Tandan Buah Segar kelapa sawit. Foto: ciputranews.com

PM, TAPAKTUAN – Dampak tingginya nilai tukar Rupiah terhadap dolar yang menyentuh ke level Rp 14.000/USD sejak beberapa bulan terakhir, mulai berimbas pada jatuhnya harga beberapa komoditas pertanian di Kabupaten Aceh Selatan, salah satunya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit.

Sejak tiga pekan terakhir ini, harga TBS kelapa sawit di Aceh Selatan turun drastis ke level Rp 600 per kilogram. Akibatnya, pendapatan petani sawit diwilayah itu juga ikut  menurun, sehingga mengakibatkan kalangan petani mengeluh.

Kondisi penurunan harga TBS mulai dirasakan petani sejak bulan Juli 2015, mulai dari Rp 1.400/kg terus terpuruk hingga Rp 650 sampai Rp 600 per kilogram yang dibeli oleh agen pengumpul.

“Harga jual TBS sebesar Rp 600/kg itu belum termasuk ongkos angkut, upah dodos dan lansir. Sehingga hasil akhir (bersih) yang diterima petani hanya senilai Rp 220 per kilogram,” ungkap Taufik Kamil, seorang petani Sawit di Gampong Cot Bayu Kecamatan Trumon Tengah, Minggu (30/8).

Menurutnya, merosotnya harga TBS menjadi Rp 600 per kilogram itu telah berdampak pada terpuruknya perekonomian para petani di daerah itu, karena pendapatan yang diterima saat ini jauh berkurang dari sebelumnya. Padahal, perkebunan kelapa sawit merupakan salah satu sumber pendapatan andalan masyarakat masyarakat setempat.

“Dengan kondisi saat ini, petani sawit di Aceh Selatan tidak mampu lagi menutupi biaya pemeliharaan dan perawatan kebun, apalagi untuk membeli pupuk non-subsidi yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanaman sawit harganya jauh melambung tinggi. Sementara, pupuk bersubsidi justru sangat sulit didapatkan di pasaran,” sesalnya.

Dia mengaku, selama ini hasil panen sawit di kebun miliknya berkisar antara 5 sampai 10 juta Rupiah/sekali panen, namun sejak kurs mata uang Rupiah melemah harga sawit jatuh.

“Pasca jatuhnya harga sawit, dalam sekali panen saya hanya menerima pendapatan antara 2-3 juta rupiah. Jumlah ini sangat tidak setimpal untuk kebutuhan hidup, perawatan tanaman sawit dan pembayaran setoran kredit ke bank serta biaya sekolah anak-anak,” ujarnya.

Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, sambungnya, kewajiban setoran kredit yang masih tersangkut dengan bank juga akan terancam tidak mampu dilunasi lagi sehingga ini benar-benar membuat petani di daerah itu gelisah.

“Saat ini sejumlah petani sawit di wilayah Trumon Raya sudah mulai memikirkan siasat untuk memperpanjang masa jatuh tempo kredit di bank, untuk menghindari eksekusi barang jaminan oleh pihak bank,” tegasnya.

Karena itu, pihaknya meminta kepada Pemkab Aceh Selatan dan Pemerintah Aceh serta Pemerintah Pusat segera mencari solusi untuk mengatasi persoalan itu. Sebab jika persoalan ini terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap perekonomian masyarakat setempat.

“Jika pihak Pemerintah tidak membantu petani, maka pemerintahan dinilai gagal karena pembangunan tanpa perbaikan ekonomi itu sama halnya nihil. Bagaimana mungkin menerapkan pembangunan dan peningkatan mutu pendidikan, jika perut rakyat lapar,” ungkapnya.

Pihaknya mengharapkan kepada Pemerintah dapat menormalkan kembali harga TBS seperti kondisi sebelumnya yakni minimal bisa bertahan di atas harga Rp 1.000 per kilogram, karena dengan harga sebesar itu besar kemungkinan para petani bisa lancar menyetor pinjaman ke bank sehingga tidak terlilit hutang serta hal lainnya menyangkut dengan kebutuhan perekonomian petani.

Selain harga TBS kelapa sawit, harga komoditi unggulan lainnya di Aceh Selatan seperti pala dan minyak nilam juga turut jatuh. Buah pala mentah ditampung pedagang seharga antara Rp 11.000 sampai 11.500 per kilogram. Sedangkan minyak pala ditampung sebesar Rp 380.000 per kilogram. Harga itu jauh kurang dari sebelumnya, di mana untuk pala basah mencapai Rp 40.000 per kilogram dan minyak pala mencapai Rp 1.100.000 per kilogram.

Sementara harga minyak nilam (atsiri) di pasaran saat ini, hanya bertengger pada level Rp 600.000 per kilogram. Harga komoditi unggulan tersebut sangat jauh turun dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 900.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Aceh Selatan, Ridwansyah SE yang dikonfirmasi melalui Kabid Perdagangan, Dermawan SE mengakui penurunan harga beberapa komoditas tersebut seperti sawit akibat melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar. Namun, secara detail duduk persoalan terkait turunnya harga komoditas tersebut belum bisa dijelaskan oleh pihaknya karena hal itu bukan kewenangannya.

[PM005]

Komentar