Mancong dan kincir air tambak udang produksinya. (FOTO: Joniful Bahri/Pikiran Merdeka)

Mancong dan kincir air tambak udang produksinya. (FOTO: Joniful Bahri/Pikiran Merdeka)
Mancong dan kincir air tambak udang produksinya. (FOTO: Joniful Bahri/Pikiran Merdeka)

PM, Bireuen—Setelah sukses dan berhasil menciptakan mesin perontok multiguna sembilan fungsi, Ismuha M Amin alias Mancong (35) warga Cot Trieng, Bireuen, kini memproduksi kincir air tambak udang vannamei.

Bersama rekan kerjanya, Abu Razak, mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu memproduksi sepuluh unit kincir air tambak di tahap awal.

“Tahap awal, saya gunakan untuk keperluan budidaya udang vannamei di areal tambak sendiri. Ini langkah percobaan utama setelah produksi,”ujar Ismuha kepada pikiran merdeka.com di Bengkel Mesin Produksi SMKN 1 Bireuen, Cot Gapu, Sabtu (22/4/2014).

Ismuha atau yang sering disapa Mancong,  menyatakan, dengan mesin produksinya, pelaku budidaya udang vannamei (litopenaeus vannamei) di Kabupaten Bireuen ke depan tak perlu bersusah-payah memesan kincir air dari luar daerah.

Harganya relatif murah, beber Mancong, namun kualitas kincir air produksinya tak kalah dengan bikinan pabrik dari luar Aceh. Produksi tersebut sangat mendukung untuk kebutuhan vital budidaya udang vannamei secara intensif.

Selama produksi di bengkel SMKN Bireuen yang lengkap dengan peralatan penunjang,Mancong dan Razak dibantu siswa sekolah kejuruan teknik mesin produksi.

Ide produksi sendiri diperoleh Mancong karena keterbatasan daya beli produk luarsaat petani tambakbudidaya udang di Bireuen justru mulai diminati.Ia sendiri tak sanggupbeli kincir air bikinan pabrik yang harganya relatif mahal.

“Selama ini kincir keluaran pabrik sangat memberatkan petani tambak yang baru merintis usahanya,sehingga timbul ide seperti ini. Nantinya bila ada permintaan  masyarakat, kami akan memproduksi lagi,” ujar Mancong  yang juga alumni SMKN 1 Bireuen itu.

Dia merincikan, kincir air tambak produksi pabrik dijual dipasaran mulai Rp6 juta per unit, bahkan lebih. Tetapi kincir air produksinya, Cuma dipatok harga Rp4 juta per unit dengan kualitas standar produksi pabrik yang sama.

Disinggung dengan daya hemat listrik,  Mancong menerangkan, kincir air tambak udang  produksinya menggunakan mesin (dinamo) dengan kekuatan 1 HP (380 volt), sama dengan keluaran pabrik.

“Selama proses produksi ini, sejumlah pengusaha tambak di Bireuen telah memesan kincir air  kami. Kincir air produksi kami tetap  memberikan garansi selama setahun penggunaan, sehingga tidak mengecewakan,” jelasnya.

Tujuan utama dirancang produksi kincir air tambak, sebut Mancong,untuk menghemat biaya pelengkapanbudidaya udang yang mulai diminati warga pesisir Bireuen dan Aceh pada umumnya. (Joniful Bahri)

Komentar