Sekjen BOPI Pusat, Heru Nugroho bersama Pembina Panpel, H Zaini Yusuf, Kadispora Aceh Musri Idris dan Ketua Panpel M Sakdan Abidin saat membahas pelaksanaan Turnamen Sepakbola Internasional Tsunami Cup I 2017 di Lhong Raya, Banda Aceh, Minggu (23/7/2017).

Turnamen sepakbola bertajuk Tsunami Cup yang tertera dalam usulan RAPBA-P diketahui sudah dipersiapkan sejak beberapa bulan lalu. SK Kepanitiaan telah diteken Irwandi pada Juli lalu, meski anggaran untuk kegiatan tersebut belum tersedia.

Irwandi pada Jumat (22/9) kembali menjelaskan ke publik melalui laman facebooknya soal polemik usulan RAPBA-P. Saat menulis status itu, Irwandi diketahui tengah melakukan kunjungan kerja di Turki. Tulisan ia maksudkan sebagai renungan pagi berjudul “Aceh di bawah tempurung dan proses menyingkirkan tempurung.”

Dalam tulisan itu, ia coba menjelaskan soal RAPBA-P yang ramai ditentang publik. Ia menjelaskan soal pelaksanaan Sail Sabang dan Tsunami Cup. Ia memulai dengan percakapan dirinya dengan Presiden Joko Widodo sehari sebelum pendaftaran calon gubernur.

Lalu ia pun menuliskan bahwa pada penghujung tahun ini akan ada kegiatan Sail Sabang. “Ke depan, akan lebih banyak lagi event bertaraf internasional diadakan di Aceh. Insya Allah, saya tidak mau menjadi gubernur yang biasa-biasa saja,” tulis Irwandi.

Lalu ia menjelaskan soal kegiatan kejuaraan Tsunami Cup, dimana kita akan mengundang negara yang pernah mengalami tsunami seperti Jepang, Thailand, Malaysia, Srilanka, dan tuan rumah Indonesia. Ia pun mengakui menggunakan nama Tsunami Cup memang menimbulkan kontroversi.

“Ini sudah diprediksi dari awal. Bahwa tsunami itu bencana besar. Iya, tsunami itu telah menimbulkan kesedihan yang luar biasa, itu betul. Tapi untuk menggerakkan negara korban tsunami tidak bisa kita menggunaka payung lain selain tsunami. Tapi ini telah menimbulkan antipati. Baiklah judulnya akan saya ganti dengan: DISASTER AWARENESS CUP,” tulis Irwandi.

Dia menambahkan, “awalnya kegiatan kejuaraan bolasepak ini akan ditangani oleh PSSI sedangkan untuk perbaikan stadion dan fasilitas penunjang lainnya agar memenuhi standar internasional biayanya ditanggung oleh Pemerintah Aceh sekitar Rp4 miliar. PSSI ternyata mengalami masalah keuangan sehingga tidak mampu membiayainya, maka terpaksalah Pemerintah Aceh mengambil alih pelaksanaannya. Bengkaklah biaya menjadi Rp11 miliar,” jelasnya.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa turnamen tersebut sudah dipersiapkan sejak tiga bulan lalu. M Sakdan Abdin, Ketua Pelaksana Tsunami Cup mengakui telah mempersiapkan turnamen tersebut sejak lama.

Ia bersama Ketua Aceh United, M Zaini menghadap Gubernur Irwandi Yusuf. Dalam pertemuan pada medio Juni lalu, dispekati digelar kembali turnamen intersnasional di Aceh.

“Kami sejak bulan puasa (Juni-red) telah menghadap Pak Irwandi. Pada saat itu kami menyampaikan kepada beliau bahwa kita sudah lama tak menggelar turnamen internasional setelah Piala Gubernur 5 tahun lalu. Lalu saya menawarkan kepada Pak Gubernur agar diadakan kembali turnamen internasional seperti pada periode pertama Irwandi dulu,” cerita Sakdan.

Gayung bersambut dan turnamen tersebut disetujui Irwandi. Sakdan yang pernah menjadi Ketua Panpel Piala Gubernur saat Irwandi menjadi gubernur periode 2007-2012 mengatakan dirinya akhirnya ditunjuk sebagai Ketua Panpel dalam event tersebut.

Untuk hadiah bagi juara, ia juga mengusulkan ada penambahan dari Piala Gubernur 5 tahun lalu. Sakdan pun mengusulkan agar hadiah untuk juara 1 sebesar Rp500 juta. Namun Irwandi menolaknya. namun mereka menyepakati ada penambahan dari pagelaran sebelumnya.

“Akhirnya disepakati, hadiah juara pertama, Rp300 juta, runner up Rp200 juta dan juara 3 Rp 100 juta,” tutur Sakdan.

“Pak Irwandi mengusulkan nama kegiatan tersebut Tsunami Cup. Alasannya, dengan menggelar Tsunami Cup kita bisa dengan mudah mengajak timnas negara-negara yang terkena tsunami,” tuturnya.

Kala itu, dirinya dan juga Irwandi sudah memprediksi akan ada pro-kontra terkait nama tersebut. “Seperti yang disampaikan pak Irwandi di FB-nya, bahwa kita sejak awal sudah memprediksi itu. Untuk itu kita akan mengganti namanya, saya lupa namanya diganti apa. Pokoknya seperti yang disampaikan Pak Irwandi di FB,” jelasnya lagi.

Disinggung mengenai belum tersedianya sumber anggaran, namun panitia sudah bekerja selama tiga bulan lamanya, Sakdan mengakui hal itu tak menjadi masalah. Soalnya dia sudah memiliki SK kepanitiaan yang ditandatangani Irwandi.

Berbekal SK kepengurusan tersebut Sakdan bersama M Zaini mulai mempersiapkan kegiatan tersebut. Namun, M Sakdan Abidin mengakui tak seluruhnya anggaran Rp11 miliar untuk keperluan Tsunami Cup. Bahkan, pihaknya tak mengusulkan anggaran kegaiatan sebesar itu.

Setelah menuai kritik dan menjadi polemik, Sakdan sempat mempertanyakan kepada Kadispora Aceh Mursi Idris mengapa anggaran kegiatan tersebut membengkak hingga Rp11 miar? Padahal sejak awal pihaknya hanya mengusulkan sebesar Rp6 miliar. Saat itu Mursi menjelaskan kepadanya bahwa anggaran dalam kegiatan tersebut termasuk biaya renovasi infrastruktur sebesar Rp3,4 miliar.

Selain itu, menurut Sakdan, anggaran tersebut juga untuk Kompetisi Liga Aceh (K-Liga) sebesar Rp2,5 miliar. Lalu bantuan untuk klub sepakbola Aceh United Rp1,2 miliar dan even lainnya di bawah Dispora Aceh sebesar Rp1 miliar.

Dari kebutuhan Rp6 miliar anggaran yang dibutuhkan, lanjut dia, saat ini panitian hanya membutuhkan Rp3,5 miliar lagi untuk kegiatan tersebut. Pasalnya, kebutuhan tersebut telah ditutup dari sponsor dan kontrak dengan pihak televisi sebesar Rp3,7 miliar.

“Untuk lebih tepatnya bisa ditanyakan kepada Kadispora, beliau lebih berhak menjawab terkait peruntukan lainnya,” ujar Sakdan.

Sayangnya, Kadispora Aceh Mursi Idris tak bersedia menjawab saat ditanyakan perihal ini. Saat Pikiran Merdeka menghubunginya pada Sabtu pekan lalu, ia buru-buru mematikan ponselnya saat disinggung usulan program ini.

“Maaf ya, saya sedang rapat di gampong,” jawabnya saat ditanyakan usulan Tsunami Cup sebesar Rp11 miliar.

Sementara Ketua Umum Aceh United yang juga Pembina Panpel Tsunami Cup ini kepada Pikiran Merdeka, Sabtu pekan lalu, mengakui persiapan yang mereka lakukan dengan membentuk tim lokal dan tim Jakarta. Persiapan saat ini sudah mencapai 60 persen.

Secara teknis kegiatan diakui Zaini, pihaknya telah berkoordinasi dengan PSSI. Menurut dia, tim pusat bertugas melobi tim luar negeri dan juga sponsor, sedangkan tim lokal bertugas mempersiapkan segala sesuatu untuk kelangsungan turnamen tersebut, terutama fasilitas sarana. Namun ia tak merinci siapa tim pusat yang dia maksud.

“Hasil survei tim PSSI ke Stadion Harapan Bangsa ditemukan masih banyak yang harus dibenahi agar Timnas Jepang, Thailand dan Malaysia bersedia ambil bagian di Aceh. Tim sebesar mereka tentu punya syarat standar lapangan, sehingga kita meminta kepada Pemerintah Aceh (Dispora) untuk memperbaiki fasilitas yang belum ada di APBA-P 2017,” jawab M Zaini melalui pesan singkat yang ia kirimkan ke Pikiran Merdeka.

“Persiapan kita dengan tim lokal dan tim Jakarta sudah 60% terutama persiapan izin, sponsorship, lobi TV dan lain-lain. Sedangkan lapangan pertandingan kita tunggu dari Dispora untuk memperbaiki. Nilainya (renovasi) juga tergantung hitungan teknis dari Dispora Aceh,” tulisnya lagi.

Ia lalu menjelaskan bahwa turnamen internasional tersebut akan berlangsung tanggal 2 Desember 2017 bertepatan kunjungan Presiden Jokowi ke Aceh. “Kami berharap setelah RI-1 membuka Sail Sabang, kemudian RI 1 berkenan membuka turnamen ini,” jelasnya.

Ia lantas menceritakan mengapa pihaknya mememilih nama tsunami. Alasannya dengan nama tersebut akan muda “memancing” Timnas Jepang untuk ikut ambil bagian dalam turnamen ini.
“Tetapi kalau nama turnamen diubah maka besar kemungkinan Jepang mempertimbangkan tak ikut. Tapi kita, tim Jakarta berupaya maksimal mungkin agar Timnas Jepang tetap mau ikut,” sambungnya lagi.

Ia pun mengakui sejak awal dana yang dibutuhkan sebesar Rp6 miliar. Menurut dia, awalnya dana tersebut ditanggung sponsor. Namun, dalam perjalanan sponsor menolakmenanggung seluruhnya. “Kebutuhan dana untuk turnamen mencapai Rp6 miliar. Hal ini dikarenakan match fee, yakni uang pertandingan untukk timnas luar negeri yang relatif mahal.”

Zaini menilai turnamen ini sangat bermanfaat. Pasalnya, dengan turnamen ini akan membangkitkan kembali gairah sepak bola Aceh yang selama 5 tahun belakangan mati suri. Terutama tak pernah mengeglar event berskala besar.

“Sisi positif lainnya dari Tsunami Cup adalah untuk mempromosikan Aceh pada Internasional. Karena yang kita undang adalah timnas dari negara-negara sahabat. Nama Tsunami Cup kita ambil untuk lebih mengikat hubungan internasional antar negara yang pernah tertimpa tsunami,” ujar adik Gubernur Irwandi Yusuf ini.

Selain itu, menurut dia, kegiatan ini juga untuk membuktikan kepada dunia bahwa Aceh memiliki banyak sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan di Aceh. Melalui event itu diharapkan investor siap menanamkan modalnya di Aceh. “Ujung-ujungnya untuk kesejahteraan masyarakat Aceh ke depan. Dan sekali lagi ini hanya branding untuk dapat menarik minat investor,” tutup Zaini.[]

Komentar

AdvertisementPemutihan pajak Kenderaan di Aceh