Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol T Saladin (Foto PM/Makmur Dimila)
Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol T Saladin (Foto PM/Makmur Dimila)

Hati-hati. Pencuri kini tidak mengincar sepeda motor Anda, melainkan kuncinya.

Tanpa waspada, Nadiatul Hikmah (20) memarkirkan motornya di sudut parkiran di halaman belakang Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, dengan meninggalkan  kunci di starter Honda Beat putihnya.

Kamis 1 September 2016 itu, pukul 14.40 WIB, kampus sedang sepi. Di parkiran, dilihat Nadia hanya ada sekitar 20-an sepeda motor. Dia lekas masuk gedung kuliah. Dia hendak menghadiri rapat Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Dakwah Manajemen Dakwah (DMD).

“Setelah satu jam kemudian, saya baru ngeh, kunci motor saya hilang,” cerita Nadia kepada Pikiran Merdeka, Sabtu (17/09/16). “Saya kira waktu itu kunci motor disembunyikan kawan saya,” sambungnya.

Namun Nadia salah. Dia segera melihat ke parkiran. Raib, ternyata. Dia langsung kabarkan ke teman-teman HMJ DMD, berikut ke Satpam. Sama-sama mereka melihat rekaman kamera CCTV (closed circuit television) yang dipasang di parkiran fakultas.   

“Pelaku datang dengan motor dan parkir di samping motor saya. Dia lihat ada kunci di motor dan langsung mengambil kuncinya. Lalu dia seperti telefon seseorang,” ujar mahasiswi semester lima asal Banda Aceh itu.

Pelaku itu kemudian berjalan kaki masuk kampus. Tak lama, seseorang datang dan membawa kabur Honda Beat putih bertuliskan ‘Nadya’ di plat kendaraan.  

“Kami zoom rekamannya, tapi tidak bisa terlihat jelas pelakunya. Gambarnya pecah,” tambahnya.

Tak lama setelah itu, dengan bukti tersebut, Nadia dibantu seniornya di HMJ melaporkan kasus pencurian ke Polsek Syiah Kuala, Banda Aceh.

Empat hari paska hilangnya motor itu, Nadia berkali-kali hubungi Polsek Syiah Kuala, berharap ada kabar terbaru. “Polisi seperti menganggap remeh penanganan kasus curanmor,” sebutnya.

Namun Nadia juga mendapat hikmah. Dia sadari dirinya teledor. Padahal sebelum kejadian itu, dia empat kali menemukan kunci motor mahasiswa dan dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi tertinggal di starter; dia lekas menyerahkannya ke satpam. Tapi pada saat naas itu, dia lupa amankan kunci motornya sendiri.

“Saya hanya bisa berdoa,” ujarnya.

Sementara itu, Polresta melalui Polsek Syiah Kuala menyebarkan rekaman CCTV tadi ke security kampus untuk memudahkan penangkapan pelaku.

Baru sepuluh hari usai kejadian, gerak-gerik pelaku terbaca. “Bukan oleh polisi, tapi abang leting (senior_red) di HMJ,” imbuh Nadia.

Senior Nadia pada Minggu (11/09/16) siang, sekitar pukul 14.00 WIB melihat sosok seperti terekam CCTV di kawasan Jalan Inong Balee, di sekitaran kampus. Diikutilah terduga pelaku yang berkendara menuju kampus UIN Ar-Raniry.

Terduga pelaku lantas masuk halaman parkir Fakultas Tarbiyah. Senior Nadia langsung melapor ke Satpam. Security lantas hubungi Polsek.

Sesaat kemudian, terduga pelaku ditangkap tanpa perlawanan oleh Tim Opsnal Reserse Polresta Banda Aceh dan Polsek Syiah Kuala.

MODUS BARU

Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol T Saladin melalui Kapolsek Syiah Kuala AKP Asyhari Hendrik dalam konferensi pers, Senin (12/9/2016), mengatakan pelaku berinisial RD (24) asal Langsa dan berstatus sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh.

Dia menyataakan, saat ditangkap pelaku sedang bertemu dengan pacar adiknya, untuk memberikan uang kiriman keluarga dari kampung. Pelaku sudah lama diincar polisi karena telah beberapa kali menjalankan aksi serupa sebelumnya.

“Sejak kejadian 1 September itu, kami terus menyebarkan hasil rekaman CCTV UIN ke petugas security kampus itu. Saat pelaku terlihat di kampus, security langsung menelepon kami,” kata Asyhari.

Polisi lantas menggeledah rumah kos RD di Darussalam pada hari itu juga. Menurut catatan Humas Polresta Banda Aceh, ditemukan 20 pasang pelat kendaraan dan 69 kunci sepeda motor yang menjadi TO (target operasi) RD. Salah satunya pelat Honda Beat bernopol BL 4176 JV milik Nadia.  

“Pelaku mencuri dengan mengincar kunci yang tertinggal di sepeda motor atau berpura-pura pinjam kunci pada korban untuk diduplikasikan. Ini modus baru,” ujar Kasatreskrim Polresta Banda Aceh AKP Pradana Aditya Nugraha melalui Kasubag Humas Ipda Bambang Junianto kepada Pikiran Merdeka, Jumat (16/09/16) malam.

Dia menerangkan, hasil penyelidikan polisi, RD tidak bekerja sendirian. Tersangka mulanya mengintai sepeda motor yang tertinggal kuncinya di starter sepeda motor atau bukaan jok.

Jika kedapatan, jelas Bambang, pelaku ambil kuncinya dan mencatat nomor pelat kendaraan di kertas untuk ditempeli di kunci. Tersangka lalu meninggalkan sepeda motor dan memerintahkan komplotannya untuk beraksi di waktu yang tepat.

“Bahkan korban ada yang dibuntuti sampai ke rumah.”

Hal itu terlihat ketika digeledah kos RD. Selain mengamankan kunci dan pelat, polisi juga menemukan dua sepeda motor: Honda Beat yang dicuri di UIN Ar-Raniry dan motor bodong yang pelaku gunakan sehari-hari.

Pihak kepolisian menduga, pelaku menampung motor curian di kos. Pelatnya dicopot sebelum dijual ke penadah.

Berdasarkan pengakuan tersangka kepada petugas, sebut Bambang, motor curian itu dijual ke penadah Rp3.250.000. RD mengaku sudah empat kali mencuri sepeda motor dan 10 kali menadahnya, sehingga ia melakukan tindak pidana 14 kali.

POLISI HURUS PRO-AKTIF

Nadia lega. Jika tidak, dia bakal rugi hingga Rp13 juta. Dia merasa sedikit terbantu oleh CCTV yang baru seminggu dipasang di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, meski kualitas gambarnya rendah.

“Saya berharap polisi khususnya di wilayah hukum Polrestas Banda Aceh agar lebih tegas dalam pengamanan, jangan hanya menunggu laporan kendaraan hilang dari warga,” cetus Nadia kepada Pikiran Merdeka.

Kejadian menimpanya, diakui Nadia, cukup menjadi pelajaran bagi dirinya, warga lainnya, dan polisi, bahwa keamanan Kota Banda Aceh perlu ditingkatkan.

Polisi selama ini, sebut Nadia, tidak berupaya mencegah curanmor terutama di lingkungan kampus. Polisi tidak bisa hanya mengandalkan keamanan dari Satpam dan CCTV.

Menurut anggota HMI Banda Aceh itu, curanmor sudah sering terjadi di UIN Ar-Raniry maupun di lingkungan Kopelma Darussalam.

“Sesekali polisi harus datang ke kampus-kampus. Kalau mengandalkan satpam, mungkin mereka melihat gerak-gerik (terduga) pelaku seperti melihat mahasiswa pada umumnya. Tapi kalau polisi kan sudah dibekali ilmu khusus yang pasti bisa mengidentifikasi gerak-gerik pelaku,” tuturnya.[]

 

Komentar