Bank Aceh Syariah Jambo Tape. (Foto Dova Aliza)

Pria paruh baya ini tak mengira pencairan kreditnya di Bank Aceh akan berjalan begitu cepat. Terhitung hanya dua hari, dia sudah mendapatkan pinjaman dana Rp100 juta. Proses tersebut disebutnya bisa sehari, asalkan persyaratan dapat dipenuhi dan mendapat persetujuan pimpinan.

“Persyratannya mudah. Seingat saya hanya SK PNS, SK gaji, mengisi form permohonan yang ditandatangani kepala rumah sakit dan diketahui oleh bendahara,” ujar seorang pegawai Rumah Sakit Umum Zainal Abidin yang tak mau disebutkan namanya.

Pada saat pengambilan uang di bank, pria ini juga harus membawa istrinya untuk menandatangani perjanjian pinjaman. Setelah proses administrasi selesai, ia langsung mendapatkan dana segar. Atas uang yang diambilnya, ia harus menyicil selama 10 tahun.

Ia terpaksa mengambil kredit tersebut untuk merehab rumahnya. Selebihnya digunakan membeli kebutuhan rumah tangga lainnya. Kini, dengan gaji pokok per bulan Rp2,5 juta, ia harus rela dipotong untuk biaya kredit Rp1,665.000. “Saya hitung-hitung hampir 70 persen gaji saya dipotong setiap bulannya.”

Baca: Lintah Darat Berkedok Perbankan

Pria kelahiran Aceh Rayeuk ini sudah menikmati sisa gaji sebesar itu selama tiga tahun terakhir. Setidaknya, ia harus menjalaninya selama tujuh tahun ke depan. Setelah dipotong pembayaran kredit, praktis gajinya hanya tersisa sekitar ratusan ribu rupiah untuk dinikmati bersama keluarga. Dengan jumlah tanggungan seorang istri dan empat anaknya, jumlah itu diakuinya tak mencukupi untuk biaya hidup sehari-hari.

Untuk mememenuhi kebutuhan tersebut, ia mengaku sering keluar kantor pada saat jam kerja jika ada yang meminta bantuannya. “Saya biasa menjadi supir jika ada rekan-rekan yang minta bantu. Biasanya saya diminta menjemput tamunya di bandara bahkan membawa tamu tersebut jalan-jalan,” akunya.

Untungnya, lanjut dia, sejak pindah dari RSUZA ke Sekretariat Daerah dirinya tidak terlalu terikat. Kini ia hanya staf bisa dan tak punya banyak tanggung jawab di kantor.

Pengakuan senada disampaikan seorang Kabid di sebuah SKPA. Pria yang menolak namanya ditulis mengaku mengambil kredit hingga Rp200 juta. Akibatnya, saat ini ia hanya menikmati gaji ratusan ribu rupiah setelah dipotong cicilan kredit. “Saya harus cicil kredit selama 15 tahun,” katanya.