Pengaruh untuk Aceh dan Asia Tenggara

Recep Tayyip Erdogan merumuskan negara Turki Modern yang pada tahun 2023 menjadi kekuatan politik dan ekonomi nomor satu di dunia. Turki menyiapkan 300 ribu ilmuwan untuk penelitian ilmiah menuju tahun 2023, Yeni Turki atau Turki Baru.

Empat puluh satu tahun sudah Erdogan meniti karir politiknya dengan perjuangan intelektual. Tindakannya nyata dalam menerapkan ide untuk kebangkitan Turki. Erdogan adalah pemimpin yang murni dipersiapkan oleh bangsa Turki sendiri, bukan pemimpin boneka ciptaan kapitalis dunia seperti As-Sisi, raja-raja Arab, dan beberapa presiden di negara lain.

Penulis Yordan, Ihsan Al Faqih, di media Achahed, 26 Desember 2014, menyatakan ada 29 prestasi suami Emine Gülbaran ini. Beberapa darinya kita sebutkan di sini. Selama Erdogan memimpin Turki masuk ke dalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

Ayah Sümeyye ini membuat Turki memproduksi sendiri tank baja, pesawat terbang dan pesawat tempur tanpa awak, dan satelit militer modern pertama yang multi fungsi. Turki melunasi semua hutangnya dan Erdogan meminjami IMF sebesar 5 milyar dolar. Kini, cadangan devisa negara Turki sebesar 100 milyar dolar. Masih banyak lagi prestasi Erdogan.

Pengaruh Turki di Asia Tenggara dan Sejarah Lada Sicupak

Peneliti independen asal Istanbul, Dr Mehmet Ozay, di Banda Aceh, 7/8/2025, mengatakan bahwa membicarakan hubungan Turki dengan Asia Tenggara, berarti harus berbicara tentang Aceh.

Di dalam bukunya “Kesultanan Aceh dan Turki – Antara Fakta dan Legenda”, Mehmet Ozay menyatakan, ada sedikit catatan di Museum Turki yang menjelaskan, sekitar tahun 1565/1566 Masehi telah terjalin hubungan secara resmi antara Aceh dengan Turki.

Sultan Al Kahar Yang Agung dari Aceh Darussalam mengirim utusan ke Istanbul menemui Khalifah Turki Usmani Sultan Sulaiman Kanuni Yang Agung untuk membeli senjata dan mengundang beberapa ahli perang Turki ke Aceh.
Aceh saat itu tengah memerangi Portugal di Selat Melaka, dan rupanya mereka juga musuh Turki di Laut Tengah. Ketika utusan Aceh tiba, Sultan Kanuni tengah memimpin perang di Hongaria.

Persediaan lada dan emas permata yang dititipkan Al Kahar untuk khalifah telah dijual oleh utusan Aceh sendiri demi memenuhi biaya hidup selama menanti Sultan Kanuni kembali ke Istanbul. Mejelang dua tahun, terdengarlah kabar Sultan Agung itu telah syahid.

Diangkatlah khalifah baru, Sultan Selim II. Dialah yang menerima utusan Aceh dengan gembira. Walaupun utusan itu hanya memberikan hadiah berupa beberapa cupak lada yang tersisa, Selim II memenuhi permintaan Sultan Al Kahar. Aceh mengenal diplomatik ini dengan “Peristiwa Lada Sicupak”.

Meriam Lada Sicupak yang merupakan benda penting bukti hubungan Aceh dengan Turki, dapat dilihat di museum Belanda. Benda itu dirampas penjajah tersebut setelah menyerang Aceh pada 1873 Masehi. Orang Aceh harus membawa pulang meriam tersebut ke Banda Aceh.

Pakar perkembangan Asia Tenggara ini menjelaskan, ada beberapa kali kunjungan kenegaraan Erdogan ke kawasan ini, yaitu: tahun 2003 ke Malaysia, Februari 2005 ke Aceh untuk membantu korban smong (tsunami), Mei 2006 ke Indonesia, 2006 ke Malaysia. 2012 ke Indonesia, 2013 ke Singapura, 2014 ke Singapura dan Kuala Lumpur.

Pada Juli 2015 Erdogan ke Jakarta. Presiden Turki sempat menyebutkan perdamaian Aceh, namun Jakarta tidak menjadwalkannya ke Serambi Mekkah. Mengapa? Apakah pejabat Senayan takut kalau Aceh akan menyambut Erdogan lebih semarak dari presiden RI?

Sebagian besar umat Islam di Asia Tenggara mengidolakan Erdogan. Muslim di kawasan ini melihat seakan-akan Kekhalifahan Turki Usmani telah bangkit dari kuburnya melalui kepemimpinan Erdogan.

Kalau Erdogan mencanangkan program Yeni Turki 2023 dan berhasil menjalankannya dengan baik, bagaimana dengan Aceh Baru? Apakah sudah dicanangkan dan berhasil dijalankan? Aceh baru masih sebatas cerita dalam novel Aceh 2025 karya Thayeb Loh Angen.

Beberapa tahun lalu ada Konsorsium Aceh Baru dalam wacana politik para aktivis senior. Belum ada hasil membanggakan. Kita tidak perlu mengelu-elukan Erdogan, tapi mesti belajar pada kinerjanya, pada sikapnya. Kita harus belajar pada Erdogan, sebagaimana Al Kahar belajar pada Kanuni.

Beasiswa Negara Turki untuk Anak Aceh
Turki mengratiskan semua biaya kesehatan dan pendidikan di semua jenjang bagi seluruh penduduknya. Selain itu, negara ini memberikan beasiswa kepada mahasiswa di seluruh dunia melalui YTB (Yabanci Turkelar Basbakanlingi), sebuah departemen beasiswa di kantor Perdana Mentri Turki, sejak masa Erdogan.

Apabila ada anak Aceh yang berminat kuliah di Turki, boleh mendaftar di secara online di website  www.turkiyeburslari.org atau www.trscholarships.org. Ada aplikasi pendaftaran diberikan setiap pada setiap bulan Maret. Batas usia pendaftar beasiswa: S1 25 tahun, S2 30 tahun, dan S3 35 tahun. Utusan YTB akan ke Aceh dan menyeleksi langsung para peserta yang berhasil mendaftar di website.

Pada tahun 2015, hanya 16 orang yang bisa dites di Banda Aceh. Pendaftar tidak perlu bahasa Inggris. Bagi yang lulus tes akan mengikuti kursus bahasa Turki selama setahun sebelum mulai kuliah. Bagi yang terpilih, negara Turki menyediakan tiket pesawat berangkat, biaya hidup selama belajar di Turki, dan tiket pulang setelah belajar selesai.

Selain beasiswa untuk pelajar, negara Turki juga memberikan kesempatan untuk penelitian akademik selama enam bulan dalam bentuk kerjasama antara universitas berprestasi di Aceh dengan universitas di Turki. Di Aceh, informasi tersebut dapat diperoleh dari Pusat Kebudayaan Aceh dan Turki (PuKAT), E-Mail: [email protected]

Komentar