Chik Lah memperlihatkan piagam penghargaan yang diterimanya tahun 1998.
Chik Lah memperlihatkan piagam penghargaan yang diterimanya tahun 1998.

Dari menjadi tentara Heiho ke pertempuran Medan Area. Ada pesan penting bagi bangsa Indonesia di balik kesunyian hidup mantan pejuang ini.

Pada 7 Maret 2016, sekitar pukul 14.00 Wib, sebuah rumah panggung beratap rumbia di Lorong Lambirah, Gampong Limo Mesjid, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, tampak sibuk namun hening. Beberapa orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Bukan untuk kenduri besar tapi untuk sebuah upacara kematian.

Seorang pejuang bangsa sudah berpulang. Teungku Abdullah Makam atau akrab disapa Chik Lah menutup usianya pada angka 91. Ia meninggal sebab suatu penyakit. Tidak ada iring-iringan tentara yang mengantar mantan tentara Heiho itu layaknya seorang yang sudah berjuang untuk negara. Paling mewah, berita meninggalnya disebarkan ke seluruh desa melalui mikrofon masjid sementara kerabat dekatnya mengirimkan pesan singkat pada saudara-saudara yang berada di luar desa.

Kisah perjuangan Chik Lah muncul seiring membuminya kebencian masyarakat Aceh terhadap penjajah. Hal ini disebabkan pemahaman orang Aceh terhadap ajaran Islam yang melarang penindasan. Terlebih adanya keinginan Jepang untuk mengusir penjajah Eropa dari Asia. Aceh bahkan sudah punya kontak dengan Jepang sejak 1940.

M Yunus Djamil, dalam bukunya Gerak Kebangkitan Aceh, menulis bahwa tokoh Aceh mengirim 8 utusannya pada 14 Februari 1942 ke pemimpin perang Jepang, guna memberi tahu agar Jepang segara masuk ke Aceh untuk membantu Aceh mengusir Belanda. Disusul pada 21 Februari 1942, berangkat lagi serombongan orang Aceh ke Pulau Pinang, Malaysia, atas utusan PUSA dan tiba pada 4 Maret 1942. Mereka diterima dengan baik oleh petinggi Jepang di Pulau Pinang. 

Kerjasama antara PUSA dengan militer Jepang berjalan mulus karena Jepang sedang mengobarkan perang untuk mengusir kolonialis Eropa dari Asia. Pada 1940 negosiasi antara Jepang dengan Aceh dimulai. Pasukan Negeri Sakura menguasai Penang pada 19 Desember 1941. Sehingga sejumlah orang Aceh bermukim di Penang melakukan gerakan politik kemerdekaan dengan dukungan Jepang.

Pihak Belanda pun kewalahan menghadapi Jepang yang dibantu orang Aceh. Peperangan hebat terjadi 14 hari di bagian utara Sumatera. Setelah itu, Jepang berkuasa di Aceh, lalu dibuatlah organisasi penting yaitu Kempetai (Polisi Rahasia Jepang) dan Heiho (Serdadu Pembantu) yang akan membantu Jepang dalam melawan Tentara Sekutu.

Heiho adalah pasukan yang terdiri dari warga pribumi, dibentuk berdasarkan instruksi Bagian Angkatan Darat Markas Besar Umum Kekaisaran Jepang pada 2 September 1942 dan mulai merekrut anggota pada 22 April 1943.

Heiho awalnya dimaksudkan untuk membantu pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, serta menjaga tahanan. Dalam perkembangannya, seiring semakin sengitnya pertempuran, Heiho dipersenjatai dan dilatih untuk diterjunkan di medan perang.

Salah satu Heiho di Aceh ialah Teungku Abdullah Makam atau dikenal Chik Lah. Ia lahir dari pasangan Ibu Cahya dan Bapak Makam di Gampong Limo Mesjid, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, pada 1925 ketika musim potong padi (dulu orang-orang mencatat hari kelahiran dengan menyebut musim).

Chik Lah pernah bersekolah di Sekolah Rakyat sampai kelas IV. Ketika usianya 17 tahun, ia “dijemput” paksa oleh Jepang untuk dijadikan tentara Heiho. Banyak orang Aceh yang dibawa ke Batalion Jepang di Seulimun, di tempat bekas asrama Belanda. Ke sanalah, Chik Lah dan pemuda Aceh lainnya yang berjumlah 150 orang dibawa.

Menurut Teungku Abdullah Makam, kriteria yang diambil untuk menjadi tentara Heiho di antaranya memiliki tinggi minimal 110 cm, berat badan 45 kg dan dites kesehatan. Semua tes itu dilakukan di Seulimum, yang tidak memenuhi persyaratan dipulangkan kembali ke kampung halaman. Setelah ikut pelatihan, mereka ditempatkan ke perbatasan Sumatera pada tahun 1943.

Satu keuntungan tersendiri menjadi tentara Heiho, kata Chik Lah, mereka mengetahui pusat-pusat penyimpanan senjata Jepang selain memiliki senjata sendiri sebagai seorang tentara. Begitu tersiar kabar Jepang kalah usai bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki pada 1945, para Heiho membawa pulang semua peralatan perang ke kampung halaman masing-masing.

Lima belas hari kemudian Chik Lah dipanggil kembali oleh Tengku Manyak Ulee Lheue untuk bergabung dalam perampasan senjata milik Jepang di sebuah perbukitan di Seulimum. “Jepang boleh pergi, tapi senjata tidak boleh berpindah tempat”. Demikian semangat yang berkembang ketika Jepang angkat kaki dari Indonesia.

Saat itu, kelompok Chik Lah berhasil mengambil 150 pucuk senjata, 2 meriam dan 6 kg mesiu. Meriam dan senjata ini kelak digunakan dalam perang Cumbok, membantu pasukan Ulama melawan kaum Uleebalang.

Chik Lah juga ikut dalam pertempuaran Medan Area, di bawah komando Daud Beureueh. Perang tersebut sangat berkesan baginya. Sekitar delapan bulan, ia turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Petempuran kemudian terhenti karena pihak Sekutu dan Indonesia (di bawah Presiden Soekarno) membuat perjanjian yang diprakarsai oleh Komisi Tiga Negara hingga lahirlah garis Reformasi. Namun Sekutu melanggar pejanjian itu dan menyerang pasukan Daud Beureueh hingga harus mundur dari Medan Area.

Pada 1953, Daud Bereueh membentuk Tentara Islam Indonesia atau yang lebih dikenal DI/TII karena kecewa terhadap Soekarno yang tidak melaksanakan otonomi daerah berdasarkan keputusan Presiden, bahkan Soekarno meleburkan Provinsi Aceh ke dalam Sumatera Utara. Hal ini menyebabkan Daud Bereueh bentuk tentara Islam dan Chiek Lah salah seorang tentaranya.

Tapi Chik Lah menyerah sebelum pasukan Daud Beureueh berhasil dibujuk Pusat untuk menyerahkan diri. Ia lelah berperang. Chik Lah kemudian pensiun sebagai tentara pejuang kemerdekaan dan kembali melanjutkan hidup bersama keluarga di Gampong Limo Mesjid dengan tunjangan pensiun. Chik Lah baru menikah pada 1957 dengan Halimah dari desa yang sama.

Pekerjaan sehari-hari dilakoni Chik Lah sebelum meninggal adalah berkebun dan beternak kambing. Sebanyak 150 orang (termasuk Chik Lah) mendapat penghargaan sebagai anggota cikal bakal TNI pada tahun 1998.

“Dulu kami tidak menginginkan apa-apa kecuali merdeka, melihat kudis, busung lapar. Tidak sempatlah kami berfikir untuk kejayaan diri sendiri, yang kami tahu hanya berbuat untuk negara,” ujar alm Chik Lah, saat saya mewancarainya pada 23 Maret 2013 dan 11 Mei 2014.

Chik Lah juga mengemukakan harapannya agar generasi muda terus mencari sejarah perjuangan orang terdahulu dan memperhatikan nasib para pejuang kemerdekaan. Ia pun berpesan agar generasi muda mempersiapkan diri dengan baik hingga menjadi seorang insan yang didambakan umat untuk menjadi pemimpin yang peduli.[]

*Nita Juniarti berasal dari Aceh Barat Daya. Alumnus Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam UIN Ar-Raniry. Email: nitajuniarti@rocketmail.com

Komentar