Foto/Warta Ekonomi

PM, Banda Aceh – Edi Hidayat, seorang dokter ahli penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Iskandar Muda, Nagan Raya, Aceh menegaskan bahwa menderita penyakit yang disebabkan virus corona (Covid-19) bukanlah sebuah aib atau penyakit yang memalukan.

“Covid-19 bukan aib, jangan pernah menyudutkan masyarakat yang pernah mengalami penyakit ini,” kata dr Edi Hidayat SPPD di Suka Makmue, Selasa (1/9/2020).

Menurutnya Covid-19 ini adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang variannya sudah ada sejak jaman dahulu. Hanya saja, kata dia, penyakit ini kembali muncul pada tahun 2019 dengan seutan virus corona.

Edi Hidayat menjelaskan, penyakit tersebut bisa mendera siapa aja tanpa melihat batasan usia, profesi, atau siapa saja yang diduga memiliki imunitas yang tidak baik atau mengalami penurunan imunitas (daya tahan tubuh).

“Penyakit Covid-19 atau virus corona ini bisa menginfeksi siapa pun, apabila kita tidak berhati-hati atau waspada, dalam menjaga kesehatan,” katanya menuturkan.

Ia juga menjelaskan, pandemi yang terjadi saat sekarang ini juga sudah pernah terjadi puluhan tahun sebelumnya di dunia, yang menewaskan puluhan juta bahkan ratusan juta penduduk di bumi.

Untuk mencegah penularan virus ini, ia menyarankan masyarakat bersinergi dalam upaya pencegahan, diantaranya seperti memakai masker setiap beraktivitas di luar rumah, menjaga jarak, rajin mencuci tangan seusai beraktivitas, makan makanan bergizi untuk memperkuat imunitas kita dan menghindari stres.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh, Teungku Haji Faisal Ali juga melarang masyarakat untuk menjauhi pasien positif Covid-19, setelah mereka diperbolehkan kembali ke masyarakat seusai menjalani perawatan medis di rumah sakit.

“Wabah pandemi Covid-19 ini memang nyata dan ada, masyarakat harus tetap waspada. Selalu mematuhi aturan protokol kesehatan anjuran pemerintah,” imbaunya.

Pentingnya Edukasi

Sebelumnya, influencer Tirta Mandira Hudhi atau dr Tirta pada April lalu telah menekankan, para relawan berperan penting untuk meluruskan stigma negatif yang berkembang mengenai virus tersebut. Ia menilai, relawan memegang peran strategis dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Salah satunya, mengedukasi masyarakat dengan informasi yang benar dan tepat seputar Covid-19 mulai pengertian, cara penularan dan cara pencegahan. Jadi, relawan medis maupun relawan nonmedis harus sama-sama berjuang.

“Relawan medis berjuang langsung dengan pasien dan relawan nonmedis berjuang di belakang dengan edukasi dan prevensi,” ujar alumni FKKMK UGM tersebut.

Saat mengedukasi, ia berharap relawan dapat memahmi karakteristik masyarakat terlebih dulu. Misal, memakai bahasa tidak terlalu formal ketika berhadapan dengan masyarakat menengah bawah seperti di terminal, pasar, dan lain-lain.

Hal tersebut berbeda saat berhadapan dengan masyarakat menegah ke atas yang bisa disampaikan lebih formal. Bahkan, untuk masyarakat menengah ke atas ia merasa bisa dilakukan cuma lewat media-media sosial seperti Instagram.

“Kalau kelas menegah ke bawah harus didatengin dan diajari langsung, ada contoh seperti cara cuci tangan yang benar, pakai masker, cara batuk dan lainnya,” kata Tirta.

Tirta menyampaikan, saat mengedukasi relawan harus bekerja berdasarkan dari sumber terpercaya seperti WHO, CDC, Kemenkes dan Dinkes. Edukasi yang bisa dilakukan antara lain terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

Lalu, physical distancing dan social distancing, hindari stigmatisasi kepada tenaga kesehatan dan pasien Covid-19, tidak mudik dan lain-lain. Tirta menegaskan, rumus hadapi Covid-19 tidak takut, tapi waspada.

“Tidak meremehkan, tapi tenang,” ujar Tirta. []

Sumber: Antara, Republika

Komentar