PM, TAPAKTUAN – Sejak beberapa bulan terakhir, bus sekolah yang melayani kebutuhan transportasi siswa sekolah di Gampong Air Pinang dan Lhok Reukam, Kecamatan Tapaktuan, tidak beroperasi.

Akibat kondisi ini, puluhan siswa di wilayah tersebut mengalami kendala pergi ke sekolah di pusat Kota Tapaktuan yang berjarak sekitar 10 Km dari kampung mereka.

Kondisi itu pula mengakibatkan puluhan siswa tingkat SMP, MTsN, SMA, MAN dan SMK yang bersekolah di Kota Tapaktuan harus menumpang kendaraan angkutan umum hingga mobil pengangkut barang.

Fera Musnanda, salah seorang siswa mengatakan, akibat tidak beroperasinya bus sekolah mereka sering terlambat datang bahkan terpaksa libur sekolah. Ia khawatir,
kondisi ini bisa berdampak terhadap nilai ujian.

“Persoalannya, menumpang kendaraan umum kami sering terlambat sampai ke sekolah karena angkutan yang tersedia terbatas. Sebab mobil angkutan penumpang yang beroperasi selain terbatas juga mengambil penumpang lain. Kami sering kena hukuman dari pihak sekolah karena terlambat sampai pada pagi harinya,” kata salah seorang siswa kepada wartawan di Tapaktuan, Kamis (18/1).

Pihaknya menyesalkan sikap Pemkab Aceh Selatan yang terkesan tidak serius mengurasi bus sekolah tersebut agar tetap beroperasi. Padahal saat menumpang bus sekolah tersebut, para siswa membayar ongkos sesuai jumlah yang telah ditetapkan.

“Naik bus sekolah itu kami bayar, bukan gratis. Tapi kenapa kami di terlantarkan. Soalnya sering terjadi disaat sopir bus tersebut ada order carteran membawa orang pesta kami di terlantarkan, seharusnya tidak boleh seperti itu harus diutamakan untuk anak sekolah,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, dalam sekali perjalanan ke sekolah para siswa harus mengeluarkan uang Rp 6.000 untuk ongkos mobil bus sekolah tersebut. Jumlah itu lebih mahal dibandingkan dengan ongkos angkutan umum.

“Kami juga meminta kepada Pemkab Aceh Selatan dapat menggratiskan ongkos bus sekolah. Kami berharap permintaan ini di dengar oleh pemerintah,” pintanya.

Putri Wati, salah seorang wali murid kepada wartawan mengatakan, setiap hari anaknya harus bangun pagi-pagi untuk menunggu mobil penumpang umum jurusan kota Tapaktuan.

“Ketika mobil lewat baik itu mobil penumpang, mobil dinas, maupun mobil barang kami tahan. Berharap belas kasihan dari pengguna jalan untuk memberikan tumpangan untuk anak kami bisa bersekolah, ” katanya.

“Seharusnya pihak pemerintah lebih memperhatikan transportasi bagi siswa yang jarak tempuh ke sekolah lumayan jauh. Apa lagi Gampong Air Pinang ini berada di paling ujung perbatasan Kecamatan Tapaktuan,” tambah Putri Wati.

Pihaknya, mengharapkan kepada Pemkab Aceh Selatan segera mengambil kebijakan serius menanggulangi persoalan tersebut.

Sopir bus sekolah jurusan Tapaktuan – Air Pinang, Hendri yang dimintai konfirmasi mengatakan, penyebab mobil bus sekolah tersebut tidak beroperasi karena dalam kondisi rusak. “Kami sedang menunggu alat dari Medan, sekarang mobil lagi di gudang,” ujarnya singkat.()

Komentar