Panen kopi gayo di perkebunan kopi desa Jamur Uluh. (foto Fauzan My)
Petani kopi arabika Gayo. (foto Fauzan My)

PM, TAKENGON — Dataran tinggi Tanah Gayo meliputi Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, di Provinsi Aceh adalah penghasil kopi arabika terbesar di Asia Tenggara. Mirisnya, hingga saat ini belum ada balai penelitian kopi di sana.

“Pemerintah di tiga kabupaten penghasil kopi ini tidak punya visi dan misi yang jelas terhadap kopi Gayo,” kata pengamat kopi gayo, Win Ruhdi Bathin, di Takengon, Jumat (30/10/2015).

“Coba kita lihat Pemerintah Daerah Jember yang terlebih dahulu memiliki balai penelitian kopi sehingga menjadi pusat penelitian kopi di Indonesia,” katanya.

Akibat tidak memiliki pusat penelitian kopi, tambahnya, petani di daerah ini lebih memilih mengambil bibit kopi dari berbagai orang, tanpa kejelasan genetik. Akibatnya, hasil yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan.

Baca Juga: Kopi Gayo Aceh Jadi Primadona di Global Specialty Coffee Expo 2018

Menurut Ruhdi, sebagai penghasil kopi di Asia Tenggara, salah satu dari tiga kabupaten tersebut seharusnya sejak lama menjadi pusat penelitian kopi di Indonesia.

“Kopi arabika sudah ada di Gayo sejak tahun 1908, kenapa kita tidak punya balai penelitian kopi, inilah kenapa saya katakan pemerintah daerah tidak punya visi misi yang jelas terhadap kopi,” papar Ruhdi.

Kopi Gayo, jelas Ruhdi, dikenal sebagai kopi spesial dan organik yang sangat disukai rasa dan aromanya, karena memiliki ciri khas tersendiri yang disukai konsumen dunia.

“Namun sayangnya, kita masih menjual kopi dalam bentuk mentah atau green been ke berbagai pasar di luar negeri,” ucapnya.

Baca Juga: Pesta Panen Kopi Gayo

Ia berharap ke depan pemerintah daerah maupun Pemerintah Provinsi Aceh mulai menjual kopi gayo dalam bentuk setengah jadi atau roasted been sehingga harga kopi gayo mendapat keuntungan lebih tinggi diperoleh petani lokal.

Selama ini, kata Rudhi lagi, margin keuntungan yang besar justru menjadi milik pengusaha dari luar negeri. “Prospek kopi gayo semakin cerah di masa depan, karena tren minum kopi kopi di dunia semakin meningkat. Sementara tidak semua kawasan di dunia bisa ditanami kopi, inilah kenapa peluang dan harga kopi Gayo semakin baik. Pemerintah Daerah harus mampu melihat peluang ini,” imbuhnya.

[PM004]

Komentar