Foto: PM/Oviyandi Emnur

Aceh kaya akan keberagaman dan hasil alam yang melimpah. Aneka hasil alam yang menebarkan aroma wangi diolah menjadi produk unggulan tersendiri. Hal itulah yang mengispirasi sekelompok pemuda Aceh merintis produk parfum dengan merk ‘Minyeuk Pret’.

CEO Minyeuk Pret, Daudy Sukma mengungkapkan, industri parfum itu mulai dirintis pihaknya sejak Juli 2014. Setelah melewati tahap perencanaan hingga produksi, akhirnya parfum yang mengusung brand Aceh itu dilaunching pada 1 April 2015.

“Sejak setelah launching, Minyeuk Pret kita perkenalkan ke seluruh masyarakat Indonesia, baik melalui media maestream maupun via media sosial,” sebut pria yang akrab disapa Dodi ini.

Kehadiran Minyeuk Pret memperpanjang daftar produk dengan brand Aceh, semacam Kupi Uleekareng dan Ija Krong. Belakangan bermunculan brand Aceh lainnya, seperti Outlet Piyoh, Pajooh, dan Mangat Food.

Dodi menjelaskan, brand Minyeuk Pret diusung pihaknya karena orang Aceh tempo dulu menyebut parfum dengan ‘minyeuk pret’. “Karena penyebutan semacam itu sudah jarang terdengar, makanya kami mempopulerkannya kembali. Jangan sampai ada orang Aceh yang tidak tahu apa itu minyeuk pret. Kan kebanyakan anak muda sekarang lebih mengenal parfum itu dengan sebutan parfume ataupun fragrance,” paparnya.

Dodi bertekat mempromosikan Minyeuk Pret hingga ke mancanegara, sehingga brand tersebut akrab di telinga masyarakat internasional. “Kan jadi menarik, orang Amerika menyebut Minyeuk Pret dengan logat mereka. Jangan kita-kita saja yang suka menyebut-nyebut merk dagang mereka,” lanjutnya.

Diakuinya, setelah launching Minyeuk Pret pada 1 April 2015, banyak pihak memperdepatkan brand itu. Bahkan, sekelompok masyarakat Aceh yang bermukim di Inggris menyebut penggunaan nama minyeuk pret terlalu kampungan. “Sebagian mereka menyarankan menggunakan nama-nama populer seperti Gucci, Hermes dan lainnya. Tapi kami merespon komentar teman-teman dari luar tersebut dengan menyatakan bahwa kami bangga dengan brand Aceh yang kami usung,” beber Dodi.

Terkait bahan baku untuk parfum yang diproduksinya, jelas Dodi, hampir semuanya menggunakan hasil alam Aceh. “Bahan utamanya ialah minyak nilam. Aceh adalah penghasil nilam terbaik dunia. Nilam sendiri adalah pengikat parfum paling baik di dunia,” katanya.

Selain minyak nilam, bahan baku pelengkap yang digunakan adalah essensial, aquades, alkohol, dan bahan-bahan lainnya. “Semuanya diramu dengan takaran yang pas, sehingga menghasil wewangian yang menggoda,” katanya.

Untuk saat ini, setiap bulan pihaknya menerima pesanan sampai ribuan pcs Minyeuk Pret. “Para pemesan tidak saja dari dalam negeri, tapi juga dari luar negeri. Jadi, Minyeuk Pret sudah dinikmati masyarakat seluruh Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Kami juga sudah melayani pemesan dari 11 negara di dunia,” lanjut Dodi.

Harga yang dilakap pihaknya Rp110.000/pcs. Sementara untuk luar daerah dan luar negeri ditambah ongkos kirim.

Untuk dalam kota Banda Aceh, Minyeuk Pret tersedia di 17 outlet seperti Piyoh, Pusaka Souvenir, Canting Souvenir, Dekranas, Galeri Muslim dan outlet lainnya.

Tingginya permintaan, sebut Dodi, terkadang pihaknya kewalahan memenuhi semua pesanan. Selain itu, saat ini Minyeuk Pret dalam proses pengurusan izin di BPOM. “Ini perizinan untuk ke luar Aceh, agar tidak dipertanyakan Badan POM. Sementara brand Minyeuk Pret sendiri sudah ada hak patennya,” tambahnya.

Foto: PM/Oviyandi Emnur

PENGEMBANGAN USAHA
Untuk pengembangan usaha, kata Dodi, Minyeuk Pret ke depan akan memproduksi aneka jenis kosmetik. “Jadi tidak hanya parfum, ke depan kami akan memproduksi sabun, lotion, dan balsem,” jelas pria alumni Fakultas Ekonomi Unsyiah ini.

Sementara parfum merk Minyeuk Pret saat ini menawarkan tiga varian aroma, yakni meulu, coffee, dan seulanga. “Kami juga telah meracik varian baru yaitu jeumpa, ekspresso dan pomade. Sekarang lagi tahap prosuksi massal,” sebutnya.

Suatu kebanggan bagi Dodi dan timnya, sebab selama proses promosi dan pemasaran Minyeuk Mret mendapat respon postif dari masyarakat luas. “Ini suatu kebanggaan bagi kami, yang membuat kami bertekat mengembangkan usaha dengan memproduksi jenis kosmetik lainnya,” katanya.

Meski begitu, saat ini pihaknya lebih memfokuskan pada peningkatkan jumlah produksi parfum karena permintaan pasar sangat tinggi. Bahkan terjadi excess demand.

Sementara untuk bersaing dengan parfum merk lain, mereka sudah sangat optimis mampu mengimbangnya. Hal ini mengingat produk Minyeuk Pret memang berkualitas dan bisa diterima masyarakat internasional. “Bisa coba dibandingkan dengan produk ternama saat ini. Minyeuk Pret, baik dari segi aroma dan khas, memiliki keunggulan tersendiri. Minyeu Pret juga lebih tahan lama,” sebut Dodi, optimistis.

Karena itu, menurut Dodi, pihaknya tidak mengalami kendala berarti dalam menjalankan usaha tersebut. “Hanya saja kami terus berbenah untuk mengupgrade manajemen bisnis serta meningkatkan produksi dan menggencarkan promosi,” tambahnya.

Saat ini, perusahaan yang berlokasi di Jalan Wedana Desa Lam Ara, Kecamatan Banda Raya, Banda Raya, ini memiliki 14 karyawan. “Sebanyak 9 orang karyawan tetap dan 5 orang berstatus tenaga lepas,” sebut Dodi.

Dengan tenaga kerja yang masih tergolong minim dan produksi yang terbatas, omset bulanan Minyeuk Pret mencapai ratusan juta rupiah. “Semua ini berkat semangat, baik dari pribadi maupun karyawan. Untuk rencana eskpansi sudah distrategiskan, hanya menunggu waktu dan moment yang tepat,” tandasnya.[]

Komentar