Martunis Ronaldo anak angkat Cristiano Ronaldo
Martunis Ronaldo anak angkat Cristiano Ronaldo

Anak angkat Cristiano Ronaldo ini berancang-ancang masuk polisi jika ia tidak bisa merumput di Eropa, untuk menjamin masa depannya.

Perawakan Martunis (19) jauh sekali berbeda ketika ia dibawa ke Portugal untuk pertama kalinya pada 2005. Tubuhnya tidak lagi mungil dan gelap, melainkan sudah berisi dan putih khas atlet Eropa.

Putra Sarbini itu mendapat beasiswa dari Sporting Foundations untuk belajar di Akademi Sepakbola Sporting Lisbon, akademi yang melahirkan pebola handal semisal Luis Figo, Rui Costa, hingga Cristiano Ronaldo.

Martunis terbang ke Portugal pada 28 Juni 2015. Ia diharapkan mampu menjadi bintang dan mengharumkan nama Indonesia. Usai menjalani kontrak setahun, dia kembali ke Aceh pada 16 Juni 2016.

“Saya pulang ke Aceh dalam rangka liburan, karena kontrak setahun bersama Sporting Lisbon sudah selesai,” kata Martunis kepada Pikiran Merdeka, Kamis (23/06/16).

Apakah ada kelanjutan kontraknya setelah liburan ini? “Belum tahu,” sahut Martunis, dari sofa di rumahnya di Gampong Tibang, Jeulingke, Banda Aceh, “tergantung sama mereka (Akademi Sporting Lisbon),” sambungnya.

Martunis selama di akademi sering mengalami cedera otot. Suatu hal yang normal menurutnya. Sebab sebelum latihan di Portugal, ia tidak pernah nge-gym secara rutin layaknya di Sporting. “Otot saya sering cedera,” ucapnya.

Fisik remaja yang selamat dari amukan tsunami 2004 itu tidak terbiasa dengan teknik latihan sepakbola Eropa. Menurutnya, pebola di Benua Biru ditargetkan sudah menjadi pemain profesional saat berusia 18-19 tahun.

“Seperti pemain Portugal yang tampil melawan Hungaria (laga terakhir penyisihan Grup F Piala Euro 2016_red), Renato Sanches, dia masih 18 tahun. Awalnya dia di tim junior, ketika skill-nya sudah bagus, dia ditarik ke tim senior,” Martunis mencontohkan.

Namun ia bersyukur bisa berlatih bersama Tim Junior Sporting Lisbon. Setidaknya ia menggapai cita-cita seperti diharapkan CR7 saat ke Bali tahun 2013, “terus berlatih sepakbola, jika bagus akan dibawa ke Eropa.”

Remaja kelahiran 2 Mei 1997 ini melanjutkan, di Eropa, maksimal pada usia 20 tahun seorang pemain harus masuk tim B. Beda dengan sistem di Indonesia.

Jika setelah setahun ini dia tidak bisa mencapai level skill untuk masuk Tim B Sporting Lisbon, masa depannya di mantan klub Ronaldo itu akan suram.

Lanjut ke Halaman 2

Komentar