Didera Bencana Alam, Aceh Catat Inflasi Tertinggi se-Nasional

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi 140619 andri
Ilustrasi ekonomi [Ist]

PM, Banda Aceh – Provinsi Aceh menutup tahun 2025 dengan menempati peringat tertinggi inflasi bulanan, seperti dicatatkan Badan Pusat Statistik (BPS) dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta pada Senin (5/1/2026).

Aceh dalam laporan BPS dinyatakan sebagai provinsi dengan tingkat inflasi bulanan tertinggi di Pulau Sumatera sekaligus secara nasional pada Desember 2025, dengan angka menyentuh level 3,60 persen.

Angka ini disebut-sebut terpaut sangat jauh dibandingkan rata-rata wilayah lainnya di Indonesia.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa fenomena kenaikan harga terjadi secara serentak di seluruh penjuru negeri.

Dari 38 provinsi di Indonesia, tidak ada satu pun wilayah yang mencatatkan deflasi. Namun, posisi Aceh menjadi yang paling mencolok karena lonjakannya yang drastis, sementara Maluku Utara berada di posisi terendah dengan inflasi hanya sebesar 0,05 persen.

Tingginya angka inflasi di Aceh ini berbanding lurus dengan kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut di penghujung tahun. Lonjakan harga ini dipicu oleh gangguan pada sektor produksi pangan akibat faktor alam.

Pada akhir November 2025, wilayah Sumatera diterjang oleh bibit Siklon Tropis 95B yang berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar, serta diperparah oleh pengaruh Siklon Tropis Koto.

“Kombinasi fenomena siklon tersebut meningkatkan intensitas curah hujan secara ekstrem di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” ujarnya.

Akibatnya, rentetan bencana hidrometeorologi tak terhindarkan, yang kemudian mengganggu waktu tanam, merusak pola panen, hingga memutus jalur distribusi komoditas pangan dan hortikultura.

Hal itu yang dianggap telah mendorong harga-harga kebutuhan pokok di Aceh merangkak naik melebihi daerah-daerah tetangganya.

Kondisi ini juga mencerminkan anomali iklim yang terjadi sepanjang tahun 2025. BPS mencatat bahwa Indonesia mengalami kemunduran awal musim kemarau yang cukup signifikan.

Hingga awal Juni 2025 saja, baru sekitar 19 persen wilayah yang memasuki musim panas, sementara mayoritas wilayah lainnya, termasuk Aceh, masih terus diguyur hujan menengah hingga tinggi.

Pola cuaca yang menyimpang dari kondisi normal ini akhirnya memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi daerah, khususnya dalam menjaga ketersediaan pangan di pasar. []

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gubernur Aceh Muzakir Manaf menerima dokumen hasil pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Aceh tahun 2024 dari Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh, Supriyadi, di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Selasa (8/4/2024). Foto: Humas Pemerintah Aceh.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf menerima dokumen hasil pemeriksaan laporan keuangan Pemerintah Aceh tahun 2024 dari Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh, Supriyadi, di Gedung Serbaguna Kantor Gubernur Aceh, Selasa (8/4/2024). Foto: Humas Pemerintah Aceh.

Gubernur Terima Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan dari BPKP

IMG 20231027 WA0021 1050x525
Sekda Aceh, Bustami, SE, M.Si, didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Ir. Mawardi, dan Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal, S.STP, M.Si, saat memimpin rapat persiapan pelaksanaan PKA VIII di Gedung Serbaguna Setda Aceh, Banda Aceh, Jumat (27/10/2023).

Ini Ragam Agenda Atraksi Seni Budaya Dalam Pekan Kebudayaan Aceh Ke-8