Kartu ATM bank Aceh. (Foto PM/freebiespic.com)
Kartu ATM bank Aceh. (Foto PM/freebiespic.com)

Mesin ATM Bank Aceh sering bikin ulah. Dari macet hingga sering kosong. Terkadang, transaksi gagal namun saldo di rekening nasabah berkurang.

Seorang juru parkir di kawasan Jeulingke, Kecamatan Syiahkuala, Banda Aceh, hanya pasrah terhadap pengendara sepeda motor yang tidak membayar iuran parkir. Bahkan, pengendara yang keluar dari Anjungan Tunai Mandiri (ATM) Bank Aceh itu berlalu begitu saja dengan raut kecewa.

Menurut juru parkir tersebut, wajah-wajah kecewa saat keluar dari boks automated teller machine milik Bank Aceh sudah menjadi pemandangan biasa baginya. Ia juga mengaku sering mendengar keluhan nasabah Bank Aceh yang tidak bisa menggunakan mesin ATM karena sistem pelayanan mengalami gangguan.

“Banyak nasabah Bank Aceh tak mau bayar parkir, karena keperluan mereka ke ATM tak terpenuhi,” katanya.

Amatannya, dari 100 pengguna mesin ATM itu, biasanya ada sekitar lima orang mengalami kendala dalam melakukan transaksi. “Ujung-ujungnya mereka sering ngomel dan tidak mau membayar jasa parkir,” katanya.
Beberapa nasabah yang ditemui Pikiran Merdeka juga mengeluhkan pelayanan mesin ATM Bank Aceh. Muchtar, misalnya, mengaku memiliki pengalaman buruk berkali-kali saat bertransaksi di ATM Bank Aceh. Terutama penarikan tunai di awal bulan, kata dia, transaksinya sering gagal.

“Biasanya masalah jaringan, itu di awal bulan. Kadang berpengaruh ke debet. Laporan penarikan berhasil, tapi uangnya tidak keluar dari mesin ATM,” sebut Muchtar.

Nasabah lainnya, Habibi mengeluhkan lambannya proses penarikan saat menggunakan mesin ATM Bank Aceh di kawasan Kopelma Darussalam. Menurut dia, kondisi tersebut telah terjadi berulang kali.

“Menunggunya kadang agak lama, baru uangnya keluar,” aku nasabah Bank Aceh yang juga mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ini.

Kerena itu, ia memilih untuk menyisihkan sebagian dana tabungannya di bank lain. “Untuk jaga-jaga, kalau lagi mepet bisa tarik pakai ATM lain yang jarang ada gangguan,” tambahnya.

Lain lagi pengalaman Ghasyia, nasabah Bank Aceh yang juga mahasiswa semester akhir sebuah PTN di Banda Aceh. Dikisahkannya, belum lama ini ia melakukan penarikan uang tunai di ATM Bank Aceh kawasan Jeulingke. “Transaksi itu gagal dan uang tidak keluar,” sebutnya.

Menurut Ghaisya, perihal serupa juga dialami beberapa nasabah yang melakukan transaksi di ATM tersebut. “Bahkan ada ibu-ibu yang kala itu mengaku sangat membutuhkan uang tunai, terpaksa pulang dengan tangan hampa karena transaksinya gagal,” uangkapnya.

Keesokan harinya, lanjut Ghasyia, dirinya mengecek saldo di Tabungan Firdaus miliknya. “Ternyata saldo di rekening saya sudah berkurang sejumlah yang ingin saya lakukan penarikan,” katanya.
Meski sedikit jengkel dengan kondisi itu, Ghasyia mengaku berusaha tenang. Hari itu juga ia melakukan klaim ke Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank Aceh di Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Menurut Ghasyia, customer service Bank Aceh di sana memintanya bersabar karena klaim tersebut baru selesai diproses dalam waktu seminggu.

“Belakangan, saya dihubungi pihak bank yang menyatakan saldo saya yang hilang sudah dikembalikan. Saat saya cek, ternyata benar saldo di rekening saya sudah seperti semula,” katanya.
Meski begitu, lanjut Ghasyia, dirinya sudah terlanjur kecewa dengan pelayanan Bank Aceh. “Selain waktu kita terbuang untuk melakukan klaim, keperluan kita juga tidak terpenuhi akibat kegagalan transaksi,” keluhnya.

SERING MENERIMA KLAIM

Wakil Pimpinan Kantor Pusat Operasional (KPO) Bank Aceh Ali Muhayatsyah mengakui, pihaknya memang sering menerima klaim seputar persoalan transaksi melalui ATM. Menurut dia, hal itu tidak saja dialami Bank Aceh tetapi juga dialami bank lain yang beroperasi di Banda Aceh.

“Umumnya disebabkan persoalan teknologi. Kadang-kadang ada masalah pada jaringan,” kata Ali saat ditemui Pikiran Merdeka di ruang kerjanya, Jumat, 15 Desember 2016.

Ditegaskanya, kondisi ATM yang terkadang bermasalah bukanlah akibat kelalaian pihak bank. Bank Aceh, terang Ali, telah menyediakan unit khusus di setiap cabang untuk melayani klaim nasabah. “Unit tersebut melakukan pengontrolan setiap saat pada aktivitas transaksi melalui ATM. Urusan operasional juga kami tangani secara sigap,” katanya.

Masalahnya, ulang Ali, semata-mata terdapat pada jaringan. Faktor cuaca acap kali berpengaruh pada pola kerja komponen penunjang dalam ATM yang umumnya terdiri dari material fisik, sehingga kualitasnya menurun sewaktu-waktu. “Intinya, ini gangguan sesaat. Kami tidak pernah membiarkan ATM terbengkalai. Jika bermasalah, segera diatasi,” tegas Ali.

Dia menambahkan, selama ini hampir tidak ada lagi pengaduan nasabah Bank Aceh mengenai kendala ATM. “Sekarang tidak ada laporan seperti ATM rusak, uang tidak tersedia dan sebagainya. Paling-paling sebentar saja, satu sampai dua jam terkendala. Tapi tidak sampai mengganggu aktivitas transaksi nasabah secara keseluruhan,” tandasnya.

SEBATAS KELUHAN

Keluhan nasabah menyangkut permasalan transaksi melalui ATM umumnya sebatas lisan dan hanya melakukan klaim ke pihak bank. Sementara pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Aceh sejauh ini belum pernah menerima laporan pengaduan nasabah Bank Aceh terkait penggunaan ATM.

“Belum ada laporan soal itu yang masuk ke kami,” sebut staf Humas OJK Aceh yang dihubungi Pikiran Merdeka, Jumat, 15 Desember 2016.

Sebagai lembaga yang berfungsi melakukan pengawasan, sebut dia, OJK terus memantau apabila terdapat keluhan menyangkut kepentingan konsumen di setiap kegiatan keuangan, termasuk pengaduan soal ATM. “Jika berkaitan dengan individual bank-nya, kita menunggu dulu pengaduan dari nasabah,” katanya.

Dia menjelaskan, ada beberapa mekanisme dalam mengajukan pengaduan ke OJK. “Setelah keluhan kami terima dari masyarakat, kami segera mengkonfirmasi terlebih dahulu pada bank yang dituju,” katanya.

Kalau temuan lapangan berbeda dari laporan bank, lanjut dia, maka OJK akan melakukan pemeriksaan secara mendalam. “Jika masalahnya mengenai akses, kita akan lakukan pemeriksaan IT. Terjadi pertukaran kode ATM atau tidak, dan sebagainya,” tambahnya.

OJK juga menghimbau nasabah agar tidak segan-segan melaporkan jika terdapat kendala dalam kegiatan keuangan. Selama ini pihak OJK telah mengadakan sosialisasi hingga kabupaten/kota, guna meningkatkan kualitas penanganan aduan konsumen keuangan di Aceh.

Imbauan serupa disampaikan Wakil Pimpinan KPO Bank Aceh Ali Muhayatsyah. Ia berharap, jika ada nasabah yang terkendala saat bertransaksi melalui ATM, segera melaporkan hal tersebut ke Bank Aceh terdekat. “Ini sangat membantu kita untuk bergerak lebih cepat dan fokus. Seperti yang sudah saya sampaikan tadi, kami punya unit khusus pelayanan klaim di setiap cabang. Kami akan bergerak cepat,” janjinya.

Terkait masa pendebitan dana untuk kembali ke rekening nasabah, Ali menerangkan, butuh waktu maksimal tujuh hari kerja. Hal ini berdasarkan asumsi padat atau tidaknya aktifitas atau mutasi di ATM tersebut.

“Tujuh hari untuk ATM yang jarang digunakan. Tapi untuk ATM yang padat mutasinya, kadang dalam kurun waktu kurang dari tujuh hari, kami telah melakukan perbaikan, yakni pembersihan dan pengecekan setiap perangkat mesin ATM. Di situ akan kami temukan jika ada kartu yang tersangkut, uang tidak keluar, atau transfer yang tidak masuk,” papar Ali.

Kendati persoalan ATM masih membelit nasabah, sebut Ali, dalam tahun ini Bank Aceh terus menambah jumlah mesin ATM. Untuk Banda Aceh saja, saat ini Bank Aceh menyediakan lebih 40 mesin ATM. “Kami terus berbenah. Berhubung boks ATM sudah semakin banyak, kami berupaya terus meningkatkan pelayanan kepada para nasabah,” pungkasnya.[]

Komentar