[dropcap style=”inverted”]D[/dropcap]ia bangun dari duduknya, melihat saya sekilas seraya tersenyum, melangkah beberapa langkah lalu mengambil pulpen di meja kasir. Kemudian kembali ke tempat semula dan duduk di kursinya di hadapan saya. Dengan santai tangan kirinya terangkat menyungsupkan pangkal rokok warna putih ke antara kedua belahan bibir tanpa pewarna. Gerak pelupuk matanya yang paling menarik bagi saya. Manakala dia mendongak sekadar menghembuskan asap rokok misalnya, atau, ketika dia merapikan rambut dengan jejari tangan yang dibentuk serupa sisir dengan leher gemulai menggisarkan pandangnya ke kiri-kanan.

“Ini, tulis. Kalau mau mewawancarai saya, ya, harus pakek alat perekam atau setidaknya ada buku notes dan pulpen,” ujar teman lama saya. Namanya Usman. Tapi sekarang saya harus memanggilnya ‘Teungku Usman’. Saya pura-pura tersenyum malu. Orang-orang di warung kopi sagoe, istilah para wartawan di Pidie Jaya untuk warung kopi tepat di depan rumah dinas wakil bupati, melihat ke arah kami.

Ada nada menuduh dalam suaranya. Seakan-akan profesi sebagai wartawan lebih dekat dengan perbuatan-perbuatan amoral. Mungkin karena secara semantik makna kata ‘berita’ dekat dengan kata ‘gunjing’. Sehingga di kampung kami, kalau ada orang yang suka membicarakan kehidupan orang lain dicap “radio” atau “BBC”—kantor berita internasional yang terkenal itu.

“Tanya aja sama si BBC.” Nah, ini salah satu contoh sindiran itu.

Perawakannya tegap. Suaranya halus dan berbeda sekali dengan suaranya yang saya kenal dulu sewaktu SMA; kurang lebih dua belas tahun lalu. Setamat SMA dia melanjutkan ke Pesantren Darussalam di Labuhan Haji, Aceh Selatan. Sudah setahun dia di kampung halamannya di salah satu kampung di Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya. Di samping mengelola pesantren yang baru ada serangkang dari swasembada masyarakat, sehari-harinya dia juga bertani.

“Teungku Usman belum dapat dijadikan berita,” kata saya, tidak semua informasi layak menjadi berita. “Kalau ada anjing mengejar dan menggigit orang, itu bukan berita yang perlu ditulis seorang wartawan. Tapi kalau ada orang mengejar dan menggigit anjing, itu baru berita,” kata saya agak panjang.

“Ini juga,” kata saya sambil memperlihatkan SMS teman wartawan di Pidie Jaya, “Bukan karena untuk menghindari konflik pribadi, tapi terkadang karena pertimbangan bahwa tugas utama wartawan untuk membela masyarakat banyak dan sebagai partner pemerintah dalam pembangunan,” kata saya.

Inilah isi SMS tersebut, “Saat aku mau liput acara pasar murah yang digelar BUMN melalui asuransi Jasa Raharja di Simpang Tiga, Meureudu, saya dihina oleh oknum kader sebuah partai politik di depan umum. Penghinaannya dengan mengeluarkan kata-kata kotor, seperti, ‘ureueng bak tanyo lawetnyo gadöh luem kesalahan gob, lagèe panyôt cilét. Watèe lheuh nyan meugeubôh lam koran (Orang kita sekarang sibuk cari tahu kesalahan orang lain, macam lampu teplok. Sudah itu dimuatlah di koran) .. .”

Akhirnya dia tak berolok-olok lagi. Kami mulai duduk dan bicara sesuatu yang serius. Mengenai perjalanan hidup kami masing-masing. Mengenai target yang hendak dicapai dan pasangan hidup. “Masak belum ada. Saya gak percaya, he-he,” tukasnya dibarengi tawanya yang luar biasa besar.

“Itu di sana ‘kan banyak,” tahu-tahu wajahnya membuat isyarat ke arah barat. Tepat di hadapan kami terbentang lapangan sepak bola Kota Meureudu. Di bagian tengahnya para pemain bola sedang menendang bola, mereka siswa SMA se-Pidie Jaya yang sedang diseleksi untuk mengikuti Pekan Olah Raga Pelajar Daerah (POPDA) di Banda Aceh pada bulan Juni mendatang.

Sementara di pojok timur laut, persis depan Meuligoe Pidie Jaya, puluhan siswi SMA Pidie Jaya sedang latihan menari untuk persiapan Pekan Kebudayaan Pidie Jaya yang akan diselenggarakan beberapa bulan mendatang di Pantai Kuthang, Trienggadeng.

Saya tak berkomentar apa-apa, hanya tertawa. Haruskah saya katakan padanya bahwa mereka masih SMA, sangat jauh berselisih usia dengan saya? Atau, haruskah saya katakan padanya bahwa saya tidak berniat untuk mengambil istri seorang gadis tamatan SMA?

Sinar matahari sore tampaknya tidak bersahabat dengan pandangan kami. Ia menerobos gerai bambu yang disampirkan di talang toko bagian barat. Tepat di depan Kantor Pegadaian Meureudu gerobak Mie Caluek yang terkenal enak dan sangat laris sedang diatur rapi posisinya yang tepat oleh empunya usaha.

“Beberapa kali saya minum kopi di sini, saya perhatikan, sebelum azan asar, mereka sudah berkumpul di lapangan bola dan setelah kumandang azan selesai, mereka langsung menari. Yang main bola malah lebih parah, sebelum azan sudah pemanasan. Saat kumandang azan mereka masih saja lari-lari, menendang-nendang bola. Kenapa gak sembahyang lebih dulu, baru kemudian menari. Yang main bola, setelah sembahyang, baru main bola,” tiba-tiba dia berkata.

Wah, ini termasuk kritikan ataupun masukan masyarakat untuk pemerintah. Saya tulis atau tidak, ya? Kalau saya tulis, kira-kira siapa saja nantinya yang merasa tidak senang, ya? Saya mendengarkan kata teman saya selanjutnya. “Padahal tiap malam Rabu (Rabu malam), meuligoe mengadakan pengajian dan masyarakat Pidie Jaya datang ke sana sampai penuh. Tapi, anak-anak itu, kenapa gak dianjurkan sembahyang dulu, baru kemudian menari atau yang main bola, main bola.”

Saya rasa bukan sekadar omong-omong saja hari ini. Saya perhatikan dari samping pada wajahnya. Ada rasa sedih di sana. Terima kasih teman, kata hati saya. Bagaimana pun mereka adalah adik-adik kita, sekaligus generasi Pidie Jaya yang mengisi pembangunan pada masa yang akan datang. Tujuan hidup mereka tidak hanya sepak bola dan menari, tapi tujuan hidup mereka juga dunia akhirat yang harus mereka pertanggungjawabkan sendiri kelak. Dalam hati saya berjanji jika saya punya kesempatan bertemu bupati atau ibu bupati akan menyampaikan perihal ini. Saya tahu Ketua Umum PS Pidie Jaya yaitu bupati dan Ketua Pembina Sanggar Meurah Setia juga ibu bupati sendiri.[Edi Miswar]

Komentar