Demokrat Aceh pecah

PM, Banda Aceh – Situasi politik di internal Partai Demokrat Aceh diduga kian memburuk dan perlahan mencuat ke permukaan, terutama jelang Musyawarah Daerah (Musda) V partai tersebut. Hal krusial mulai tercium kala nama Nova Iriansyah muncul sebagai calon tunggal beberapa waktu lalu yang justru membuat perhelatan Musda Demokrat di Aceh ditunda.

Hal lain retaknya perahu partai tersebut adalah fenomena peralihan dukungan dari 13 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Demokrat yang berbalik arah melawan Nova pasca penundaan Musda. Diduga kuat, ke 13 DPC ini kecewa dengan pernyataan Nova dalam sebuah pertemuan yang menyebut-nyebut memiliki komunikasi baik dengan Moeldoko, tokoh KLB yang mengganggu solidaritas kader partai besutan SBY itu. Selain itu, tersembur kabar adanya dugaan tentang ketua definitif yang akan menjalani pemeriksaan dari lembaga antirasuah, yang berkantor di Gedung Merah Putih itu.

Mayoritas DPC Demokrat yang diduga kecewa tersebut kemudian mengarahkan dukungannya kepada Muslim, salah satu kader partai yang kini menjabat sebagai anggota DPR RI. Salah satu yang memberikan dukungan untuk Muslim adalah DPC Demokrat Banda Aceh.

Ketua DPC Demokrat Banda Aceh, Arief Fadhillah kepada pikiranmerdeka.co, Minggu, 8 Agustus 2021 kemarin mengakui bahwa dirinya secara resmi telah mendukung Muslim sebagai calon ketua di Musda mendatang. Alasan Arief peralihan dukungan tersebut dilakukan pihaknya karena Nova ingin fokus memimpin Aceh selaku gubernur, di sisa masa jabatannya. Pengakuan tersebut disampaikan Nova dalam pertemuan internal Demokrat Aceh beberapa waktu lalu.

Atas pertimbangan tersebut, DPC Demokrat Banda Aceh mengarahkan dukungannya kepada Muslim dan telah melayangkan surat resmi ke DPP, bersama-sama 12 DPC pendukung Muslim lainnya, termasuk Aceh Besar, Sabang, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe dan Aceh Timur.

Selanjutnya DPC Demokrat Langsa, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Simeulue, dan Aceh Jaya juga turut mendukung Muslim sebagai calon ketua.

Di sisi lain, terdapat 10 DPC yang masih loyal dengan Nova Iriansyah. Di antaranya adalah DPC Pidie dan DPC Demokrat Aceh Selatan.

Kondisi ini dinilai aneh, apalagi jika melihat Nova Iriansyah sang kandidat kuat sebelum Musda V Demokrat ditunda, merupakan pemangku jabatan Gubernur Aceh. Penolakan 13 DPC terhadap kepemimpinan Nova tentu mengundang pertanyaan besar dari khalayak di Aceh.

Guna membulatkan semangat mengganti Nova Iriansyah, beberapa kader Demokrat di Aceh juga mulai terlihat wara-wiri melakukan pertemuan. Konsolidasi lanjutan yang diwarnai debat-debat politik antara dua kubu pun mulai samar-samar terdengar ke publik di luar partai Demokrat Aceh. Hal inilah yang kemudian memantik Iqbal Farabi selaku Sekretaris DPD angkat bicara.

Iqbal dalam siaran pers yang diterima media ini, Selasa, 10 Agustus 2021, meminta para kader untuk menjaga kondusifitas menjelang Musda Partai Demokrat Aceh. Iqbal juga berharap kader Demokrat Aceh dapat menahan diri dan tetap berpolitik santun, sesuai rule etika politik partai politik. “Perjuangan kader partai Demokrat sesungguhnya adalah bertarung dan menang di tahun 2024,” kata Iqbal, yang mengaku optimis bahwa partai tersebut memiliki banyak kader untuk menggapai cita-cita tersebut.[]

Komentar