Jafaruddin bersama dua anaknya yang menderita sakit katup jantung bocor.

NAMANYA Fauzan Hanif, 12 tahun. Kendati terbilang masih sangat belia, penyakit yang dideritanya sangat berat. Sampai saat ini, ia masih mengalami sakit pada jantung yang sering disebut bocor katup jantung. Fauzan punya saudara yang dua tahun lebih muda darinya. Alfi Syahri, demikian nama adik Fauzan. Dua bersaudara dari Gampông Asan, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, ini sebenarnya sangat membutuhkan uluran tangan pada darmawan.

Sudah jatuh ditimpa tangga, barangkali pepatah inilah yang kian hari menimpa keluarga mereka. Bayangkan saja, sang ayah dua bersaudara ini, Jafaruddin, 45 tahun, bukanlah orang berada. Sejak kecil, Jafar sudah menjadi pengemis di jantung Kota Lhoksukon.

Bukanlah keinginannya menjadi peminta berkeliling dari satu titik ke titik lain. Kalau tidak karena kakinya yang cacat sejak kecil, tentunya Jafar mampu bekerja seperti orang umumnya. Karena kondisi yang menuntut, akhirnya Jafar hanya mampu memutar becak tangan, berkeliling di tengah terik dan hujan, membawa ember hijau, mengharap ada receh yang dijatuhkan sesiap yang melihat dan lewat.

Sementara itu, istri Jafar, Darmawati, 40 tahun, hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Jangankan untuk mengobati sakit dua anak mereka, untuk makan sehari-sehari saja, mereka pas-pasan. “Saya tidak bisa bekerja membantu suami mencari uang. Setiap hari saya harus mengantar jemput Fauzan ke sekolah dan mengaji. Ia tidak boleh lelah sedikit pun. Jika tidak, dadanya akan membusung, bibir dan kukunya berubah biru dan agak hitam,” kata Darmawati, Jumat 21 Agustus 2015.

Selain merawat dua anak yang mengalami bocor katup jantung, Darmawati juga masih punyak satu anak lagi. Anak bungsu mereka masih kecil dan sangat butuh belas kasih kedua orangtua. Adapun Fauzan, penyakitnya kian akut. Menurut sang ibu, sudah saatnya Fauzan dioperasi. Masalahnya, operasi tersebut disarankan dokter harus ke rumah sakit di Jakarta.

“Kata dokter, Fauzan harus dioperasi ke Jakarta. Kami tidak punya biaya. Ongkos berangkat ke sana saja kami tak mampu. Kan butuh makan juga selama di sana. Kalau kami ke Jakarta, bagaimana kami harus mencari makan?” tutur Darmawati.

Ia tidak menyangkal biaya berobat sekarang bisa ditalangi dengan kartu BPJS. Namun, menurut dia, ongkos dan makan selama di Jakarta bukanlah hal mudah bagi keluarga ini. terlebih lagi, sang ayah hanya pengemis yang tak tentu arah. Kadang harus jadi peminta di jantung kota Petro Dolar, kadang pula harus mengemis di pinggir-pinggir jalan. Semua itu menjadi suatu yang terpaksa dilakukan demi menyambung hidup hari demi hari.

“Mungkin biaya berobat gratis, tapi ongkos dan makan kan tidak gratis. Andaikan saya punya uang, mungkin kini Fauzan sudah sembuh. Pasien lain yang sama sakitnya dengan Fauzan sudah dioperasi dan sudah sembuh,” kisah Darmawati dengan suara di kerongkongan.

Wanita bertubuh kurus itu menambahkan, tahun 2014 lalu anaknya sudah pernah diberi rujukan oleh Puskesmas Lhoksukon untuk berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Zainal Abidin Banda Aceh. “Kondisinya sepulang dari Banda Aceh cukup baik, badannya mulai berisi. Tapi, saat ia kelelahan dan salah makan, ia kembali sakit. Ia hanya sembuh sementara,” paparnya.

Kepala Puskesmas Lhoksukon, dr Lukman MN, yang ditanyai perihal Fauzan, mengakui Fauzan dan Alfi merupakan pasien dari Puskemas Lhoksukon. Namun, kata dia, kondisi Fauzan sudah cukup parah, sedangkan Alfi baru terkena penyakit yang sama sekitar 2 tahun lalu.

“Fauzan harus dioperasi, itu satu-satunya cara penyembuhan untuk penyakit kebocoran katup jantung. Mengkonsumsi obat-obatan dengan pengobatan biasa hanya sekedar menghilangkan gejalanya saja, seperti demam dan lemas,” kata Lukman.

Untung tak dapat raih, malang tak dapat ditarik. Selain berdoa dan pasrah, tak yang dapat dilakukan keluarga Darmawati. Hidup sebagai ibu rumah tangga dan suami cacat kaki yang hanya bekerja keliling kampung membawa ember kecil, rasanya terlalu miris bisa membawa dua anak operasi jantung.

Namun, hidup tetap harus dilanjutkan, demi mensyukuri nikmat Tuhan. Paling tidak, berusaha untuk anaknya tetap makan. Selebihnya, hanya kekuasaan Tuhan melalui tangan para darmawanlah yang dapat membawa keluarga ini keluar dari kondisi sekarang. Semoga!

[PM004]

Komentar