PM, Banda Aceh – Ruang baru bagi distribusi dan penayangan film karya sineas Aceh resmi diperkenalkan melalui soft launching platform streaming Aceh Cinema, Sabtu, 14 Maret 2026, di Bioskop Mini Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II, Banda Aceh.
Dapat diakses melalui situs acehcinema.com, platform ini hadir untuk memperluas akses publik terhadap film Aceh sekaligus memperkuat ekosistem distribusi karya sineas lokal. Platform tersebut sebagai respon atas keterbatasan ruang eksibisi film di Aceh.
Dalam beberapa dekade terakhir, produksi film oleh sineas Aceh terus berlangsung. Karya-karya mereka mencakup film pendek, dokumenter, maupun film panjang yang diproduksi secara independen oleh komunitas dan pembuat film lokal.
Namun perkembangan produksi tersebut tidak selalu diikuti oleh ketersediaan ruang penayangan yang memadai.
Sejak banyak bioskop komersial berhenti beroperasi di berbagai kota di Aceh pada awal 2000-an, film lokal lebih sering beredar melalui pemutaran komunitas, festival, atau kegiatan kampus yang sifatnya temporer. Kondisi ini membuat banyak karya hanya ditonton dalam lingkup terbatas dan sulit menjangkau penonton yang lebih luas.
Di tengah situasi tersebut, komunitas film di Aceh tetap menunjukkan dinamika yang kuat. Berbagai komunitas produksi bermunculan di berbagai wilayah Aceh, melahirkan generasi baru sineas yang aktif memproduksi film setiap tahun.
Beberapa karya bahkan berhasil beredar hingga di festival nasional. Ini memperlihatkan bahwa praktik kreatif perfilman Aceh terus hidup meskipun infrastrukturnya terbatas.
Kesenjangan antara produksi yang terus berlangsung dan akses distribusi yang terbatas inilah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Aceh Cinema. Platform ini memanfaatkan medium digital sebagai ruang distribusi baru yang lebih berkelanjutan.
Melalui sistem streaming berbasis Video on Demand (VoD) dan Transactional Video on Demand (TVoD), film-film Aceh dapat ditonton secara legal, mudah, dan terukur.
“Model ini juga memungkinkan karya sineas tetap beredar dalam jangka panjang, tidak hanya pada momentum pemutaran tertentu,” ujar CEO Aceh Cinema, Jamaluddin Phonna.
Selain memperluas akses penonton, platform ini juga dirancang untuk menghadirkan sistem monetisasi yang transparan bagi para pembuat film. Dengan itu, setiap karya berpeluang menemukan audiensnya sekaligus membuka kemungkinan pendapatan bagi sineas.
“Kenapa distribusi penting? Kita perlu menyadari, tanpa distribusi yang konsisten, karya sulit membangun kehidupan jangka panjang. Tanpa distribusi yang stabil pula, film sulit menemukan nilai ekonomi dan berkelanjutan, dan tanpa sistem, sineas sulit membayangkan masa depan profesinya,” ujar Jamal melanjutkan.
Melalui proses kurasi yang selektif, Aceh Cinema akan menampilkan film fiksi maupun dokumenter yang berakar pada realitas sosial dan budaya Aceh. Kehadiran platform ini diharapkan menjadi ruang penting bagi masyarakat Aceh, termasuk diaspora, untuk tetap terhubung dengan cerita, pengalaman, dan identitas budayanya.
Peluncuran ini juga menandai momentum awal untuk memperkenalkan platform ini kepada komunitas film, pegiat seni, serta publik yang selama ini mengikuti perkembangan perfilman Aceh.
“Menonton secara legal berarti menghargai karya pembuat film,” pungkasnya.
Ke depan, Aceh Cinema diharapkan dapat menjadi bagian dari infrastruktur distribusi digital yang profesional bagi perfilman Aceh, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas antara sineas, komunitas, dan penonton.
Dengan hadirnya platform ini, film Aceh tidak lagi hanya beredar dalam ruang terbatas, melainkan dapat diakses lebih luas oleh publik melalui kanal digital yang resmi. []
Belum ada komentar