Riset: Bencana Sumatra Masuk 10 Besar Paling Destruktif di Dunia pada 2025

1765291985666022 0
Kondisi sarana jembatan yang putus akibat banjir di Aceh hingga menghambat akses mobilitas masyarakat. [Dok. GPPMAceh]

PM, Banda Aceh – Akhir November 2025 menjadi periode kelam bagi wilayah Asia Selatan dan Tenggara setelah serangkaian sistem badai besar menghantam kawasan tersebut secara beruntun.

Demikian disebutkan dalam laporan tahunan Christian Aid bertajuk “Counting the Cost 2025“.

Dalam laporan ini, peristiwa yang melibatkan Siklon Senyar ditetapkan sebagai salah satu bencana cuaca paling destruktif bagi Indonesia, dengan Pulau Sumatera sebagai titik nadir kerusakan terparah.

Khusus di wilayah Aceh, bencana ini bukan sekadar statistik ekonomi, melainkan tragedi kemanusiaan yang mendalam.

Data terbaru per awal Januari 2026 mencatat angka kematian di Aceh mencapai 543 jiwa, dengan lebih dari 217.000 warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian karena kehilangan tempat tinggal.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kerusakan rumah di Aceh mencapai angka fantastis, yakni 106.058 unit, yang tersebar di 18 kabupaten/kota.

Para pegiat lingkungan menegaskan bahwa Siklon Senyar hanyalah pemicu dari rapuhnya pertahanan ekologis Sumatera.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti bahwa banjir bandang yang melenyapkan sebagian besar permukiman di Beutong Ateuh, Nagan Raya, serta melumpuhkan jalur Gayo Lues, merupakan akibat langsung dari deforestasi masif.

Dalam satu dekade terakhir, diperkirakan 1,4 juta hektar hutan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah beralih fungsi menjadi area pertambangan dan perkebunan sawit skala besar.

Hilangnya tutupan hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) ini membuat Sumatera kehilangan “sabuk pengaman” alaminya.

Tanpa vegetasi yang kuat untuk menyerap air, curah hujan ekstrem dari Siklon Senyar langsung berubah menjadi aliran permukaan yang menghancurkan, membawa gelondongan kayu dan material lumpur yang mengubur desa-desa.

Para pakar menyebut fenomena ini sebagai bencana ekologis yang diproduksi oleh kebijakan tata ruang yang abai terhadap daya dukung lingkungan.

Dampak di Sumatera ini memberikan kontribusi signifikan terhadap total kerugian regional Asia yang mencapai US$25 miliar.

Christian Aid mencatat bahwa total kerugian ekonomi Indonesia akibat rentetan bencana hidrometeorologi di akhir 2025 ini diperkirakan menembus Rp68,8 triliun—sebuah angka yang menempatkan tragedi Sumatera dalam jajaran bencana termahal di dunia tahun ini.

Jika diposisikan dalam peta bencana global, krisis di Sumatera bersanding dengan deretan bencana dahsyat lainnya, seperti kebakaran Palisades dan Eaton (AS), yang enjadi bencana termahal dengan kerugian melebihi US$60 miliar.

Lainnya, data juga memasukkan banjir musiman Tiongkok yang menimbulkan kerugian sebesar US$11,7 miliar di sepanjang Juni hingga Agustus. Musim Monsun India dan Pakistan juga masuk dalam daftar bencana yang dahsyat dengan kerugian sekitar US$5,6 miliar dan merenggut lebih dari 1.860 nyawa.

Laporan tersebut lantas memberi peringatan keras bagi para pengambil kebijakan di daerah terdampak.

Kerugian finansial dan nyawa yang terus membengkak merupakan konsekuensi dari krisis iklim yang diperparah oleh perusakan hutan lokal.

“Konsekuensi dari kelalaian iklim tidak lagi dapat disangkal. Setiap tahun kita menunda tindakan, kerugian akibat ketergantungan pada bahan bakar fosil terus membengkak, dan tahun 2025 membuktikan kepahitan tersebut,” tulisnya. []

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait