Diduga ada motif politik dari pihak sayap kanan Israel untuk memenangi Pemilu dalam serangan Israel di jalur Gaza. Israel juga mengalami kerugian ekonomi akibat serangan ini.

[quote]Oleh M. Agung Riyadi[/quote]

Tubuh-tubuh tak bernyawa empat bocah kecil itu terbujur kaku di dalam balutan bendera Palestina. Keempat bocah itu adalah anggota keluarga Al-Dallu, penduduk sipil di wilayah Gaza yang rumahnya hancur lebur akibat serangan udara tentara Israel, Senin kemarin.

“Apakah anak-anak ini terlihat seperti teroris?” teriak anggota keluarga Al-Dallu seperti dilaporkan The Guardian. Akibat serangan keji Israel, keluarga Al-Dallu harus merelakan kepergian delapan anggota keluarganya, empat diantaranya anak-anak berusia di bawah tujuh tahun.

Hingga Senin kemarin, serangan Israel ke Jalur Gaza telah memasuki hari keenam. Korban jatuh di pihak Palestina dilaporkan sebanyak 105 warga tewas dan lebih dari 1.750 orang mengalami luka-luka. Sebagian besar korban tewas, adalah warga sipil, perempuan, dan anak-anak. Berdasarkan laporan sebuah lembaga kemanusiaan, sejak 29 September 2000, saat perlawanan intifada meletus hingga Mei 2012, sejumlah 1.477 anak Palestina telah terbunuh.

Banyaknya korban sipil yang jatuh memang tidak terlepas dari pola serangan Israel yang membabibuta. Rudal-rudal dan roket yang dilepaskan dari pesawat-pesawat tempur F-16 Israel dan juga helikopter Apache, dengan gencar menembaki sasaran apa saja yang dicurigai pihak Israel sebagai sarang gerilyawan Hamas.

Selain warga sipil, dilaporkan, 6 orang wartawan yang meliput serangan Israel di Gaza juga menjadi korban dan mengalami luka-luka. Sejak serangan pertama, tercatat telah 10 orang wartawan terluka akibat serangan Israel. Sekedar pengingat, pada serangan tahun 2009 silam, tentara Israel telah menewaskan 4 orang wartawan.

Seperti biasa, pihak Israel mengklaim serangan-serangan yang mereka lancarkan diarahkan kepada Hamas.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengaku pasukannya telah berhasil menyerang lebih dari 1000 sasaran terkait Hamas di Jalur Gaza. “Secara signifikan, serangan ini telah merugikan kemampuan mereka untuk meluncurkan roket terhadap Israel,” ujarnya seperti dikutip Jerusalem Post.

Dalam serangan pertama Rabu pekan lalu, militer Israel memang berhasil menewaskan Ahmad Jabari, komandan senior sayap militer Hamas di Jalur Gaza. Namun, serangan selanjutnya, ternyata lebih banyak mengorbankan pihak sipil dan anak-anak, termasuk anak dari Ahmad Jabari. Israel sendiri berdalih serangan itu dilakukan sebagai upaya pertahanan diri atas serangan roket yang dilancarkan pejuang Hamas.

Di sisi lain, Hamas menegaskan, serangan roket itu mereka lakukan sebagai upaya membela diri agar Israel membuka blokadenya terhadap wilayah Jalur Gaza. Selain itu, Hamas juga menginginkan Israel menghentikan serangan ke Gaza, dengan dalih menyerang pimpinan-pimpinan Hamas, yang dianggap Israel sebagai organisasi teroris.

Dalam pertemuan tidak langsung antara Hamas-Israel Minggu kemarin, permintaan ini kembali dilontarkan pimpinan Hamas, Khaleed Mashal kepada Presiden Mesir Mohamed Morsi. Pemerintah Mesir memang berupaya menjadi penengah antara kedua pihak. Sayangnya upaya gencatan senjata ini mentok, lantaran Israel menolak permintaan tersebut.

Israel pertama kali melakukan blokade itu pada Juni 2006 setelah gerilyawan Palestina menculik salah seorang prajuritnya, Gilad Shalit, yang akhirnya dibebaskan pada Oktober lalu untuk ditukar dengan 1.027 tahanan Palestina. Blokade itu diperketat pada Juni 2007 setelah pejuang Hamas menguasai Jalur Gaza sesudah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Sejak itu, sekitar 1,6 juta penduduk Gaza mengalami kelaparan dan juga masalah kesehatan.

Meski oleh Dewan Hak Asasi Manusia (UNHCR) PBB blokade tersebut dianggap melanggar hak asasi manusia, toh Israel tak bergeming. Terlebih, tak ada sanksi apapun dari PBB terhadap Israel atas berbagai pelanggaran kemanusiaan itu. Bahkan Presiden Amerika Serikat yang baru terpilih kembali, Barack Obama, menyatakan dukungan penuh AS kepada Israel. “Tidak ada negara di dunia yang akan menoleransi hujan rudal yang terjadi,” begitu dalih Obama, seperti dikutip AP.

Wajar jika Israel semakin jumawa dan mengulur upaya damai. “Kami tidak terburu-buru menyelesaikan perundingan ini, warga kami di wilayah selatan berhak untuk dapat hidup dengan normal dan tidak khawatir akan serangan dari Gaza,” ujar Juru bicara Israel, Mark Regev, seperti dikutip AP.

Dikabarkan, Israel akan melakukan serangan darat ke Gaza. Israel telah menyiapkan 75.000 pasukan cadangannya untuk menginvasi Gaza. Saat ini sudah 16.000 pasukan cadangan yang sudah bertugas aktif, sementara tank dan meriam-meriam sudah disiagakan di berbagai posisi di perbatasan Israel-Gaza. “Kami tak membatasi diri dalam cara dan waktu (berperang). Kami berharap semua ini cepat berakhir, namun tentu semua tergantung jika semua tujuan telah tercapai,” kata Menlu Israel Avignor Lieberman kepada stasiun televisi Israel, Channel One.

Hamas sendiri tak gentar terhadap rencana itu. “Kita menyaksikan eskalasi besar terhadap rakyat kami di Gaza, dan terlihat jelas bagi saya bahwa agenda Israel ialah perang, bukan perjanjian damai atau gencatan senjata. Kami menuntut tanggung jawab pemerintah Israel,” kata juru runding Hamas, Saeb Erekat kepada Al-Jazeera di Tepi Barat. Alhasil jalan kekerasan memang belum bisa dihentikan.

Banyak pihak menduga, serangan Israel terhadap Gaza yang dikuasai Hamas tak hanya melulu berlatar belakang masalah keamanan. Motif politik justru menjadi alasan utama dari aksi-aksi brutal tentara Israel. Duta Besar Palestina untuk Turki Nabil Maarouf menyebutkan, setidaknya ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai oleh pihak Israel dengan melakukan serangan ke Jalur Gaza.

Pertama, Israel menyerang Gaza adalah untuk mendapatkan dukungan publik Israel menjelang pemilihan umum yang akan dilakukan negara Zionis tersebut pada awal tahun 2013. “Mereka melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan pada tahun 2008. Kelompok sayap kanan Israel berusaha memenangkan pemilu dengan membunuh warga Palestina yang tidak bersalah,” kata Maarouf, seperti dikutip harian Turki, Hurriyet, Jumat pekan lalu.

Alasan kedua adalah, menghambat upaya Palestina mendapatkan status keanggotaan di PBB. Pengajuan tersebut direncanakan pihak Palestina akan dilakukan pada tanggal 29 November nanti. Sementara alasan terakhir adalah untuk menutupi konflik yang terjadi di Suriah. Dengan serangan tersebut maka apa yang terjadi di Suriah tidak lagi menjadi prioritas pemberitaan di media-media. “Lihat saja dua hari terakhir, apa ada orang yang berbicara tentang Suriah?” tanya Maarouf.

Sementara itu upaya mendamaikan kedua belah pihak terus berlangsung di Kairo, Mesir. Seperti dilaporkan The Guardian, Presiden Obama, telah mengontak Presiden Mesir guna mendiskusikan upaya gencatan senjata. Sekjen PBB, Ban Ki Mon, juga dikabarkan akan berbicara dengan Netanyahu di Jerusalem dan Mahmud Abbas di Ramallah, untuk mengupayakan hal serupa.

Pihak Israel sendiri tampaknya masih ingin berdamai mengingat besarnya kerugian ekonomi akibat perang ini. Dalam sepekan ini saja, Israel diberitakan telah menghabiskan setidaknya Rp 2,6 triliun untuk menyerang Gaza. Seperti dilaporkan harian Israel Haaretz, jumlah sebanyak itu terutama dihabiskan untuk amunisi senjata, bahan bakar kendaraan, dan peralatan perang.

Selain itu Israel juga mengalami kerugian berupa hilangnya potensi pemasukan negara akibat kunjungan wisata yang dibatalkan akibat perang ini. Kerugian itu diperhitungkan mencapai ralebih dari Rp 700 milyar rupiah. Selain itu, iklan televisi pun ikut terpengaruh konflik sepekan belakangan.

Menurut Yifat, lembaga pemerhati media, iklan televisi turun 20% persen menjadi Rp 168 miliar sejak Israel mulai menyerbu Gaza Rabu pekan lalu. “Para pengiklan memutuskan menunda memasang sejumlah iklan. Mereka berharap keadaan semakin baik dalam beberapa hari ke depan,” ujar Dan Ron, Direktur Pemasaran jaringan stasiun televisi Channel 10.[gatra]

Komentar