Jakarta—Penyelenggaraan Indonesian Coffee Festival (IFC) 2012 merupakan salah satu upaya untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat kopi dunia sekaligus mempopulerkan branding kopi Indonesia seperti kopi Luwak atau kopi tubruk, kata Ellyanthi Tambunan, ketua peneyelanggara ICF, beberapa waktu lalu.

“Kami ingin mempopulerkan kopi Indonesia seperti kopi Luwak, kopi tubruk baik secara internasional maupun lokal karena banyak masyarakat kita bahkan warga dunia yang tidak tahu dari mana asal kopi yang diminumnya. Oleh karena itu dalam event ini kami ingin tampilkan bisnis kopi ini mulai dari hulu hingga hilir, tambahnya.

Untuk semakin mengangkat kopi Indonesia, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun mendukung Festival Kopi Indonesia pertama yang diberi tajuk Indonesian Coffee Festival 2012 di Ubud, Bali, pada 15-16 September 2012, tepatnya di Museum Puri Lukisan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Festival ini merupakan hasil kerja sama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemkab Gianyar, Kerajaan Ubud, Asosiasii Kopi Spesial Indonesia, Komunitas Kopi, dan Blogger Kopi. Nantinya, selain menampilkan kopi-kopi dari berbagai daerah di Indonesia, dalam festival juga ada cara mengolah dan menyajikan kopi khas Indonesia, kata Ellyanti.

Pengunjung yang hadir dalam festival akan melihat dan mengetahui kopi mulai dari hulu sampai ke hilir, yaitu mulai dari kopi saat penanaman sampai kopi sampai disuguhkan dalam cangkir. Sementara pilihan Ubud sebagai tuan rumah festival kopi tersebut karena telah menjadi salah satu ikon pariwisata Indonesia. Selain itu, pihak panitia juga akan mengadakan tur ke perkebunan kopi di Kintamani, Kabupaten Bangli.

“Kebun ini sudah mendapat hak geografis identikasi. Inilah kebun yang menjadi salah satu contoh perkebunan terbaik di Indonesia. Akan ada unsur agrowisata nantinya di sana,” jelasnya.

Ellyanthi mengungkapkan saat ini kopi merupakan komoditi penting untuk Indonesia karena menyumbang hampir 0,57% dari total GNP. Kopi Indonesia juga merupakan komoditi penting dunia. Begitu pentingnya sehingga berbagai upaya digunakan untuk menguasai komoditi ini guna memasarkan kembali ke pasar global.

Problem utama dari kekayaan Indonesia ini adalah bagaimana prestasi ekonomi yang lahir dari komoditi ini tidak cukup mampu mensejahterakan petaninya. Indonesian Coffee Festival (ICF) diselenggarakan untuk merespon kebutuhan tersebut sekaligus memperkenalkan kopi Indonesia , single origin sebagai salah satu produsen kopi spesial terbaik di dunia.

Data ICF memperkirakan ada sekitar 100 miliar cangkir atau 165,9 ton kopi di seduh setiap hari diseluruh dunia. Di Indonesia sendiri jumlah kebutuhan kopi diperkirakan mencapai 121,107 ton/tahun.

“Indonesian Coffee Festival (ICF) merupakan sebuah festival budaya, tepatnya budaya ngopi serta mempertemukan para pecinta dan komunitas kopi, produsen, pemilik kafe, warung/kedai kopi, F&B bisnis, pembeli dan semua yang berhubungan dengan bisnis kopi dan turunan-nya antara lain berupa kuliner dan industri kreatif,” kata Ellyanthi yang juga penggagas lahirnya event ini.

Pihaknya berharap upayanya mempertemukan komunitas hulu dan hilir kopi Indonesia mendapat tanggapan positif dari masyarakat karena event ini mempertemukan para petani, pabrikan, distributor kopi, distributor coffee maker machine agents/equipment dan produsen china ware/ceramic.

Menurut Ellyanthi, dalam festival tersebut akan berlangsung beberapa agenda acara seperti barista workshop, bazaar kopi, dan kunjungan ke perkebunan kopi. Dalam barista workshop, akan dibuat pelatihan bagi para barista (peracik kopi yang mengoperasikan mesin espresso).

“Kami harapkan acaranya dihadiri bukan hanya barista tetapi juga mahasiswa pariwisata mengingat di Jakata dan Surabaya, barista sudah masuk dalam kurikulum pariwisata. Mahasiswa bisa semakin mengenal kopi Indonesia. Diharapkan juga nantinya akan ada sertifikasi untuk barista,” tandasnya.[bisnis]

Komentar