Oleh: Dr. Jabbar Sabil, MA
Dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

 

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal. (QS. Al-Anbiya’ [21]: 8).

Ayat ini merupakan rangkaian jawaban Al-Qur’an terkait sifat kemanusiaan para rasul (QS. Al-Mukminun: 33). Kaum musyrikin menggugat kerasulan para nabi karena sifat kemanusiaan mereka dianggap tidak logis dapat mengemban risalah Ilahiah. Logika ini berujung pada ‘penuhanan’ manusia yang dianggap supranatural. Lalu Al-Qur’an menegaskan sifat kemanusiaan para nabi dan rasul sehingga logika yang mendasari pemikiran tentang ketuhanan para nabi pun terbantahkan.

Selain pemahaman di atas, para mufasir juga mendiskusikan tentang makna kata jasad pada ayat ini. Al-Qurthubi mengutip pendapat yang membedakan antara kata jasad dengan kata jism. Dikatakan bahwa jasad berarti eksistensi fisik yang memiliki ruh (nyawa) sehingga membutuhkan makan dan minum. Oleh karena itu, ia berbeda dengan jism yang tidak membutuhkan makan dan minum. Tetapi mufasir lain menyamakan makna jasad di sini dengan tubuh yang tidak bernyawa.

Perbedaan pendapat ini penting dipahami, sebab makan dan minum sebagai indikator kehidupan hanya terjadi pada manusia dalam artian jasad yang bernyawa. Tetapi penafsiran kata jasad di sini berbeda dengan penggunaan kata jasad pada ayat 88 Surah Thaha yang berupa patung tidak bernyawa: “Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: “Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa.

Demikian pula kata jasad berbeda maknanya pada ayat 34 Surah Shad: “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit) kemudian ia bertaubat.” Hal ini menunjukkan adanya penggunaan kata jasad untuk makna yang berbeda. Di satu sisi kata jasad digunakan dalam arti tubuh hidup (bernyawa) yang membutuhkan makan, tetapi di sisi lain dipakai dalam makna tubuh lemah tak berdaya bahkan tidak bernyawa.

Hal ini menunjukkan adanya masalah dalam penafsiran ayat dengan ayat secara tekstual semata. Oleh karena itu, kata jasad pada ayat 8 Surah Al-Anbiya’ harus dipahami sebagai konteks kehidupan dalam artian bernyawa. Lebih jauh ayat ini mengaitkan jasad dengan sifat tidak kekal dan berbicara dalam konteks tugas kerasulan. Maka kata jasad harus dipahami dalam konteks kehidupan sosial, itulah arti kehidupan.

Komentar