Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, menyampaikan arahan sekaligus pembekalan pada Rapat Kerja Lanjutan Percepatan Program Bersih, Rapi, Estetis dan Hijau (BEREH), Stunting dan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA), di Aula Pendopo Bupati Gayo Lues, Senin (14/10/2019). (Foto/Ist)
PM, Gayo Lues – Layanan publik di Gayo Lues perlahan mulai dibenahi. Adanya program Bersih,  Rapi, Estetis, dan Hijau (BEREH), yang digagas Pemerintah Aceh memacu perbaikan itu. Hal itu disampaikan Camat Pantan Cuaca, Salid saat menerima kedatangan Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah beberapa waktu lalu
“Pegawai kantoran disini ikut mengaplikasikan program itu dan terasa manfaatnya,” kata Salid.
Bukan hanya di kantor camat, Pemerintah Aceh juga mensosialisasikan program BEREH ke desa-desa di Kecamatan Pantan Cuaca. Sembilan gampong dalam dua kemukiman di kecamatan itu ikut berbenah. “Meunasah Alhamdulillah sudah posisi hijau,” kata dia. Artinya, tempat ibadah di Pantan Cuaca telah BEREH.
Senada dengan Salid, dr. Novita Wahyuni Kepala Puskesmas Dabun Gelang, mengatakan program BEREH yang ditawarkan Sekda penting untuk mendorong mereka berbenah.
“Kebersihan tempat kerja sangat mempengaruhi kinerja. Hal itu juga pastinya memberi pengaruh pada perilaku hidup sehat masyarakat. Pola hidup sehat bukan akan membuat kesehatan dan kesejahteraan hidup masyarakat meningkat,” kata Novita.
Saat ini, lanjut dia, Puskesmas Dabun Gelang juga tengah melakukan program percepatan penurunan penderita stunting dan gizi buruk di lingkungan layanannya. Di tahun lalu, tercatat 16 anak yang menderita stunting. Namun usai pemutakhiran data di Aplikasi EPP GBM, angka stunting turun menjadi 7 orang.
Beberapa langkah yang dilakukan petugas kesehatan, seperti mengukur kembali bayi-bayi dan memonitor pertumbuhan mereka. Jika anak terindikasi kurang gizi, pihaknya akan langsung memberikan PMT dan merujuk bayi ke dokter umum. “Kita juga memberikan edukasi ke keluarga sehingga orang tua mau mengkonsumsi dan memberikan asupan gizi cukup pada keluarga,” kata Novita.
Selain itu, untuk menggalakkan program imunisasi, pihaknya membuat program pemberian hadiah bagi anak yang mau diimunisasi. Di antaranya adalah memberikan balon bagi anak, baju bayi hingga perlengkapan mandi. Untuk kampanye imunisasi, mereka juga melakukan door to door atau menyambangi rumah warga yang punya bayi.
“Kita juga kerjasama dengan masyarakat dan melakukan Jumat bersih bersama PKK kampung, petugas kamtibmas dan masyarakat desa. Mereka ada di barisan depan pemberantasan stunting,” kata Novita.
Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, mengatakan program penanganan stunting dan BEREH, dilakukan Pemerintah Aceh sebagai upaya membuat Aceh menjadi daerah unggulan di masa depan. Anak yang lahir di masa sekarang, kata Taqwallah adalah generasi yang nantinya akan memimpin Aceh. Karenanya mereka perlu dijaga demi kemajuan daerah di masa depan.
Para petugas kesehatan, camat, hingga kepala desa, kata Sekda adalah mereka yang telah diberikan salah satu slot masuk surga. Namun tiket itu bisa gugur jika layanan bagi masyarakat terhenti. Karenanya ia meminta agar pelayan masyarakat itu memberikan layanan terbaik sehingga tiket surga itu memang benar-benar menjadi hak mereka.
“Jika anda petugas kesehatan, jangan pernah menolak pasien dalam kondisi apapun. Jika anda camat dan kepala desa pastikan masyarakat mendapatkan hak mereka yaitu layanan kita,” kata Taqwallah.
Taqwallah menyebutkan, sedikitnya ada tiga hal yang harus dipenuhi oleh pelayan masyarakat ini, yaitu sabar, komunikatif dan cita rasa. “Kita harus sabar dalam memberi pelayanan. Sebagai pemimpin kita harus komunikatif dalam melayani ke bawah dan kita harus punya cita rasa,” kata dia. “Tidak ada yang langsung sempurna. Semua perlu perbaikan. Jangan pernah kecewa dengan yang gagal. Gagal itu adalah pembelajaran.”
Khusus pada bidan desa di Gayo Lues, Taqwallah mengatakan ada beberapa titik pantau yang wajib dilakukan mereka. Pertama, mereka harus memantau dan mendata setiap ibu hamil. Ibu hamil harus dipastikan mempunyai buku KIA dan diberikan  obat tambah darah saat hamil. “Bidan harus memeriksa ibu hamil minimal 4 kali,” kata Sekda.
Saat akan melahirkan, bidan desa harus memastikan status ibu hamil, apa akan melahirkan secara normal atau pun masuk dalam kelompok resiko tinggi atau resti. Jika ibu hamil masuk kelompok resti, tenaga kesehatan harus memastikan pasien tertangani dengan baik.
Selanjutnya adalah saat bayi lahir. Petugas harus memastikan agar bayi mendapatkan IMD, atau menghisap Air Susu Ibu perdana atau ekslusif begitu lahir. “Jika anak mendapatkan itu, anak biasanya akan terhindar dari sakit sampai usia 3 bulan pertama,” kata Sekda Taqwallah.
Bagi ibu, lanjut dia, paska-melahirkan harus diberi pemahaman agar memberikan asi ekslusif bagi bayi hingga usia 24 bulan, serta memastikan anak mendapatkan imunisasi dasar.
“Itu semua disebut sebagai masa 1.000 hari pertama kehidupan. Jika kita bisa melakukan itu, insya Allah anak akan terhindar dari stunting,” kata Sekda Taqwallah.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Gayo Lues, Purnama Abadi, menjelaskan kondisi kesehatan di Gayo Lues. Ia menyebutkan ada 12 Puskesmas dan 40 Puskesmas Pembantu dengan 83 Polindes yang tersebar di 11 Kecamatan. Seluruh lokasi layanan kesehatan itu melayani sekitar 83 ribu masyarakat yang tinggal di 145 desa.
Seluruh desa di Gayo Lues, kata Purnama telah ada posyandu. Namun demikian, kata dia, masih didapati anak yang menderita stunting dan gizi buruk. “Angka stunting 166 orang dan 3 anak mengalami gizi buruk,” kata dia.
Sementara Direktur Rumah Sakit Umum Kabupaten Gayo Lues, dr. Mutia Fitri, yang juga memaparkan kondisi layanan di tempat ia berdinas, mengatakan rumah sakit yang ia pimpin berakreditasi Madya dengan klasifikasi tipe C. Ia membawahi 539 pegawai yang 177 di antaranya adalah Pegawai Negeri Sipil.
Rumah Sakit Gayo Lues telah memiliki dokter spesialis kandungan, dokter penyakit dalam, dokter spesialis bedah, dokter spesialis kandungan, dikter spesialis kulit dan kelamin, dokter spesialis mata, dokter spesialis THT dan dokter spesialis anestesi. Mutia Fitri melaporkan, pihaknya belum lagi memiliki dokter spesialis gigi dan mulut, dokter spesialis patologi klinik dan dokter rehabilitasi medik.
“Mohon pertimbangan Bupati agar bisa mengusulkan penempatan dokter spesialis yang belum lagi terpenuhi di tempat kita,” kata Mutia Fitri. [*]

Komentar