PM, Banda Aceh – Komunitas advokasi inklusi di Banda Aceh, Buddies for Inclusion menyelenggarakan rangkaian kegiatan kolaboratif dalam rangka memperkuat advokasi disabilitas di Aceh. Sejumlah kegiatan tersebut berlangsung sepanjang Agustus lalu, melibatkan mitra lokal dan internasional.
Dalam keterangan pers, Selasa (2/9/2025), Pendiri Buddies for Inclusion, Dian Agustin mengatakan agenda ini bagian dari program Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Professional Fellows Program – Reciprocal Exchange yang didukung oleh U.S. Department of State.
“Program ini memfasilitasi pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara pemimpin muda Asia Tenggara dan praktisi dari Amerika Serikat,” terangnya.
Sebelumnya, Dian telah mengikuti program magang profesional selama 1,5 bulan di Treasure Valley Family YMCA, Idaho, AS, pada tahun 2024, yang berfokus pada pengembangan program inklusi dan pemberdayaan berbasis komunitas.
Sebagai kunjungan timbal balik, Andrea Parker, Direktur Program THRIVE di YMCA Idaho dan aktivis advokasi disabilitas, mengunjungi Aceh pada 16–27 Agustus 2025 untuk terlibat langsung dalam berbagai agenda bersama masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa inklusi bukan sekadar jargon global, tetapi menjadi praktik yang hidup di tingkat masyarakat,” ujar Dian.
Adapun sejumlah kegiatan itu, di antaranya kunjungan strategis ke sejumlah lembaga di Aceh sejak tanggal 19 – 25 Agustus, termasuk Sentra Darussa’adah, SLB Negeri 2 Kota Sabang, dan LPP RRI Banda Aceh.
Di sela agenda tersebut, pada Rabu, 20 Agustus 2025, mereka melangsungkan Library Talk and Relax bertema Pendidikan Berkualitas untuk Disabilitas dari Masa Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi, bekerja sama dengan UPT Perpustakaan dan E-Learning Universitas Syiah Kuala.
Wakil Rektor I Universitas Syiah Kuala, Prof. Agussabti, membuka diskusi tersebut di hadapan 75 peserta dari kalangan akademisi, mahasiswa, orang tua, penyandang disabilitas, dan praktisi pendidikan.
Selain Dian dan Andrea Parker, diskusi menghadirkan pembicara akademisi dan orang tua dari anak dengan autisme, Prof. Iskandar Abdul Samad, serta aktivis muda tuli dari Gerkatin Aceh, M Rikal Qamara.
“Pembicara menyoroti tantangan pendidikan inklusif di Aceh d serta mendorong dan mengawal kampus-kampus di Aceh agar mulai mengimplementasikan kebijakan inklusi secara konkret, dimulai dengan penerimaan mahasiswa disabilitas,” jelas Dian.

Sementara pada Jum’at, 22 Agustus 2025, berlangsung workshop di Bunga Matahari Intercultural School, Banda Aceh.
Sebanyak 30 peserta dari kalangan guru, orang tua, penyandang disabilitas, dan pegiat sosal hadir dalam workshop ini, yang salah satu tujuannya membangun support system untuk mendukung praktik inklusi di tingkat sekolah dan masyarakat.
Andrea Parker menegaskan pentingnya pemberdayaan orang dengan disabilitas dan kelompok-kelompok masyarakat sebagai fondasi perubahan.
“Dalam masyarakat yang masih penuh stigma, penguatan kapasitas guru, keluarga, dan penyandang disabilitas sendiri sangat penting untuk mendorong perubahan nyata,” ujarnya.
Sementara Dian menambahkan, bahwa semakin cepat masyarakat memahami bahwa disabilitas adalah bagian dari keberagaman, bukan aib, maka semakin cepat pula kita bisa memastikan pendidikan berkualitas untuk semua.
“Sudah saatnya kita bergeser dari paradigma belas kasih ke pendekatan berbasis HAM,” harapnya.
Tantangan dalam Pemenuhan Hak Disabilitas
Kendati Indonesia telah memiliki berbagai regulasi yang progresif termasuk Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pelaksanaan di lapangan masih menghadapi tantangan besar, khususnya di daerah seperti Aceh.
Minimnya pemahaman masyarakat terhadap isu disabilitas, keterbatasan infrastruktur yang aksesibel, kurangnya tenaga pendidik yang terlatih, serta lemahnya implementasi kebijakan menjadikan penyandang disabilitas terus mengalami hambatan dalam mengakses layanan pendidikan dan sosial secara setara.
Dian Agustin menyatakan bahwa seluruh kegiatan ini bagian dari strategi jangka panjang membangun ekosistem inklusi di Aceh yang saat ini masih sangat jauh dari kondisi ideal.
“Ini bukan sekadar serangkaian acara, tetapi langkah konkret untuk menyatukan kekuatan lokal dan global dalam mewujudkan hak penyandang disabilitas. Kolaborasi lintas budaya dan lintas sektor adalah kunci untuk perubahan yang berkelanjutan.”
Andrea Parker pun mengungkapkan kekagumannya terhadap semangat komunitas di Aceh.
“Saya melihat energi luar biasa di sini. Komunitas seperti Buddies for Inclusion adalah jembatan antara kebijakan dan realitas. Saya pulang ke Amerika dengan inspirasi besar dari Aceh,” pungkasnya. []
Belum ada komentar