Pertumbuhan ekonomi Provinsi Aceh terus meningkat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Hal tersebut sangat terkait dengan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami yang dilakukan Badan Rehabilitasi & Rekonstruksi Aceh-Nias pada tahun 2006 sampai dengan 2010. Kondisi keamanan yang kian membaik setelah penandatanganan MoU Helsinki antara Pemerintah RI dan GAM pun menjadi awal penting dalam pemulihan ekonomi Aceh.

Kemajuan di sektor ekonomi dan keamanan ini memberikan konstribusi langsung kepada pertumbuhan kebutuhan energi listrik. Penjualan pada tahun 2012 tumbuh hinggga 11,1% dan tahun 2013 tumbuh sekitar 10%. Selain itu, beban puncak sistem kelistrikan juga naik dari 343 MW pada tahun 2012 menjadi 361 MW pada tahun 2013.

Rata-rata pertumbuhan penjualan listrik PLN dalam 5 tahun terakhir adalah 12% per tahun, di mana penjualan pada tahun 2008 sebesar 1.150 GWh telah meningkat menjadi 1.755 GWh pada tahun 2012.

Penjualan terbesar adalah dari sektor rumah tangga sebesar 1.139 GWh (64,9%), kemudian sektor publik sebesar 290 GWh (16,5%). Trend tersebut terus meningkat dari tahun ke tahun, sehingga membutuhkan kerja keras untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik Aceh di masa mendatang.

Dari realisasi pengusahaan lima tahun terakhir dan mempertimbangkan kecenderungan pertumbuhan ekonomi, pertambahan penduduk dan peningkatan rasio elektrifikasi di masa datang, maka proyeksi kebutuhan listrik 2013–2022 seperti tertera pada Tabel.

Karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik 10 tahun ke depan diperlukan pembangunan sarana pembangkit, transmisi dan distribusi dengan memperhatikan potensi energi primer yang dimiliki Aceh.[]

Komentar