Jenazah Faisal saat berada di RSUD Yulidin Away [foto: acehselatan.com]

Jenazah Faisal saat berada di RSUD Yulidin Away [foto: acehselatan.com]
Jenazah Faisal saat berada di RSUD Yulidin Away [foto: acehselatan.com]
PM, Banda Aceh—Dewan Pimpinan Pusat Partai Nasional Aceh (DPP-PNA) sangat berduka atas meninggalnya Faisal SE yang diberondong dengan senjata api jenis M16 kaliber 5.56 mm di kawasan Gunong Seumancang, Desa Ladang Tuha, Keucamatan Meukek, Aceh Selatan. Penembakan Caleg PNA DP Sawang-Meukek itu dinilai sangat terencana dan sistematis.

“Kami memandang pembunuhan Faisal dilakukan dengan sangat terencana dan sistematis. Menurut cerita keluarga, pada Minggu (2 Maret), korban ada kedatangan tamu yang tidak dikenal oleh pihak keluarga dan sesaat sebelum kejadian ada telpon gelap yang meminta almarhum untuk segera kembali ke Sawang,” papar Ketua Umum PNA, Irwansyah dalam pernyataan tertulis yang diterima Pikiran Merdeka, Senin (3/3/2014) sore.

Pria yang akrab disapa Teungku Muksalmina ini menyebutkan, korban merupakan Caleg PNA dari kalangan wiraswasta. “Orangnya pendiam dan sangat sopan, sehingga dipastikan tidak memiliki musuh dan Faisal ini juga bukan mantan kombatan,” katanya.

Menurut dia, almarhum dikenal sangat dekat dengan masyarakat serta mempunyai basis dan dukungan yang kuat di Kecamatan Sawang. “Tindakan pembunuhan almarhum merupakan bukti kepanikan yang melanda kelompok yang memusuhi PNA. Penghilangan nyawa almarhum tentu dimaksudkan untuk meneror Caleg dan Kader PNA karena kelompok yang memusuhi PNA merasa tidak nyaman dan terancam dengan dukungan masyarakat kepada PNA yang semakin kuat dan masif di Kawasan Pantai Barat Selatan,” bebernya.

Sekretaris Jenderal PNA Muharram Idris menambahkan, pembunuhan Faisal dan pembunuhan lainnya yang menimpa kader dan caleg PNA adalah kejahatan yang luar biasa. “Ini tidak bisa diselesaikan dengan prosedur normal biasa. Ini adalah teror yang merongrong negara dan kenyamanan masyarakat. Kami meminta agar Presiden Republik Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) dan Kapolri untuk turun-tangan menangani kekerasan yang terjadi di Aceh. Ini kalau ingin perdamaian tetap terjaga,” katanya.

Pihaknya juga mengimbau kepada seluruh pengurus dan kader PNA untuk tetap mengedepankan hukum dalam segala tindakan. “Namun jangan lengah dalam membela diri dan masyarakat. Kader dan pengurus PNA harus membantu tugas-tugas polisi dalam menangkap pelaku kekerasan di Aceh,’” tandasnya.[PM-02]

 

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh