Membawa anak saat memulung menjadi kebiasaannya. Keprihatinan warga terkadang dibalas lelaki itu dengan polah menjengkelkan.

Satu siang di tepian Jalan Teuku Imung Lueng Bata, Banda Aceh, seorang pria paruh baya menyusuri jalanan di tengah derasnya hujan. Ia membawa sekarung botol plastik bekas yang disandang di punggungnya. Di bagian depan tubuhnya, ia juga menggendong seorang bocah laki-laki berusia sekira dua setengah tahun.

Adalah Amrizal (41), pria paruh baya yang sering terlihat di jalanan kota Banda Aceh tersebut acap kali menyita perhatian warga kota. Sehari-hari, ia memulung sambil membawa anaknya yang masih balita.
Meski sering terlihat di seputaran Banda Aceh, pria yang kerap disapa Amri ini tinggal jauh dari hingar bingar kota. Istana kecilnya berada di komplek Perumahan Nasional (perumnas) Ujong Bate, Aceh Besar. Bersama seorang istri dan satu oanak laki-laki yang sering digendongnya, Amri menghabiskan sebagian hari dan malamnya di rumah itu.

Rumah Amri terletak tak jauh dari pintu gerbang Perumnas Ujong Batee. Sekitar 2 km menaiki jalanan terjal, terlihat rumah barak gandeng lima yang salah satu pintunya adalah hunian Amri dan keluarganya. Rumahnya bercat merah di antara rumah lainnya yang bercat hijau.

Rumah petak berukuran 6 x 3 meter itu berdindingkan kayu triplek. Hanya ada satu kamar tidur dan gudang penyimpanan barang. Dapurnya menyatu dengan ruang tamu. Di bagian belakang, ada kamar mandi. Barang-barang terlihat berserakan. Tumpukan kain dan gelas plastik diletakkan sembarangan di sudut-sudut ruang. Lantai yang beralaskan semen juga terlihat seperti tak pernah disapu.

Kondisi itu dikarenakan istri Amri, Nuraini adalah wanita yang kejiwaannya terganggu. Bicara Nuraini melantur. Jika sedang kumat, semuanya tak dipedulikannya. “Sulit untuk memberi tahunya,” kata Amri.

Dengan Nuraini, Amri memiliki empat orang anak. Namun sekarang, hanya satu yang masih bersamanya. Putera pertamanya diasuh oleh keluarga Nuraini. Sementara Melati, puteri keduanya sekarang berada di Yayasan Panti Sosial di Lamreung. Anak bungsunya yang masih bayi, Alia Nurleila, meninggal sebulan yang lalu. Alia meninggal karena terhimpit asi ibunya. Sekarang, hanya tinggal Raffi, putera ketiganya.

Sebelumnya, Raffi juga berada di panti sosial bersama kakaknya. Pihak Dinas Sosial membawa Raffi dan Melati ke panti sosial kerana sering melihat keduanya dibawa Amri memulung. “Memang phak dinas sosial sudah melarang saya bawa-bawa anak di jalanan,” kata Amri kepada Pikiran Merdeka, Kamis pekan lalu.

Setelah seminggu berada di panti sosial Amri, memutuskan mengambil anaknya kembali dengan alasan Raffi adalah putera kesayangannya.

Saat ditemui Pikiran Merdeka di rumahnya, Raffi menangis histeris. Nasi yang sedang ia lahap dibuangnya sembarangan. Piring nasi pun dilempar Raffi. Ibunya tidak bisa menenangkannnya. “Ya begitulah si Adek (Raffi), dia tidak mau sama ibunya. Makanya saya bawa dia kemana-mana,” kata Amri sambil memangku Raffi.

Amri mengaku terpaksa membawa anaknya yang masih kecil itu memulung karena tidak ada pilihan lain. “Boleh orang-orang menyuruh saya tidak bawa adek lagi memulung, tapi kasih saya modal,” ujarnya.

Belakangan ini Amri sering memulung di kawasan Jalan Pango, Ulee Kareng. Dari rumahnya ia naik kendaraan umum dan turun di Simpang Lampineng, persis di depan Kantor Gubernur Aceh. Lalu ia melanjutkan jalan kaki menyusuri jalanan sembari memulung.

Amri sudah memulung sejak setahun terakhir. Sebelumnya, ia bekerja sebagai tukang parkir di Jalan KH Ahmad Dahlan. Selama menjadi tukang parkir, ia juga mengaku sering membawa Raffi bekerja bersamanya. “Memang dari umur tiga bulan si Raffi udah saya bawa-bawa.”

SIMPATI LSM

Sering melihat Amri dan anaknya di jalanan, Ratna Elliza, pemimpin Rumah Singgah C-Four merasa kasihan. Ia mulai mencari tahu alamat rumah Amri. Sebelum tinggal di Perumnas Ujong Batee, Amri dan keluarganya tinggal di Neuheun, Aceh Besar. Saat itu, kondisi rumah Amri sangat memprihatinkan.

Rumahnya kecil, hanya beralaskan tanah, pakaian berserakan d imana-mana. “Rumah nya yang dulu terlihat seperti kandang,” kata Ratna di Rumah Singgah C-Four, Kamis malam lalu.

Melihat kondisi itu, Ratna langsung menyebarluaskan informasi keprihatinannya terhadap Amri. Melalui akun facebooknya, ia membagikan foto-foto kondisi rumah Amri. Hingga pada akhirnya, terkumpul donasi sebesar Rp19.300.000 untuk Amri dan keluarganya.

“Uang itu langsung saya belikan rumah buat dia, sisanya saya berikan modal usaha dan perbaikan rumah.” Rumah yang ditempati Amri saat ini adalah rumah yang diberikan Ratna padanya.

Sementara dari Dinas Sosial tidak ada pembaiyaan apapun untuk membantu keluarga Amri. Hal itu dibenarkan Shinta Desi, pekerja sosial perlindungan anak di Dinas Sosial. “Memang dari Dinsos sendiri tidak memberi apa-apa untuk pak Amri. Cuma kita lebih ke perlindungan anaknya. Yang kita lihat, anaknya tidak layak untuk diasuh oleh mereka. Tapi sekarang satu anaknya sudah diambil kembali,” ujar Shinta, Sabtu (9/1).

Menurut dia, pihak panti memberikan anaknya kembali karena Amri datang ke panti dan mengancam pihak panti. “Ini membahayakan anak-anak panti lain,” tutupnya.()

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh