Masjid Agung At-Taqwa__Foto Dodiphotohob
Masjid Agung At-Taqwa_ (Foto Dodiphotohob)

Masjid Agung At-Taqwa, Kutacane, Aceh Tenggara, diresmikan penggunaannya. Dari total anggran pembangunan masjid Agung ini senilai Rp72 miliar, Pemerintah Aceh membantu Rp40 miliar.

Jumat, 8 April 2016, Mesjid Agung At Taqwa yang bisa menampung 4.000 jamaah, diresmikan penggunaannya. Di kesempatan itu, Gubernur Aceh dr Zaini Abdullah mengajak masyarakat untuk memakmurkan masjid. “Bukan hanya dengan melaksanakan ibadah, tapi juga menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan dan pemberdayaan masyarakat,” ajak gubernur dalam sabutan yang dibacakan Sekretaris Daerah Aceh Drs Dermawan MM.

Gubernur yang akrab disapa Doto Zaini ini menjelaskan, masjid bukan hanya dijadikan sebagai tempat ibadah kaum muslimin, tapi juga memiliki peran strategis dalam pertumbuhan peradaban umat Islam sebagai pusat pendidikan, terutama melalui perpustakaan yang ada di dalamnya.

“Secara pribadi dan selaku kepala daerah, saya mengucapkan selamat kepada masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, atas selesainya pembangunan masjid ini,” ucapnya.

Proses pembangunan masjid dengan gaya arsitektur minimalis modern itu memakan waktu selama enam tahun dan menghabiskan anggaran Rp72 miliar. Dari total anggaran tersebut, Rp40 miliar di antaranya merupakan bantuan Pemerintah Aceh. Sedangkan sisanya berasal dari sumbangan masyarakat dan APBK Aceh Tenggara.

Untuk pembangunan masjid yang didesain tahan gempa hingga 8,0 SR tersebut, Pemerintah Aceh mengucurkan dana secara bertahap sejak 2009 hingga 2015. Pada 2009 dibantu Rp10 miliar, pada 2010 dikucurkan Rp15 miliar, pada 2013 kembali dibantu Rp10 miliar, dan pada 2015 dikucurkan lagi Rp5 miliar.

“Dengan adanya masjid ini semoga dapat memacu perkembangan ilmu pengatahuan, dakwah dan syiar Islam di Aceh Tenggara dan sekitarnya,” sebut Doto Zaini.

Gubernur Aceh mengisahkan, di zaman Rasulullah bahkan ada Baitul Mal di masjid yang berfungsi untuk membangun perekonomian masyarakat dan kesejahteraan umat. “Melalui kegiatan-kegiatan di masjid, masyarakat mempunyai wadah untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang mengarah pada terwujudnya masyarakat madani,” paparnya.

Masyarakat madani yang dimaksud Doto Zaini yaitu sebuah masyarakat yang dituntun oleh wahyu ilahi dan bergerak dinamis sebagai masyarakat yang bahu-membahu, tolong-menolong, dan bekerja sama dalam membangun kesejahteraan.

“Semangat masyarakat madani seperti inilah yang kita harapkan selalu mengiringi kita dalam upaya memakmurkan masjid-masjid di wilayah kita, termasuk di Aceh Tenggara ini,” harapnya.

Doto Zaini juga berpesan agar masjid dengan luas lahan sekitar 1,5 hektare dan menampung 4.000 jamaah tersebut dapat dikelola dengan manajemen yang baik, sehingga masjid menjadi indah, terawat, dan mengundang orang ramai untuk berkunjung dan melakukan aktivitas keagamaan.

Ditegaskannya, kemakmuran sebuah masjid sangat tergantung pada bagaimana proses pengelolaannya dan pendayagunaannya. “Insya Allah, kita bermohon pada Allah semoga masjid ini dapat menjadi salah satu simbol penegakan syariat Islam di wilayah Aceh Tenggara,” harap Doto Zaini di penghujung sambutannya yang dibacakan Sekda Aceh.

Mesjid Agung At Taqwa didesain dengan memadukan arsitektur Turki dan adat alas. Terdapat satu menara induk dan empat menara kecil. Interiornya dipenuhi kaligrafi dan lampu-lampur gantung yang besar. Bentuknya minimalis, namun letaknya stretegis di tengah-tengah Kota Kutacane, Aceh Tenggara.

Berbagai sarana pendukung juga dibangun guna memudahkan jamaah beribadah dan melaksanakan aktivitas bermanfaat lainnya. Paling tidak, di komplek Mesjid Agung At Taqwa ini ada 10 fasilitas pendukung, mulai dari dua unit gapura, tempat wudhu, guest house, rumah imam besar, rumah muazzin, rumah staf UPTD, gudang, TPA (Taman Pendidikan Alquran), kantor, dan perpustakaan.

Dari halaman masjid ini, barisan gunung dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser pun terlihat menyejukkan mata. Tidak jauh dari bangunan masjid, ada tempat wudhu terpisah dengan bangunannya memiliki kubah-kubah mini.

Kini, Rumah Allah maha megah ini tidak saja menjadi kebanggan masyarakat bumi Meutuah Sepakat Segenap, tapi juga menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Aceh yang sedang menegak Syariat Islam secara kaffah di bumi Serambi Mekkah.[]

Komentar