika alat tersebut berada pada kondisi diam atau bergerak secepat pejalan kaki.

Jaringan 4G menekankan penggunaan internet yang lebih cepat. Teknologi ini berkembang seiring dengan kehadiran smartphone, ditambah dengan aplikasi yang menjamur. Semua fitur pada smartphone dan aplikasi yang digunakan memerlukan koneksi internet. Terdapat dua kandidat standar untuk 4G yang dikomersilkan di dunia yaitu WiMAX di Korea Selatan sejak 2006 dan Long Term Evolution atau LTE dari Swedia sejak 2009. Di Indonesia, WiMAX pertama kali diluncurkan oleh PT First Media dengan merek dagang Sitra WiMAX sejak Juni 2010. Sementara LTE pertama kali diluncurkan oleh PT  Internux dengan merek dagang Bolt Super 4G LTE sejak 2013.

***

Branch Manager Telkomsel Aceh, Denny Hermanto, saat dikonfirmasi pekan lalu, menyarankan Pikiran Merdeka menghubungi langsung Head of Corporate Communication Sumatra Division Telkomsel Hadi Sucipto. “Informasi kita harus melalui satu pintu, melalui Pak Hadi Sucipto atau stafnya dari Humas Telkomsel Area Sumbagut,” ujar Denny.

Sementara Hadi Sucipto meminta pelanggan 4G di Aceh bersabar karena Telkomsel masih melakukan penambahan jaringan. “Saat ini pembangunan jaringan Telkomsel 4G di Aceh masih terus dilakukan seiring kebutuhan layanan, pelanggan harap sedikit bersabar,” ujar Sabtu dua pekan lalu.

Pelanggan Telkomsel di Aceh, kata Hadi, telah menikmati layanan 4G LTE sejak Februari 2016. Hingga kini, tambah dia, layanan 4G Telkomsel sudah melayani sekitar 80 persen wilayah kota Banda Aceh. Dia mengimbau pelanggan lebih dulu memahami setiap jenis paket data internet dari Telkomsel melalui website resmi sebelum memutuskan membelinya.

Paket data Telkomsel, kata Hadi, beragam, tergantung dari zona pengunaannya. Selain itu, ada tarif dan kuota berbeda untuk setiap wilayah di Sumatera Bagian Utara atau Sumbagut. Sehingga, paket yang aktif di wilayah tertentu belum dapat digunakan secara maksimal di daerah lain.

Telkomsel diakui Hadi secara rutin memberikan edukasi tentang kebijakan menjual produk dalam setiap operasionalnya. “Sebaiknya para penjual kartu perdana harus memahami ketentuan yang berlaku dalam menjual produk Telkomsel,” ujarnya.

Karena itu, kata Hadi, penjual tak dapat menukar kembali kartu yang dikembalikan pelanggan karena setiap paket internet Telkomsel memiliki pembagian kuota yang bisa dipakai di seluruh Indonesia. Sementara kuota lokal hanya bisa digunakan di wilayah lokasi pembeliannya. “Informasi pembagian kuota nasional dan lokal ini sudah disampaikan ketika pelanggan membeli paket internet ini secara langsung. Jadi sebaiknya pelanggan benar-benar memahami lebih dulu paket yang dipilih sebelum memutuskan untuk mengaktifkan paket yang diinginkan,” pungkas Hadi Sucipto.[]

Komentar