UGM Bangun 100 Huntara di Aceh Utara, Tekankan Keamanan Lokasi

rumah huntara UGM, ACeh utara
Pembangunan hunian sementara untuk warga korban banji di Aceh. [Dok. UGM]

PM, Banda Aceh – Universitas Gadjah Mada membangun 100 Hunian Sementara atau Huntara bagi warga terdampak banjir di Aceh Utara. Huntara berukuran 6 x 6 meter dengan fasilitas dua kamar, ruang multifungsi, dan teras untuk mendukung kehidupan keluarga selama masa transisi.

Pakar kebencanaan yang juga Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof. Dwikorita Karnawati menyebutkan pembangunan Huntara menjadi langkah penting dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana untuk memastikan pengungsi dapat segera menempati hunian yang lebih layak.

Kata dia, capaian pembangunan fisik tersebut harus diiringi dengan perhatian serius terhadap aspek keselamatan dan keamanan, terutama di tengah masih tingginya potensi bencana susulan.

“Progres Huntara patut diapresiasi. Tetapi yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa seluruh penduduk, pengungsi, serta para pekerja yang terlibat dalam tahap rehabilitasi dan rekonstruksi berada dalam kondisi aman dan mendapatkan suplai logistik yang memadai,” ucap Dwikorita, Selasa (6/1/2026), mengutip laman resmi UGM.

Dwikorita menekankan bahwa rumah dan infrastruktur yang telah dibangun benar-benar berada pada lokasi yang aman. Hal ini menjadi krusial mengingat potensi longsor, banjir bandang, dan banjir susulan masih tinggi.

“Huntara harus dipastikan aman dari ancaman longsor dan banjir bandang,” ujarnya.

Aspek keamanan tidak hanya berlaku untuk Huntara, tetapi juga harus menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan dan pembangunan Hunian Tetap (Huntap).

Tanpa perencanaan berbasis risiko bencana dan kondisi lingkungan, pembangunan Huntap justru berpotensi menciptakan siklus bencana berulang di masa depan.

Menurut Dwikorita, untuk menjamin keamanan tersebut, upaya pencegahan dan mitigasi bencana secara permanen sangat penting dilakukan secara paralel bersamaan dengan pelaksanaan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Langkah pertama adalah pemulihan kerusakan lingkungan sebagai prioritas karena membutuhkan waktu yang panjang hingga bertahun-tahun.

“Apabila pemulihan lingkungan tidak berhasil, maka periode ulang bencana bisa menjadi semakin cepat dengan magnitude yang jauh lebih dahsyat,” jelasnya.

Selain itu, kata dia lagi, juga penting menginspeksi wilayah hulu sungai sebagai bagian dari upaya pencegahan banjir bandang.

Menurutnya, perlu ada identifikasi zona rawan berupa tumpukan sedimen longsoran maupun rontokan batuan yang berpotensi menyumbat aliran sungai dari arah hulu. Zona rawan tersebut apabila dipicu oleh akumulasi curah hujan tinggi akan menjadi bencana.

“Tanpa pemantauan yang memadai di wilayah hulu, ancaman banjir bandang sering kali datang tiba-tiba dan sulit terdeteksi dari wilayah hilir. Padahal, tanda-tanda awalnya dapat dikenali lebih dini melalui inspeksi berbasis teknologi,” tambah Dwikorita.

Ia juga menambahkan, pengaplikasian sistem peringatan dini multi bencana di setiap wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang rawan menjadi aspek penting guna memberikan peringatan dini kepada masyarakat sekiarnya.

Lainnya, ia menekankan soal edukasi dan literasi kebencanaan kepada yang harus menjadi bagian dari proses pembangunan ketangguhan masyarakat di wilayah rawan bencana.

“Literasi kebencanaan adalah fondasi utama agar upaya mitigasi benar-benar mampu menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Bagi Dwikorita, rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana bukan sekadar membangun kembali secara cepat, tetapi membangun dengan lebih baik (build back better), yakni membangun secara lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan dibandingkan kondisi sebelum bencana.

“Setiap pembangunan pascabencana didasarkan pada pembelajaran dari kejadian sebelumnya, analisis risiko yang matang, serta pemulihan lingkungan yang menyeluruh, sehingga masyarakat tidak kembali menjadi korban pada bencana berikutnya,” pungkasnya. []

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Pj. Gubernur Aceh, Dr. Safrizal, ZA. M. Si Melakukan Pengambilan Sumpah Jabatan dan Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Aceh di Anjong Monmata, Banda Aceh, Pendopo Gubernur Aceh, Rabu, 05/02/2025. Foto: Biro Adpim
Pj. Gubernur Aceh, Dr. Safrizal, ZA. M. Si Melakukan Pengambilan Sumpah Jabatan dan Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Lingkungan Pemerintah Aceh di Anjong Monmata, Banda Aceh, Pendopo Gubernur Aceh, Rabu, 05/02/2025. Foto: Biro Adpim

Pj Gubernur Safrizal Lantik Tiga Kepala SKPA

IMG 20240427 WA0003
Pj Gubernur Aceh, H Bustami Hamzah sedang mengucap batu nisan ulama besar Aceh, Syekh Ali Al-Fansyuri saat berziarah ke makam ayahanda ulama besar nusantara, Syekh Abdurrauf Al-Singkili, Sabtu (27/04/2024) siang. Foto: Humas

Pj Gubernur Bustami Ziarah ke Makam Ayahanda Syekh Abdurrauf Al-Singkili