Jakarta – Sebagai negara tetangga yang memiliki saham di Malaysia, Singapura mulai khawatir terhadap jatuhnya nilai tukar Ringgit. Kondisi perekonomian dan politik Malaysia saat ini ikut mempengaruhi negara pulau tersebut. 

Kemarin (27/08/2015), nilai tukar ringgit berada di level RM 4,23 per USD, jatuh hingga 31 persen dalam setahun. Selain itu, kondisi politik juga memanas karena isu korupsi yang dihadapi Perdana Menteri Najib Razak.

“Kami adalah investor terbesar di Iskandar Malaysia (koridor pembangunan di bagian selatan Johor). Sangat banyak masalah serius bagi kami,” ucap Menteri Luar Negeri Singapura, K. Shanmugam seperti dilansir dari media Malaysia Today di Jakarta, Jumat (28/08/2015).

Nilai tukar ringgit melintasi level psikologis sebesar RM 3,00 per dolar Singapura pekan ini. Kemarin, nilai tukar berada RM 3,01 per dolar Singapura dan awal bulan diperdagangkan RM 2,75 per dolar Singapura.

Rendahnya nilai tukar Ringgit tentu menjadi kabar baik bagi pembeli Singapura. Namun, Shanmagun mengatakan ekonomi Malaysia berada dalam masa sulit dan memperingatkan Singapura bahwa kondisi ini tidak menguntungkan.

“Ketika ekonomi tetangga Anda mengalami kesulitan dan tetangga Anda itu adalah mitra dagang terbesar Anda, itu sama sekali tidak menguntungkan,” katanya.

Shanmagun mengatakan Malaysia juga menghadapi masalah sistem pendidikan yang semakin terpolarisasi. Banyak sekolah nasional di Malaysia yang menjadi lebih Melayu dan Islam sehingga membuat jarak antara Melayu dan China terlalu dini.

Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan meningkatnya penggunaan Agama Islam di politik Malaysia yang mengambil untung dari orang Melayu.

Informasi saja, pelemahan nilai tukar ringgit juga berimbas langsung pada perusahaan otomotif negeri jiran. Perusahaan otomotif lokal Naza Automotive Manufacturing Sdn Bhd (NAM) terpaksa memecat 255 orang karyawannya atau hampir separuh dari jumlah keseluruhan pekerjanya. Langkah ini sebagai respons anjloknya penjualan hingga 40 persen.

Kepala bagian komunikasi Naza Corporation Holdings Sdn Bhd (NCorp) Nor Azlina Ishak menuturkan, pekerja yang diberhentikan merupakan karyawan di Kawasan Perindustrian Gurun, Kedah. Mereka bertanggungjawab dalam produksi dan perakitan kendaraan merek Peugeot dan Kia.

“Kami terkejut karena penjualan kendaraan turun mendadak antara 30 hingga 40 persen akibat ketidakpastian ekonomi, pelemahan ringgit dan pelaksanaan pajak barang dan jasa (GST) pada 1 April lalu. Perusahaan-perusahaan lain juga menghadapi masalah serupa,” katanya seperti dilansir Antara dari dikutip media-media setempat di Kuala Lumpur, Jumat (28/8).

Sejak awal tahun pihaknya sudah mengambil langkah untuk mengurangi biaya operasi harian.

“Bagaimanapun, sebagai bekas majikan kami prihatin dan karena itu kami menawarkan pampasan setimpal bagi setiap staf,” katanya.

[PM005]

Komentar