Jernang asal Tangse, Kabupaten Pidie.(PM/Nurzahri)

Warga Tangse kini ramai-ramai membudidayakan jernang. Hasil pertanian mereka telah menembus pasar nasional dan internasional.

Siang itu, Burhan, warga Gampong Paloh Jeureula, Kota Bakti, Kabupaten Pidie, sibuk mempersiapkan perlengkapan berkebun. Pria berusia 30 tahun itu hendak berangkat ke kebun miliknya di kawasan hutan Tangse.

Ditemani seorang teman, ia bertolak dengan mobil yang dikendarainya. Perjalanan yang akan dilalui Burhan lumayan jauh. Dari rumahnya, ia harus menempu perjalanan sekitar 35 kilometer untuk sampai di Desa Paya Guci, Kecamatan Tangse. Dari sana, ia juga mesti menaiki jalan yang membelah puncak gunung sejarak 5 kilometer hingga tiba di lokasi lahan budidaya jernang, Gampong Blang Rimeh.

Pria dua anak itu memiliki lahan seluas 5 hektare yang semuanya ditanami pohon jernang. Sebagian pohon miliknya telah berusia kurang lebih tujuh tahun, sudah mulai berbuah dan siap panen. “Ada sekitar dua hektar yang sudah berbuah, sedang tiga hektare lainnya baru selesai saya tanami,” katanya.

Menurut dia, proses budidayanya juga tidak terlalu rumit. Hanya membutuhkan lahan kosong untuk ditanami jernang dengan jarak tertentu. “Dalam lahan seluas satu hektare bisa menampung sekitar 800 hingga 100 batang pohon jernang,” sebut Burhan.

Untuk satu bibitnya, lanjut dia, ditanami dengan jarak masing-masing empat hingga lima meter. “Semakin jarak antar satu dengan yang lainnya, makan akan semakin bagus tumbuh tanaman itu,” jelas Burhan.

Dia menambahkan, tanaman jernang sama seperti pohon tebu. Semakin lama bukan hanya memanjang, tetapi juga mengeluarkan anak-anaknya yang baru.

Jernang yang menyerupai buah rotan itu biasanya tumbuh di dataran tinggi atau daerah pegunungan. Tanaman tersebut memiliki buah yang dapat menghasilkan resin atau sari dari kulit buahnya. Sari itulah yang kemudian dijual ke pasar nasional maupun internasional.

“Biasanya membutuhkan waktu lima tahun, baru pohon jernang mulai berbuah. Buahnya kemudian ditumbuk untuk diambilkan sari,” kata Burhan.

Pantauan Pikiran Merdeka, pohon jernang berwarna merah manggis. Pada kulitnya mengandung sari yang konon akan dijadikan sebagai bahan obat-obatan. Harga sari buah jernang saat ini mencapai Rp4 juta per rkilogram. “Tapi tergantung kualitas bubuk sari yang telah diolah,” katanya.

Burhan menjelaskan, proses pengolahan buah jernang untuk bisa menjadi sari dilakukan dengan cara menumbuk buahnya yang masih bulat-bulat, sehingga menjadi bubuk yang berwarna merah. “Kalau masih mentah atau buah bulat-bulat sekarang harganya Rp350.000 per kilogram. Sedangkan kalau dalam bentuk bubuk yang kualitasnya super bisa mencapai Rp4 juta perkilogram,” jelasnya.

Umumnya, lanjut dia, sari buah jernang digunakan industri farmasi. Selain dijadikan bahan baku obat-obatan juga diolah menjadi bahan kosmetik.
Burhan mengisahkan, dirinya menjadi orang pertama yang membudidayakan jernang di kawasan Tangse.

“Itu saya lakukan sejak 2010. Setelah tahu caranya, sekarang ini sudah banyak warga setempat yang mengikuti jejak saya,” katanya.

Selain menukuni budidaya jernang, Burhan juga menjadi agen yang menampung seluruh jernang dari petani lain di kawasan itu. “Semua saya tampung, baik yang masih mentah maupun yang sudah ditumbuk menjadi bubuk,” katanya.

Sebelum menggandrungi budidaya tanaman itu, sekira 18 tahun yang lalu, dia sudah terlebih dahulu menjadi agen yang membeli jernang dari masyarakat yang kemudian dijual langsung ke luar negeri.

“Saat itu saya ikut abang saya, untuk mencari dan membeli jernang. Jernang yang saya tampung sekarang juga kebanyakan kami kirim ke Singapura. Kalau kami jual di medan harganya sering dipermainkan agen di sana,” akunya.

Proses pengiriman dilakukan dalam jumlah besar. Kalau sudah terkumpul bubuk sarinya di atas 100 kilogram, maka akan saya kirim langsung kepada pembeli di Singapore,” jelasnya.

Dalam 10 kilogram buah jernang, kata dia, hanya menghasilkan bubuk sari sekitar 3 kilogram. Untuk harganya, tambah dia, tergantung jumlah kadar sari jernang tersebut.

“Kalau kadarnya masuk kategori terbaik, harganya berkisar Rp4 juta per kilogram. Tapi jika kadar sarinya rendah, hanya Rp1,8 juta per kilogram,” tandas Burhan.[]

Komentar