Nurhayati (42) warga Gampong Kuala Keurto, Aceh Utara, menganyam tikar pandan untuk dijual ke masyarakat. (PM/Muhammad Fazie)
Nurhayati (42) warga Gampong Kuala Keurto, Aceh Utara, menganyam tikar pandan untuk dijual ke masyarakat. (PM/Muhammad Fazie)

Sebagian masyarakat Aceh Utara masih menganyam perekonomian dari hasil kerajinan tangan tikar pandan. Sejauh mana sudah cakupan pemasarannya?

Dari dalam rumahnya di Gampong Kuala Keurto, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara, Nurhayati (42) duduk di lantai tanpa beralaskan tikar. Justru sebaliknya, dia tengah menganyam tikar pandan yang biasa menjadi alas duduk masyarakat Aceh.

Daun pandan (seuke: Aceh) dijadikan Nurhayati sebagai bahan baku membuat tikar berbagai motif dan ukuran. Dia sudah bertahun-tahun menggeluti pekerjaan ini. Katanya, selain sebagai mata pencaharian, juga meneruskan kearifan lokal peninggalan nenek moyangnya.

Namun diakui Nurhayati, proses pembuatan tikar pandan tidak mudah seperti dibayangkan orang. Ia membutuhkan waktu berhari-hari. Dimulai dengan mendapatkan bahan baku, yaitu daun pandan yang masih tumbuh.

“Kalau proses pembuatan tikar dari daun pandan memang agak sedikit melelahkan. Bahan baku dimaksud, daun pandan yang panjangnya mencapai 2 meter,” ujarnya kepada Pikiran Merdeka, Jumat (16/09/16).

Daun pandan mentah itu kemudian dibersihkan, lalu dijemur. Selanjutnya, kata Nurhayati, daun pandan kering itu disayat atau dibelah-belah menurut alur panjangnya. Kemudian direbus agar lunak.

Potongan daun pandan yang sudah direbus dikeringkan kembali dengan dijemur di terik matahari. Setelah kering, diwarnai sesuai keinginan dengan mencelupkannya dalam zat pewarna yang telah dimasak dengan air panas.

Nurhayati menambahkan, potongan daun pandan yang sudah rata diwarnai, diangkat guna dijemur kembali hingga kering. Setelah pengeringan itu, barulah potongan daun pandan itu dianyam sesuai dengan kebutuhan.

Katanya, dia dalam sepekan berhasil menganyam satu model tikar pandan. Akan dipasarkannya jika sudah terkumpul minimal 6 lembar tikar. Proses panjang dan melelahkan. “Bagaimanapun, saya harus melakukan kegiatan ini karena ini mata pencaharian saya,” ucap ibu tujuh anak ini.

Nurhayati banyak mendapat pesanan tikar dari warga sekitar tempat tinggalnya. Dia menawarkan harga bervariasi tergantung motifnya, mulai Rp150 ribu hingga Rp270 ribu per tikar. Pesanan biasanya datang dari guru hingga pekerja kantor.

“Kalau permintaannya agak berkurang, maka saya berinisiatif untuk keliling menjual tikar di seputaran Lapang,” tuturnya.

Tak hanya dia. Kata Nurhayati, sebagian warga Gampong Kuala Keurto khususnya kaum ibu, menjadikan kegiatan anyaman tikar sebagai mata pencaharian. Kegiatan itu sudah berlangsung turun-temurun dan masih eksis hingga hari ini.

Sebagian dari mereka, katanya, sudah bergabung dalam kelompok kerajinan kreatif, sehingga  akan mendapatkan bimbingan dari Pemerintah Aceh Utara melalui dinas terkait.

“Sehingga mudah mendapatkan peralatan maupun bahan baku sesuai kebutuhan yang diinginkannya, selain itu juga dapat membantu ide-ide baru dari hasil bimbingan tersebut,” ujar  Nurhayati.

Dia meyakini tikar anyaman masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat, baik untuk keperluan istirahat maupun kebutuhan kenduri terutama saat ada orang meninggal. Minat beli dari masyarakat sangat tinggi, sebutnya, khususnya di wilayah Kecamatan Lapang, Aceh Utara.

“Tapi kami kewalahan dari segi pemasarannya, selama ini kita memasarkan hanya untuk warga sekitarnya saja.”

Pun demikian, ia harapkan kerajinan tikar anyaman dapat tetap lestari. Karena menurutnya, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ini juga merupakan bagian dari menjaga kelestarian karya dari nenek moyang terdahulu.

“Kami berharap kepedulian pemkab setempat baik dari segi bimbingan maupun peralatan kerja dan terlebih bagi kelompok kerajinan agar terus ditingkatkan, sehingga daerah kita ada suatu produk lokal yang mampu dihasilkan oleh masyarakat untuk terekspos keluar daerah,” kata Nurhayati.

Nurhayati (42) warga Gampong Kuala Keurto, Aceh Utara, menganyam tikar pandan untuk dijual ke masyarakat. (PM/Muhammad Fazie)
Nurhayati (42) warga Gampong Kuala Keurto, Aceh Utara, menganyam tikar pandan untuk dijual ke masyarakat. (PM/Muhammad Fazie)

DEKRANASDA: TAS LEBIH DIMINATI

Wakil Sekretaris Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kabupaten Aceh Utara, Mulyani, SE, mengatakan, pihaknya selama ini memberikan bimibingan ke para pelaku kerajinan tangan di Aceh Utara, baik perajin anyaman tikar pandan maupun hal lainnya.

Mulyani menyebutkan, bimbingan bagi perajin anyaman tikar pandan sudah dilakukan di Kecamatan Seunuddon, Lapang, Syamtalira Bayu dan Kecamatan Muara Batu. Namun selama beberapa tahun terakhir, katanya, pelatihan serupa belum berjalan lancar.

“Sistem pembinaannya, kita memberikan semacam pelatihan kepada meraka. Dengan adanya pelatihan tersebut para perajin ini mendapatkan ide-ide baru untuk dikembangkan dalam karya tangan mereka,” kata Mulyani, kepada Pikiran Merdeka, Jumat (16/09/16).

Ia menambahkan, dengan adanya pelatihan seperti itu, perajin lokal juga mengerti cara pewarnaan yang baik dan kreatif  pada tikar pandan anyaman.

Mulyani menambahkan, Dekranasda Aceh Utara tidak hanya menampung hasil anyaman tikar pandan, tapi juga kerajinan lainnya seperti tas bordir.

Dalam setiap pelatihan, katanya, Dekranasda juga memberikan para perajin bahan baku beserta peralatan untuk semua jenis kerajinan baik berupa tas, dompet, payung pengantin, tikar pandan, kotak tisue, vas bunga dan beberapa kerajinan lainnya.

“Menyangkut pemasarannya, sebagian dari mereka ada yang memasarkan sendiri, di samping  ketika ada event seperti pameran maka barang dari hasil perajin itu kita bawa ke event tersebut,” ungkapnya.

Selain ditampilkan di event, hasil kerajinan masyarakat itu juda dipajang di website resmi Dekranasda Aceh Utara untuk memasarkan melalui dunia maya.

Belakangan ini, ada sedikit perkembangan dari segi permintaan pasar terhadap hasil kerajinan masyarakat Aceh Utara. “Sejauh ini yang paling diminati masyarakat adalah tas bordir, sementara tikar pandan tampaknya di daerah kita ini kurang menonjol, sejauh ini yang paling diminati masyarakat adalah berupa tas,” ungkap  Mulyani.

Menurutnya, bukan berati pihaknya tidak fokus kepada pengembangan tikar pandan. Tapi  menurut penilaian pihaknya selama ini yang paling banyak diminati oleh masyarakat lokal maupun luar daerah adalah tas .

“Bahkan tas bordir Aceh dengan berbagai moif ini sudah diekspor keluar negeri, ada ke Amerika Serikat, Thailand, Singapura dan Malaysia,” ungkapnya.

Namun dalam hal ini kata Mulyani, Dekranasda juga butuh bimbingan atau studi banding. Dia menilai, jika SDM berkurang, sulit membina masyarakat maupun para perajin di daerah. Ditambahkannya, selama ini pihaknya menggali ilmu melalui penelusuran internet.

PEMASARAN LEMAH

Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Aceh Utara Fakrurrazy melalui Kepala Seksi Industri Kecil dan Kerajinan Disperindag Aceh Utara T Nazaruddin, mengatakan, kerajinan tangan sudah berkembang sejak beberapa tahun terakhir  di Aceh Utara, semisal ayaman tikar, rencong, parang, dan lainnya.  

Aceh Utara kata dia cukup potensial menciptakan industri kreatif. Namun pengembangannya masih kurang, sebut T Nazaruddin, di samping pemasaran juga menjadi salah satu faktor.

 “Didaerah kita ini ada beberapa andalan, seperti ayaman tikar dan bordir tas. Jika kerajinan ini berkembang akan meningkat pula Pendapatan Asli Daerah  (PAD),” ujarnya kepada Pikiran Merdeka, Jumat (16/09/16).

Ia menjelaskan, jika dibanding tahun ini dengan sebelumnya, tidak ada perubahan signifikan terkait perkembangan industri kreatif di Aceh Utara. “Masih tetap setara, artinya tidak menurun. Bahkan kerajaninan bordir khas Aceh Utara sudah laku di tingkat internasional seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei.

KEMBANGKAN KULINER

Disperindag Aceh Utara, sebut T Nazaruddin, pihaknya saat ii sedang membina para pelaku industri kecil atau usaha kuliner khas daerah setempat seperti kue bhoi dan  dodol dan lainnya.

Dia mengatakan, kuliner merupakan salah satu andalan meningkatkan PAD Aceh Utara . Kini pihaknya terus memantau wilayah yang berpotensi untuk menghidupkan industri tersebut. Yang sudah dibina, sebutnya, antara lain di Keude Geudong, Kecamatan Samudera dan Panton Labu.

“Selain itu kita juga membantu tempat usaha serta menyangkut perizinannya, kalau dari  Disperindag bukan lagi mendorong, bahkan membantu kelancaran industri supaya bisa berkembang seperti di daerah-daerah lain,” kata Nazaruddin.

Disperindag Aceh Utara menginginkan ke depan adanya animo dari masyarakat dalam hal kerajinan kreatif, baik bentuk kuliner, bordir, anyaman serta segi lainnya, dikarenakan untuk meningkatkan PAD sangat berpengaruh dari masyarakat itu sendiri.

Pemkab Aceh Utara pun sudah mengalokasikan dana terhadap mereka untuk pengembangan dari sektor industri kreatif tersebut.

“Sejauh ini kita melihat kendalanya adalah dari ketidak pahaman ataupun keraguan masyarakat terhadap kerajinan itu sendiri. Namun walau mereka ingin berbuat tetapi sebagian masyarakat melihat bahwasanya prosedur menyangkut perizinan pendirian usaha itu masih memberatkan.”

Padahal tidak, tega dia, mereka masih berfikir persoalan perizinan itu. Jika produk terutama kuliner pada dasarnya tidak ada masalah yang bisa memberatkan mereka. Hanya saja, daftarkan saja melalui dinas kesehatan, sehingga ada jaminan kesehatannya dari kuliner itu sendiri,” ungkap Nazaruddin.

Selain itu kata Nazaruddin, pola pikir masyarakat memang sangat penting diubah, supaya tidak menjadi suatu kendala dalam mengembangkan suatu industri kecil seperti kuliner.

“Karena di daerah ini sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa dikembangkan, namun ini semua tergantung dari keinginan masyarakat itu sendiri,” harap Nazaruddin.[]

Komentar