Mop-Mop Aceh
Aksi Sanggar Mop-mop Meurak Jumpa Aceh Krueng Mane (SM3JAKM). Dari kiri, Syeh Kawi, Syeh Gani, dan Syeh Mae. FOTO: Dok. SM3JAKM

Puluhan tahun hilang dari belantika seni Aceh, seorang pemuda coba membangkitkan kembali mop-mop yang khas dan rumit. Berhasil?

Oleh Makmur Dimila

Mop-mop adalah sebuah kesenian menyampaikan pesan-pesan moral dengan perpaduan seni tutur, tari, teatrikal, dan musik, yang dimainkan tiga pemeran dengan setting rumah tangga. Namun keunikan seni tradisi itu tenggelam oleh hegemoni seni-seni kontemporer.

Nyakman Lamjamee terenyuh melihat kondisi itu. Ia ingin perkenalkan kembali. Diamatinya, ada tiga pria tua di Krueng Mane, Aceh Utara, yang sudah memainkan mop-mop tiga dekade lebih.

Mereka biasanya mengisi pesta perkawinan di gampong-gampong. Namun tak ada yang berikan mereka wadah untuk tampil lebih eksklusif, sehingga kesenian itu dapat dikenal masyarakat luas dan generasi muda Aceh.

Nyakman akhirnya pada awal 2011 menjumpai Syeh Gani (58) pemeran dara baro, Syeh Mae (72) pemeran linto baro, dan Syeh Kawi (70) pemeran ayah yang juga pemain biola. Dia bicara soal pelestarian mop-mop dan diiayakan mereka. Lahirlah Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane.

Usai pertemuan itu, Nyakman berpikir, perlunya meremajakan konsep mop-mop. Durasi penampilan untuk event resmi harus dipangkas. Jika di gampong-gampongbiasa berlangsung dari malam hingga subuh, ia ingin tampilkan pada kisaran 15-30 menit saja. Kreasi baru diciptakan agar mudah dinikmati kaula muda.

“Ceritanya dipadatkan. Ini yang cukup sulit; ibarat novel diubah ke puisi,” tutur Nyakman, usai Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane tampil pada Gelar Seni Budaya Aceh di Taman Budaya Aceh, 7 Oktober 2013.

TAK BERHARAP PADA PEMERINTAH

Mop-mop Aceh di TIM Jakarta
Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh di TIM Jakarta. Paling kanan, Nyakman Lamjamee. FOTO: Dok. SM2JAKM

Semenjak kepengurusan dipegang Nyakman dan dibantu Seramoe Teater Aceh, Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh telah tampil di beberapa event lokal maupun nasional: di Taman Sari dalam acara Piasan Seni Banda Aceh, 21 Agustus 2013, Studio Aceh TV pada 22 Agustus 2013, Taman Ratu Safiatuddin dalam Pekan Kebudayaan Aceh VI pada 28 September 2013 sebagai utusan Anjongan Banda Aceh, Taman Budaya dalam acara Gelar Seni Budaya Aceh, 7 Oktober 2013, Pagelaran Cipta Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, 26 November 2013, dan Malam Apresiasi Seni 10 Tahun Tsunami Aceh di Banda Aceh, 26 Desember 2014.

Menurut Nyakman, Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane tak mendapat dukungan dari Pemkab Aceh Utara dan Lhokseumawe, misalnya ketika menjelang PKA VI 2013. Pihaknya sudah lakukan beberapa cara, namun gagal mendapatkan bantuan.

Pun, ia berpikir the show must go on. Hingga ia daftarkan seni itu pada Anjungan Banda Aceh. Aksi timnya mendapat tepukan penonton lebih banyak daripada pertunjukan di Anjungan Aceh Utara dan Lhokseumawe sendiri.

Apresiasi tinggi juga diterima sanggar mop-mop satu-satunya di Aceh ini saat tampil 1,5 jam di Plaza Planetarium, Taman Ismail Marzuki. Dalam event itu, cuma tiga jenis kesenian dari Pulau Sumatera yang dipertunjukkan, mop-mop dari Aceh, ketoprak dordari Sumatera Utara dan randai dari Sumatera Barat.

Seorang kurator seni untuk acara itu, Ari F Batubara, terlihat sangat bangga meskipun harus jelaskan penonton isi cerita yang disampaikan pemain mop-mop. Sebab dialog perannya lebih dominan dalam Bahasa Aceh, yang hari itu mengangkat tema “bue drop daruet” alias keserakahan.

“Saya sendiri kurang paham,” kata Ari saat itu disambut tawa penonton. “Tapi mop-mop ini sangat menarik. Walaupun tidak memahami bahasanya, lewat gerak dan bahasa tubuh pelaku seni, kita dapat memahaminya. Mop-mop adalah kekayaan Aceh dan juga kekayaan Indonesia,” puji Ari.

Setelah penampilan, panitia memberikan cenderamata dan bingkisan sebagai bukti telah tampil di Taman Ismail Marzuki. Sebuah pengakuan bagi kehebatan Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane menampilkan seni yang sempat hilang.

Di sana Nyakman dapat pesan: “Jangan terlalu berharap pada pemerintah, lakukan saja apa yang kamu bisa,” tegas Fikar W Eda, seniman asal Gayo di Jakarta yang juga dewan pengarah acara itu. “Nyakman yang penting senang dan gigih, itu saja,” tambah Yopi Smong, seniman asal Simeulue.

BINGUNG MEMBENTUK FORMAT BARU

Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh
Aksi Mop-mop dalam satu even seni di Aceh. FOTO: IST/Dok. SM2JAKM

Dalam beberapa kali penampilan, Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane harus menyesuaikan format dengan permintaan panitia. Baik tema maupun durasi. Ini dianggap Nyakman sebuah aral untuk menemukan format baru yang sesuai dengan kekinian.

Aturan bakunya, mop-mop tampil di pentas dengan membawa konsep keluarga. Jika dimainkan tiga orang, maka akan ada: seorang ayah, putrinya sebagai dara baro, dan menantunya sebagai linto baro.

Cerita dibangun dengan tema serius namun dibawakan dalam bentuk komedi. “Tapi ini bukan sandiwara, sehingga tokoh dibatasi, tidak melibatkan tetangga si keluarga.”

Karena kekhasan itu membuat Nyakman juga kewalahan mencari format mop-mop. Ia kurang mendapat saran, justru banyak dikritik.

Kritik diantaranya dari segi syariat islam. Dalam mop-mop, ada satu peran perempuan yang dimainkan laki-laki. Dinyatakan haram hukumnya lelaki menyerupai perempuan. Tapi kalau dimainkan perempuan, urai Nyakman, lebih parah lagi, karena harus satu tim dengan dua pemeran laki.

“Akhirnya Teungku-Teungku bilang, mending lelaki saja yang perankan wanita itu. Kan cuma sebatas pentas, mereka kembali seperti biasa setelah tampil.”

Nyakman sendiri lebih kuat mempertahankan tiga lelaki, karena mudah dibawa kemana saja dan kapanpun bisa tampil. Jika perempuan, masa kariernya cenderung singkat.

“Dalam pandangan orang Aceh, perempuan yang sudah bersuami harus ada izin dari suaminya kalau keluar rumah. Oke ada izin suami, tapi bagaimana dengan keluarganya?”

Pada akhirnya, mop-mop tetap dimainkan oleh tiga lelaki tua serba bisa. Satu persoalan reda, masalah krusial pun menghadang.

TANTANGAN MENEMUKAN PENERUS

Latihan Mop-mop di Jakarta
Saat latihan di TIM Jakarta, sebelum tampil. FOTO: IST/Dok. SM2JAKM

Nyakman menyimpan kekhawatiran di balik keuletan penampilan timnya. Sulit melakukan regenerasi seniman. Kendalanya ialah tak mudah menemukan anak muda Aceh yang punya skill dan IQ tinggi selain memang mop-mop kurang diminati.

“Khawatir tidak ada masa depan dalam seni ini. Beda dengan tari saman, meski tidak ada uang tapi punya nama,” tuturnya.

Pun pihaknya tetap berupaya mencari penerus melalui sanggar dengan mengadakan pelatihan-pelatihan bagi anak muda yang mau menekuninya. Apalagi, ketiga pemain mop-mop sudah berusia senja. Mereka perlu bekerja untuk membiayai keluarga, selain kebugaran yang mulai menurun.

Kemah Seniman Aceh IV di Jantho, 11-13 September 2015, menjadi panggung terakhir Syeh Gani dalam melestarikan mop-mop. Beberapa hari kemudian ia sakit dan menghembuskan nafas terakhir pada 26 September 2015. Kepergiannya meninggalkan lubang dalam nan sunyi bagi Tim Sanggar Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane. Adakah penggantinya?[]

*Diterbitkan di Rubrik SENI Tabloid Pikiran Merdeka edisi 109 (1-7 Februari 2016)

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh