Epaper Pikiran Merdeka Edisi 204
Epaper Pikiran Merdeka Edisi 204

pelacuran sudah merasuk hampir semua sendi berbangsa dan bernegara di Aceh. Mulai pelacuran dalam bentuk ekploitasi seks, pelacuran politik, hingga pelacuran jabatan di pemerintahan. Teranyer adalah pelacuran bertajuk bisnis ‘ayam kampus’, yakni jaringan prostitusi online yang menjadikan perempuan lokal sebagai pekerja seks komersial. Umumnya masih berstatus mahasiswi sehingga dilabeli ‘ayam kampus’.

Pekan lalu, aktivitas prostitusi yang mereka jalankan berhasil dibongkar jajaran Polresta Banda Aceh. Para mahasiswi yang nyambi sebagai pekerja seks komersial itu memasang tarif sekira Rp2 juta per malam plus biaya kamar hotel ditanggung oleh lelaki hidung belang yang memesannya.

Ini pula yang belakangan dikeluhkan para tokoh agama, pejabat publik hingga tokoh budaya. Umumnya mereka merasa prihatin dengan kebobrokan moral oknum mawasiswi tersebut; rela menjual kehormatan demi segopok rupiah.

Sebenaranya siapa para mahasiswi yang terjerumus itu? Ya anak-anak Aceh juga, yang mungkin saja anak para tokoh yang merasa prihatin itu. Lalu siapa pula pelanggan mereka? Jangan-jangan ada juga di antara para tokoh yang belakangan pura-pura mengurut dada.

Sampai di sini, semestinya para tokoh itu tidak sekedar prihatin. Labih dari itu, mereka juga harus bertanggung jawab karena telah melahirkan generari pelacur di bumi Aceh. Lebih-lebih mereka yang ikut menikmatinya.

Boleh jadi juga, hal ini terjadi karena para remaja Aceh sekarang ini sudah tidak lagi memiliki tauladan. Melihat para tokoh sibuk berebut kekuasaan dan proyek. Melihat orang tuanya sibuk mengejar materi dan seringkali munafik. Lain perkataan dengan perbuatan. Makanya, mereka juga ingin menikmati kemewahan dengan caranya sendiri.

Terlibat langsung atau tidak, lahirnya generasi pelacur di Aceh dikarenakan kesalahan para orang tua, para pemimpin umat, dan pemimpin negara. Tidak ada alasan untuk berkelit. Pemerintah membuat berbagai sistem, ekonomi, hukum dan sosial hingga syariat Islam. Tapi karena penerapannya gampang diselewengkan, serba tanggung dan setengah hati, maka semua sistem tidak akan berarti dan akan jadi bahan tertawaan.

Bukan saja ditertawakan orang luar, tapi juga diremehkan oleh remaja Aceh sendiri. Mereka tidak lagi percaya pada orangtua yang memang tidak menunjukkan suri tauladan yang mulia. Sibuk mencari jabatan dan harta, lalu pamer kekayaan dunia dengan mobil mewah dan pakaian indah.

Jadi, tidak perlu melimpahkan kesalahan sepenuhnya pada remaja kita yang terlanjur terjerumus ke lembah hitam itu. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Orangtua yang pada dasarnya tidak punya malu, maka anak anaknya juga tak sungkan-sungkan melacurkan diri.

Dari sisi evolusi manusia, kita semua boleh jadi menyimpan hawa nafsu hewani dan itu terbangkitkan kembali ketika zaman menjadi edan. Padahal, semestinya semakin jauh ke ujung zaman, kita semakin harus menunjukkan jatidiri sebagai manusia. Mengetahui apa arti hidup dan dihidupkan di bumi yang fana ini. Silahkan merenung dan introspeksi, mengapa remaja Aceh jadi begini?[]

Free Download Epaper Pikiran Merdeka

Komentar