katak tanduk aceh
Katak Tanduk Aceh [Foto: BRIN]

PM, Banda Aceh – Peneliti Herpetologi Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi (BRIN) berhasil menemukan dua katak jenis baru di Sumatera, salah satunya dari Aceh. Jenis baru katak tersebut kemudian diberi nama Megophrys selatanensis (Katak-tanduk Sumatera Selatan dan Megophrys acehensis (Katak-tanduk Aceh).

Temuan jenis katak baru tersebut belakangan diumumkan oleh BRIN pada 14 November 2021 melalui sipers Nomor 188/SP/HM/BKPUK/XI/2021.

Penelitian terhadap katak tanduk jenis baru ini dilakukan oleh Amir Hamidy dari Pusat Riset Biologi BRIN, bersama Kanto Nishikawa dari Universitas Kyoto dan Eric N Smith dari Universitas Texas at Arlington. Penelitian tersebut membutuhkan waktu tiga tahun hingga akhirnya para ilmuwan memutuskan bahwa kedua katak tersebut merupakan jenis baru yang ditemukan di Sumatera. Sebelumnya, peneliti juga menemukan jenis baru Katak-tanduk di Kalimantan. Katak itu kemudian disebut Megophorys Kalimantanensis pada 2019. Peneliti juga pernah menemukan jenis katak baru di Sumatra pada 2018, yang disebut Megophorys lancip.

Amir seperti dilansir BRIN menyebutkan, dua jenis baru Megophrys dari Sumatera tersebut berhasil diidentifikasi berdasarkan evaluasi status taksonomi dengan menggunakan data molekuler dan morfologi.

Sementara Misbahul Munir, yang juga menjadi penulis pertama dalam penemuan ini menjelaskan, Katak-tanduk yang sering dikenal dengan nama ilmiah marga Megophrys memiliki karakter unik, dimana ujung moncong dan kelopak matanya termodifikasi menjadi tonjolan lancip (menyerupai tanduk).

“Berudu dari marga Megophrys juga memiliki karakter unik dimana mulutnya termodifikasi menjadi bentuk corong yang melebar. Saat ini, 13 spesies Megophrys diketahui terdapat di Asia Tenggara, antara lain Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Filipina. Kalimantan memegang rekor tertinggi – karena enam spesies diantaranya ditemukan di pulau ini,” ungkap Misbahul.

Lebih lanjut, Amir mengungkapkan katak dari genus Megophrys memiliki keragaman morfologi yang samar.

“Saat melakukan survei herpetofauna di seluruh jajaran Pegunungan Bukit Barisan Sumatera kami menemukan populasi Megophrys Sumatera bagian selatan dengan kulit punggung halus yang secara morfologis mirip dengan M. montana dari Jawa dan populasi yang menyerupai kulit punggung M. parallela dari Sumatera bagian utara. Kami menyelidiki status taksonomi dari dua populasi baru ini dan memperkirakan hubungan filogenetiknya,” jelasnya.

Untuk etimologinya, dari nama jenis selatanensis berasal dari bahasa Indonesia Selatan, sebagai kata yang menunjukkan lokasi distribusi wilayah selatan di Sumatera dan akhiran Latin –ensis yang berarti dari tempat itu. Sedangkan nama Indonesia yang disarankan yaitu Katak-tanduk sumatera-selatan.

Begitu pula asal kata acehensis, yang berarti berasal dari provinsi Aceh di Sumatera bagian utara dan akhiran latin-ensis yang berarti dari tempat itu dengan saran nama Indonesia yaitu Katak–tanduk aceh.

Holotype Megophrys selatanensis diambil dari koleksi spesimen Museum Zoologicum Bogoriense yang ditemukan pada ekspedisi lapangan tahun 2013 dan Megophrys acehensis pada tahun 2015.

Berdasarkan hasil penelitian ini, setiap spesies Megophrys di Sumatera kemungkinan memiliki distribusi terbatas. Dari lima jenis yang terdapat di Sumatera, empat diantaranya merupakan jenis endemik. Selain endemik, marga Megophrys ditemukan di hutan dataran tinggi dan rendah. Perubahan habitat dari hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan sawit merupakan ancaman terbesar terhadap kelestarian jenis ini.[]

Komentar