Meulaboh—Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, terus menggencarkan sosialiasi sagu sebagai pengganti beras untuk menekan ketergantungan makanan pokok tersebut.

Kepala Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPPKP) Aceh Barat T Zainal Abidin di Meulaboh, Kamis (11/10) mengatakan, pemerintah daerah terus mendorong masyarakat agar berbudidaya tanaman sagu untuk menyukseskan program penganekaragaman makanan non beras.

“Kami melihat ketergantungan terhadap pangan impor seperti gandum dan beras semakin tinggi, padahal apa salahnya kita manfaatkan pangan lokal seperti sagu dan ubi menjadi makanan pokok,” katanya.

Angka konsumsi beras di Kabupaten Aceh Barat yang berpenduduk 175 ribu jiwa lebih itu rata-rata 135 sampai 139 Kg/kapita/tahun, sementara sample negara Thailand mengkonsumsi rata-rata 74 Kg/kapita/tahun.

Karenanya, dengan upaya penyuluhan makanan konsumsi non beras paling tidak dapat menurunkan angka ketergantungan pangan beras di wilayah ini, ujarnya.

Salah satu upaya yang rutin dilaksanakan, kata Zainal, selain penyuluhan, pihaknya juga mengadakan lomba memasak menu masakan berimbang untuk memperkenalkan kepada masyarakat bahwa sagu dan ubi memiliki kandungan kalori gizi hampir setara dengan beras ataupun gandum.

Kabupaten Aceh Barat memiliki luas tanaman sagu diperkirakan lebih 20 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan seperti Kawai XVI, Sama Tiga dan Meureubo, namun pemanfaatan industri cendrung menjadi pangan ternak di bawa ke pasar Medan, Sumatera Utara.

Zainal menjelaskan, masih rendahnya pemanfaatan sagu sebagai makanan pokok pengganti beras disebabkan oleh kekhawatiran masyarakat terhadap kandungan kalori gizi tidak seimbang dan tidak setara dengan beras ataupun gandum.

“Bila kita cermati kalori gizi sagu dan beras itu hampir imbang, apalagi cukup banyak tanaman ini yang sudah tumbuh tidak kita manfaatkan, di sisi lain ini juga bisa menjadi sumber ekonomi industri rumah tangga,” katanya menegaskan.

Mantan Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Aceh Barat ini menjelaskan, penguatan pangan ke depan sangat dibutuhkan untuk mencerdaskan kehidupan dan menguatkan bangsa melalui program penganekaragaman makanan serta menghilangkan ketergantungan terhadap beras impor.

Kata Zainal, seluruh instansi pemerintah daerah akan coba dirangkul untuk memanfaatkan produksi pangan lokal masyarakat seperti ubi dan sagu menjadi aneka kue yang disediakan saat kegiatan serimonial dan resepsi pemerintah.

Menyangkut budidaya dan bantuan modal usaha kepada masyarakat, kata dia, masih sulit dilaksanakan, sebab belum ada tata ruang pemerintah daerah untuk pemanfaatan lokasi tertentu budidaya sagu dan ubi.

“Lahan ada saja belum habis kita manfaatkan, itu tidak jadi masalah namun saat ini bagaimana merangkul semua elemen agar mau menumbuhkembangkan makanan berimbang sebagai pengganti beras,” kata dia.[ant]

Komentar