Banda Aceh – Pemerintah Aceh kembali menegaskan bahwa Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden tahun ini merupakan pesta demokrasi yang sangat penting bagi perjalanan bangsa ke depan. Namun demikian, pelaksanaan pesta demokrasi hendaknya tidak mengusik kedamaian yang sudah terbangun. Untuk itu, Pemerintah mengajak insan pers untuk menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme damai.

Demikian disampaikan Asisten Administrasi Umum Muzakkar A Gani SH, mewakili Sekda Aceh saat membuka acara Pembukaan Pelatihan Jurnalistik Peliputan Pemilu Damai Sekolah Jurnalisme Indonesia Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh, di aula Kantor PWI Aceh Jln T. Angkasah No 3 Kuta Alam Banda Aceh, Senin (10/03/2014).

“Karena dengan perdamaian kita dapat melaksanakan pembangunan, dengan perdamaian kita dapat membangun kebersamaan, dan dengan perdamaian kita kembali mempersatukan perpecahan yang selama ini sempat dan masih terjadi di dalam masyarakat,” ujarnya.

Ikrar “Pemilu Damai” di Aceh sudah digelar. Deklarasi itu, kata Muzakkar, merupakan awal yang baik untuk menyukseskan Pemilu 2014 di Aceh. Agar benih-benih damai ini dapat tumbuh menjadi “pohon-pohon” yang menebarkan kedamaian, maka sangat dibutuhkan peran semua elemen masyarakat.

“Dan salah satu elemen bangsa yang sangat penting perannya adalah insan pers, terutama saat menyampaikan informasi tentang Pemilu kepada public,” imbuhnya.

Sebagai pekerja pers yang secara yuridis diberi kewenangan untuk mengumpulkan, mengolah, dan menyiarkan berita ke kepada pembaca, peran para insan pers dalam menciptakan Pemilu Damai cukup besar dan signifikan. Dengan kedudukan dan fungsi semacam ini, lanjut Muzakkar, tentu saja dibutuhkan kebijakan dan kearifan para insan pers dalam menyiarkan setiap fakta kepada masyarakat.

Direktur Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI) Aceh, Iranda Novandi melaporkan, kegiatan ini dimaksud untuk membekali para wartawan secara permanen dengan berbagai pengetahuan jurnalistik agar menjadi insan pers profesional.

“Menjelang pelaksanaan Pemilu, ada gesekan-gesekan yang mulai menjurus ke tindakan anarkis dan kriminal. Sehingga diperlukan pemberian pemahaman kepada masyarakat untuk bisa menciptakan pemilu damai. Dan tugas itu ada pada media,” ujarnya.

Target/capaian dari kegiatan ini, tambah Iranda, agar muncul pemahaman yang sama untuk bisa mewartakan informasi yang berbasis pemilu damai, menciptakan wartawan yang paham dan memiliki pengetahuan menyangkut pemilu damai serta lahirnya ide-ide kreatif dalam pemberitaan yang membawa dampak bagi timbulnya pemilu damai di Aceh.

Iranda juga mengatakan saat ini setidaknya ada 600 jurnalis yang bekerja di seluruh Aceh, dan 500 di antaranya bergabung dibawah organisasi PWI Aceh, dari jumlah itu sedikit sekali yang memahami etika jurnalistik saat melakukan peliputan. Pihaknya berharap SJI bisa menghasilkan jurnalis-jurnalis yang siap dan mampu menjalankan tugas jurnalistik dengan baik.

Sementara itu Ketua PWI Aceh yang diwakili HT. Anwar Ibrahim, mengatakan pelatihan ini sangat penting bagi jurnalistik dan masyarakat Aceh.

“Peranan pers atau media massa sangat dibutuhkan dalam mendorong pemilu damai, khususnya di Aceh. Sebagai kontrol sosial, media diharapkan juga memberikan sumbangan pemikiran dalam menciptakan pemilu yang damai ini,” katanya.

Pelatihan yang bertajuk “Pers Cerdas Hasilkan Karya Berkualitas” ini digelar 10-11 Maret 2014, diikuti 30 pekerja pers dari berbagai media serta menghadirkan lima pemateri, masing-masing dari KIP Aceh, Panwaslu Aceh, PWI Aceh, IJTI Aceh dan AJI Banda Aceh.

Acara pembukaan pelatihan ikut dihadiri Plt. Kabiro Humas Setda Aceh yang diwakili oleh Dr. Mahyuzar, Kepala UPTD Seuramo Kadishubkomintel Aceh, Ir. Sanasi, jajaran Pengurus PWI Aceh,  dan para wartawan senior. [rel /ridha]

 

Komentar