makam syiah kuala

PM, Banda Aceh – Kompleks makam ulama Aceh, Syekh Abdurrauf As Singkili atau akrab disebut Syiah Kuala kerap disambangi wisatawan mancanegara. Menjadi salah satu destinasi wisata religi, kompleks makam yang sering digelar kenduri ini kini butuh renovasi.

Suatu petang, di awal November 2021, penulis menyambangi kompleks makam yang berada di Gampong Deyah Raya Banda Aceh itu. Dentuman ombak sayup-sayup terdengar ketika penulis memarkirkan sepeda motor di depan plang makam tersebut. Sementara matahari sudah sejak siang bersembunyi di balik awan.

Angin dingin menusuk tulang kala seorang pria terlihat asyik memandikan bocah, di sebuah kolam beton, di kompleks itu. Namanya Muhammad. Usianya sudah separuh abad. Badannya kecil, uban berbaris rapi di kepala dan di bawah hidungnya.

Muhammad merupakan warga Ulee Kareng. Saban hari dia berangkat dari tempat tinggalnya untuk membantu khadam Makam Syiah Kuala mengurusi kompleks wisata religi itu. Tugas Muhammad adalah membantu orang-orang melepas nazar di kompleks makam itu. Hal yang biasa dilakukan warga Aceh secara umum dan menjadi kebiasaan turun temurun.

“Sering orang melepas nazar di sini, niatnya beragam. Namun kita sering mengingatkan agar peziarah tidak sampai musyrik, bahwa semua doa dipanjatkan kepada Allah swt, bukan kepada pemilik makam,” ujar Muhammad setelah selesai menjalankan tugas memandikan anak-anak di kolam makam.

Dia menyebutkan, memandikan anak-anak balita di kolam makam merupakan satu dari sekian banyak nazar para peziarah yang datang ke lokasi itu. Sering juga para peziarah menggelar kenduri nazar di sana. “Memotong kambing dan juga ada yang memasak kuah beulangong di sini,” lanjut Muhammad.

Para peziarah yang datang pun tidak selalu warga kota Banda Aceh. Ada juga para peziarah yang datang dari luar daerah, termasuk dari Sumatera Barat. Sebelumnya, peziarah dari Malaysia dan Asia Tenggara juga kerap berkunjung ke makam yang kini “terkurung” di dalam bangunan beton tersebut.

“Umumnya yang datang adalah jamaah tarikat syattariah,” jelas Muhammad.

Syekh Abdurrauf memang salah satu ulama yang mewarnai tarekat Syattariah di Aceh. Tarekat ini populer di India sejak abad 15 dan pernah menduduki posisi penting lantaran memiliki pengaruh besar dalam dunia Islam. Selain pengembang tarekat, Syekh Abdurrauf juga dikenal sebagai salah satu mufti dan Qadhi Malikul Adil di kerajaan Aceh Darussalam.

Abdurrauf pernah berguru pada 19 ulama tentang berbagai disiplin ilmu. Prof Dr H M Hasbi Amiruddin dalam buku “Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik” bahkan menyebut Syekh Abdurrauf pernah menuntut ilmu di dayah pimpinan Hamzah Fansuri. Dia juga selanjutnya berguru pada Syekh Syamsu al-Din Al Sumatrani serta beberapa ulama lain selama perjalanannya menuju Mekkah.

Abdurrauf juga dikenal sebagai ulama produktif yang melahirkan berbagai kitab di bidang fiqih, tafsir, hadist, ilmu kalam hingga tasawuf. Sebagai seorang yang alim, Abdurrauf juga turut membuka dayah pengajian di wilayah pesisir pantai Kesultanan Aceh Darussalam sehingga dirinya belakangan dikenal dengan Teungku Di Kuala alias Syekh Kuala.

Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Seorang khadam keturunan dari Syech Abdul Wahid mengunci pintu makam Syech Abdurrauf yang berada di dalam sebuah bangunan seluas dua kali lapangan voli. Beberapa pria yang sedari duduk di teras penunggu makam kemudian bergegas masuk ke dalam ruangan sembari membawa celeng.

Muhammad sendiri masih berbenah di dekat kolam pemandian yang berada dekat dengan sebuah balai panggung, dekat kompleks makam Syekh Abdurrauf. Sesekali Muhammad menatap plafon gedung makam yang telah jebol di beberapa titik. “Banyak yang sudah rusak,” kata Muhammad.

Dia menyebutkan penataan ulang kompleks Makam Syekh Abdurrauf terakhir kali dilakukan di masa rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Selebihnya khadam makam memanfaatkan sumbangan dari para peziarah untuk memperbaiki segala fasilitas yang ada di makam ulama besar Aceh–yang disebut-sebut sebagai salah satu destinasi andalan pemerintah dalam pengembangan ‘Wisata Religi” di Bumi Serambi Mekkah.[]

Komentar