Pertambangan minyak secara tradisional menjadi ‘bom waktu’ yang mengancam keselamatan manusia dan lingkungan. Ledakan kali ini di Aceh Timur menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Selengkapnya…

EDITORIAL: Was was Menanti Hasil UN

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2018 tingkat SMP/MTs/SMPLB pada 23-26 April, telah berlalu. UN untuk tingkat SMP/Sederajat mengujikan empat mata pelajaran yakni Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Pada tahun ini, hanya dua provinsi yang menyelenggarakan UNBK 100 persen yakni DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Sementara di Aceh, total pesertanya mencapai 89.701 siswa. Dari jumlah itu, 74.895 siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan 14.806 siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).

Bagi siswa yang berhalangan hadir, akan mengikuti UN susulan pada 8 dan 9 Mei 2018. Selanjutnya, hari-hari cemas akan menghantui para siswa selama menunggu hasil UN SMP sederajad yang diumumkan 23 Mei 2018.

Sebenarnya bukan hanya para anak didik yang cemas dengan hasil UN yang akan diperoleh nantinya. Semua pihak tetap memprediksi akan banyak siswa Aceh yang tidak lulus UN bila pelaksanaannya berlangsung jujur. Karena, menilik pola pendidikan di Aceh selama ini, menjadi sesuatu yang mustahil kalau tingkat kelulusan siswa Aceh bisa meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Persepsi ini mengacu pada carut-marutnya pola pendidikan kita, di samping berselemaknya masalah di Disdik Aceh dan Disdik kabupaten/kota di Aceh. Belum lagi aroma korupsi yang tak pernah habis-habisnya di tubuh lembaga penyelenggaraan pendidikan di daerah ini. Mulai pemotongan intensif guru hingga penyelewengan berbagai proyek APBA/APBK di bidang pendidikan, terjadi terus menerus meski kemudian hilang tanpa proses hukum yang jelas.

Semua permasalahan tersebut tentu menjadi cerminan bobroknya dunia pendidikan kita. Sehingga, upaya mendongkrak tingkat kelulusan siswa Aceh pada UN tahun ini menjadi sesuatu yang impossible. Mulai tingkat sekolah dasar, menengah pertama hingga menengah atas, masih sarat persolan yang membuat siswa kita berpotensi tidak lulus UN.

Sejak sistem kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sekolah-sekolah di Aceh terlihat belum ada yang mampu melahirkan siswa yang benar-benar siap dengan ujian setara UNBK. Kalaupun ada, masih bisa dihitung dengan jari. Buhkan, kurikulum KTSP yang memberikan resep kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan basis lokal, hingga sekarang belum sepenuhnya dilaksanakan secara baik dan benar di Aceh.

Di sisi lain, kita berharap Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) agar dalam menambah jumlah paket dan tingkat kesulitan pada soal UN mengacu pada penyesuaian-penyesuaian. Tidak diseragamkan tingkat kesulitan soal antara siswa di kota dan desa. Sebab, fasilitas belajar mengajar sekolah di perkotaan dan pedesaan masih sarat kesenjangan.

Akhirnya, kita hanya bisa berharap dan berdoa agar tingkat kelulusan siswa Aceh pada UN kali ini tidak terlalu mengecewakan. Paling tidak, terjadi peningkatan dibandingkan hasil UN tahun sebelumnya, baik untuk tingkat SD, SMP maupun SMA sederajat.[]

Download Epaper Pikiran Merdeka Edisi 212

Download Epaper Pikiran Merdeka edisi 212

Komentar

Ads Daftar Caleg Tetap Aceh Jaya 2019