Oleh: Zulfikar R H Pohan
Ketua Sanggar Daun Mekaum (SDM) Banda Aceh, Mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam UIN Ar-Raniry, sekaligus Mahasiswa Jurusan Akuntansi Unsyiah Banda Aceh.

Zulfikar R H Pohan

Sirene mobil polisi memekakan telinga sambil mengejar mobil kontainer yang membawa keonaran oleh para penjahat Rusia yang menabrak dan menembak mobil-mobil tak bersalah. Semacam angin segar yang dinanti-nanti oleh para penduduk kota, sesosok pahlawan yang tidak asing dan selalu ditunggu-tunggu datang dengan cepat menyerobot situasi, memelintir dan menggantung penjahat berkebangsaan Rusia itu dengan jaring-jaringnya yang khas. Dialah Spiderman dalam film The Amazing Spiderman (2004).

Cuplikan di atas adalah apa yang sering kita lihat dalam film-film pahlawan picisan ala Hollywood, menyajikan sosok-pahlawan yang gagah berani memberantas kejahatan di kotanya, menyelematkan yang lemah, menyelamatkan kekasihnya, keluarga, sahabat bahkan dunia. Disusun sedemikian lengkap dengan efek-efek yang memukau. Dan, saat ini pahlawan-pahlawan semacam itu semakin kompleks dan sangat produktif membuat dan menciptakan film dan sosok pahlawan dalam dunia Marvel dan DC.

Di era yang disemaki film-film picisan Hollywood dalam bentuk imajinasi yang paling liar dengan sajian dunia yang ada dalam ‘versi mereka’, dunia yang disesaki alien dan penjahat yang mencoba menghancurkan dunia ini, atau setidaknya membuat dunia ini lebih buruk lagi. Dalam satu bentuk yang paling masif, Hollywood menyediakan imajinasi liar tentang kemanusiaan, mendefinisikaan segala performa sejarah dan mengkaburkan makna pahlawan itu sendiri.

Film-film Hollywood yang mempunyai banyak stok ‘pahlawan’ seperti Marvel dan DC adalah citra yang coba dibangun oleh Barat dengan mengandalkan imajinasi manusia yang terbatas pada hal-hal tertentu. Dari berbagai perspektif manusia jaman now yang mengganggap pahlawan adalah sosok kuat, gagah dan bermacam-macam standar maskulin, maka tidak salah jika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai definisi pahlawan yang mampu membuat kita tercekat. KBBI mendefiniskan pahlawan sebagai ‘orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani’. Benar-benar sebuah definisi pahlawan yang Hollywood-able sekali, bukan?

Sebenarnya, apa sih pahlawan itu? Apakah mereka yang mempunyai kekuatan dan kemampuan di luar rata-rata manusia kebanyakan? Mereka yang mempunyai pengaruh luar biasa dan mampu membolak-balik kenyataan, atau apa? Dalam hal ini makna pahlawan semakin kabur dan tak jelas arahnya. Alih-alih membawa sikap kepahlawan dalam pribadi masing-masing, kita malah berusaha membuat definisi pahlawan menjadi begitu eksklusif yang hanya dimiliki kelompok atau golongan ‘high class’ dan tak bisa disentuh oleh kelas marjinal kecuali sekedar mengimajinasikannya.

Penyembahan kita terhadap sosok ‘pembela kebenaran, pejuang gagah berani’ selain definisi yang beraroma maskulin juga tak lain saya kira hanyalah cara ampuh untuk membawa peradaban kita menuju kepada peradaban fasisme. Membawa suatu faham kelebihan dari satu kelompok atau perorangan yang jauh melampaui kelebihan manusia lainnya. Adolf Hitler telah mati sejak lama, namun fasisme diciptakan dengan gaya yang lebih apik. Fasisme menampilkan tokoh-tokoh pemimpin politiknya dengan propaganda yang menyusupi lukisan-lukisan, poster, baliho, dan berbagai asupan media. Diserukan juga bahwa Hitler adalah pahlawan, mesiah dan lain-lain. Benito Mussolini yang disebut sebagai ‘pahlawan ideal’ dan macam ragam ‘gelar’ untuk diktator fasis lainnya.

Kita menghormati jasa kepahlawanan dari orang-orang tua kita, seperti Diponegoro, Cut Nyak Dien, Kapitan Patimura, Sisingamangaraja, sampai pejuang revolusi seperti Hatta, Tan Malaka dan lain lain. Pahlawan-pahlawan yang kita agungkan tersebut tentu tidak berada di bumi di mana mereka hanya mempunyai kehidupan privat dari pagi sampai pagi lagi hanya berjuang dan terus berjuang. Berapa jauh kita berfikir mereka juga punya kehidupan? Tan Malaka juga pernah ngopi bersama kaum-kaum marjinal, Cut Nyak Dien juga pasti pernah duduk santai dengan tetangganya di halaman rumah yang juga menyiapkan makanan untuk keluarga, dan bagaimana Hatta menyiram bunga yang tumbuh di halamannya.

Maka, pahlawan adalah manusia yang hidup di tengah-tengah kita, berbuat untuk manusia-manusia di sekitarnya. Sebab, manusia belum menjadi manusia sebelum dapat bermanfaat bagi manusia lainnya. Pahlawan dunia nyata kita bukanlah mereka yang mampu membalik tank dan melumat pesawat tempur. Pahlawan kita hidup bersama-sama untuk berjuang. Para syahid di sisi Cut Nyak Dien, para syuhada revolusioner di hidup Tan Malaka dan Bung Tomo, mereka semua nyata berbuat dan sama-sama berjuang, bekerja sama untuk satu perjuangan kebenaran dan kemerdekaan yang akan dirasakan bersama-saama pula.

Kembali membahas hero-hero Marvel dan DC yang membuat saya geram tak berkesudahan. Mereka tak membutuhkan polisi untuk membunuh alien dan robot jahat yang ingin menguasai bumi. Mereka bekerja sendirian (atau dengan kelompok kecil sesamanya), masyarakat di samping mereka dianggap manusia lemah yang hanya bisa teriak dan berlindung dari serbuan penjahat-penjahat. Masyarakat seperti anak kecil yang tak bisa berbuat apa-apa selain berlari dan menyelamatkan diri. Dari sini, kepahlawanan menjadi amat mengerikan dan membuat saya tak pernah suka kisah-kisah pahlawan besutan Hollywood atau pahlawan-pahlawan fasis sejenisnya. Sebab, sejatinya pahlawan bukanlah fasis. Mereka adalah sosok yang berjuang bersama masyarakat. Ide-ide pahlawan yang dibuat sedemikian tidak berimbang dengan kodrat sejati manusia sebagai makhluk sosial. Pahlawan sering digambarkan sebagai seorang sosok yang tampil sebagai orang yang ditunggu dan yang dipuja. Benih-benih fasisme tengah berkembang di masyarakat kita dan coba menjajah Timur dengan persepsi superhero dari bentuk wilayah Superpower Barat.

REFLEKSI 10 NOVEMBER
Setiap tanggal 10 November adalah hari pahlawan yang bersejarah buat negara kita, sebuah sambutan dan kenangan bangsa kita yang berjuang bersama-sama. Tentu banyak tanggal, bulan dan tahun di mana bangsa kita bergerak untuk melawan ketidakadilan dan penjajahan. Namun, 10 November adalah cara kita untuk tidak abai pada para pahlawan sebagai ingatan sejarah dan refleksi masa kini.

Pada sebuah film yang ditulis The Wachowskis berjudul V for Vendetta (2005) sosok bernama V dengan gerakan anarkisme, mengangkat kesadaran rakyat untuk menghentikan fasisme. Dari pidato V yang menyulut kesadaran, berujar mengingatkan “remember, remember 5th November” atas hukuman kematian Guy Fawkes yang menentang kebusukan pemerintah. Guy Fawkes ditangkap dan digantung pada 5 November (hanya beda lima hari dari hari pahlawan di negara kita) digunakan V untuk mengingatkan kebrutalan, korupsi dan kebusukan yang mesti dilawan rakyat. Pada klimaks film, rakyat bersatu untuk berkumpul mengingat bahwa negara sedang tidak baik-baik saja, mereka menolak neo-fasisme di negara mereka. V hanyalah tokoh fiksi, namun Guy Fawkes adalah tokoh nyata yang diingatkan V sebagai ingatan dan perlawanan pada fasisme.

Pada intinya, 10 November melampaui catatan sejarah, melampaui nostalgia. 10 November kita adalah sebuah kenangan dan bocoran masa depan dari bagaimana cara mempersepsikan pahlawan bagi kita, dan menghargai setiap bentuk kepahlawanan dari jaman kita sekecil apapun dan dalam bentuk apapun. Sebab, setiap manusia adalah pahlawan dan setiap generasi berhak sadar akan musuh abadi bernama fasisme.[]

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh